FEATURE
Bukan Pisang Bakar Biasa, Mengenal Pisang Gapit Khas Kaltim yang Manis Legit
Pisang Gapit yang jadi kuliner lokal khas Kaltim, bukan pisang bakar biasa. Rasanya manis legit dan masih menjadi primadona makanan tradisional bagi masyarakat. Yuk kenalan lebih lanjut!
Juka berkunjung ke Kalimantan Timur, khususnya Samarinda atau Balikpapan, rasanya belum lengkap tanpa mencicipi Pisang Gapit. Di antara deretan kuliner tradisional yang memadati kota, jajanan satu ini punya tempat tersendiri.
Meski kini populer sebagai salah satu ikon kuliner Kaltim, Pisang Gapit sejatinya merupakan warisan kuliner khas masyarakat Banjar (Kalimantan Selatan) yang telah menyebar dan menjadi primadona di seluruh penjuru Borneo.
Meski sekilas terlihat sederhana, Pisang Gapit menawarkan kekayaan rasa dan tekstur yang membuatnya tetap memikat, bahkan di tengah gempuran tren makanan kekinian yang silih berganti.
Seni Menggapit dan Aroma Arang
Sesuai namanya, “gapit” berasal dari bahasa Banjar/lokal yang berarti jepit. Proses pengolahannya memiliki teknik khusus yang membedakannya dengan pisang bakar biasa di daerah lain.
Bahan utamanya adalah pisang kepok tua atau warga lokal biasa menyebutnya sebagai pisang sanggar. Jenis pisang ini cocok karena teksturnya yang padat dan tidak mudah hancur saat proses jepit.
Prosesnya, membakar pisang setengah matang di atas bara arang, kemudian dipipihkan menggunakan alat penjepit dari papan kayu. Proses penjepitan ini bukan tanpa alasan; selain membentuk fisik pisang menjadi pipih melebar, teknik ini membantu memecah serat pisang agar saus bisa meresap sempurna ke bagian dalam.
Penggunaan arang tempurung kelapa juga menjadi kunci. Asap pembakaran memberikan aroma smokey yang khas, sementara panas baranya menciptakan lapisan karamel alami di permukaan pisang yang sedikit gosong. Sensasi crunchy di luar namun lembut di dalam inilah yang menjadi daya tarik utamanya.
Kuah Kinca: Jiwa dari Sajian
Jika pisang adalah tubuhnya, maka saus kinca adalah nyawanya. Pisang Gapit tidak tersaji kering, melainkan “berenang” dalam kuah kental berwarna kecokelatan. Saus ini teresep dari gula aren (gula merah) kualitas terbaik, santan kental, dan simpul daun pandan.
Keseimbangan rasa sangat menjadi poin perhatian di sini. Rasa manis dari gula aren harus berpadu harmonis dengan gurihnya santan, sehingga tidak menimbulkan rasa eneg saat menyantapnya. Tekstur sausnya pun dibuat kental dan glossy, melapis cantik di atas permukaan pisang yang hangat.
Untuk menambah dimensi rasa, mayoritas pedagang menambahkan potongan buah nangka atau durian ke dalam saus kincanya. Potongan nangka memberikan tekstur renyah dan aroma wangi yang segar, sementara varian durian menawarkan rasa yang lebih creamy dan legit.
Kuliner Wajib Rame-Rame
Menikmati Pisang Gapit paling pas dilakukan bersama keluarga atau sahabat dan orang terkasih. Menyantap seporsi pisang hangat dengan kuah manis gurih berbarengan dengan perbincangan hangat, memberikan pengalaman kuliner yang menyenangkan.
Harganya yang terjangkau membuat jajanan ini bisa dinikmati semua kalangan. Dari warung sederhana di pinggir jalan, Pisang Gapit membuktikan bahwa cita rasa tradisional yang diolah dengan ketekunan akan selalu punya tempat di lidah penikmatnya. Bagi pelancong, ini adalah definisi rasa otentik tanah Bumi Etam yang pantang untuk melewatkannya. (ens)
-
PARIWARA3 hari agoAldi Satya Mahendra Targetkan Podium di Seri 2 World Supersport Portimao
-
EKONOMI DAN PARIWISATA21 jam agoQRIS Meledak di Kaltim! Pengguna Tembus 859 Ribu, Uang Rp2,9 Triliun Mengalir ke Bank
-
PARIWARA10 jam agoClassy Fun Day Experience: Performa Skutik Classy Yamaha Sukses Buktikan Keunggulannya di Jalur Pegunungan
-
SAMARINDA3 hari agoArus Balik Lebaran 2026, Samarinda Dipadati Kendaraan, Polisi Berlakukan Rekayasa Lalu Lintas
-
SAMARINDA2 hari ago30 Siswa SMAN 10 Samarinda Raih 84 LoA dari Kampus Luar Negeri
-
EKONOMI DAN PARIWISATA3 hari agoKunjungan Museum Mulawarman Meningkat Saat Lebaran
-
BALIKPAPAN1 hari agoKomisi I Terima Laporan Harga LPG 3 Kg Melonjak di Balikpapan Saat Ramadan
-
KUTIM2 jam agoRatusan Jiwa Terdampak Kebakaran Batu Timbau

