Connect with us

OPINI

CATATAN: Taman Samarendah: Pengaburan Sejarah?

Published

on

Taman Samarendah
Taman Samarendah dibangun di atas lahan yang memiliki banyak sejarah dari masa ke masa. (IST)

Taman Samarendah lagi-lagi ‘digugat’. Bagi para pemilik nostalgia, penamaan ‘Samarendah’ tidak hanya melukai kenangan mereka. Namun juga bentuk nyata dari pengaburan sejarah.

Bagi generasi teranyar, Taman Samarendah barangkali dianggap sebagai taman tengah kota. Tempat bersantai atau lari-lari kecil di kala senja. Atau, sebagai taman tengah kota yang bermandikan cahaya saat malam tiba.

Bagi orang ‘luar’, Taman Samarendah barangkali dianggap sebagai landmark. Yang kalau sudah berfoto dengan latar tulisan Taman Samarendah. Berarti sudah berkunjung ke Kota Samarinda.

Namun bagi alumni SMPN 1 dan SMAN 1 Samarinda. Bagi pemuda sekitaran Milono. Taman itu telah merenggut kenangan indah mereka. Lebih dari itu, Taman Samarendah adalah bentuk nyata dari pengaburan sejarah panjang yang terjadi di Samarinda.

Ya, jauh sebelum Samarinda berkembang sebagai kota metropolitan. Kawasan ‘Taman Samarendah’ sudah lebih dulu eksis. Ia adalah saksi tak bernyawa dari kependudukan kolonial Belanda di Bumi Etam. Ia adalah saksi presiden pertama dan kedua RI berpidato untuk pertama kalinya di Samarinda. Ia adalah saksi berdirinya SMA pertama di Kaltim. Dan dulunya, ia adalah Pemuda, bukan Samarendah.

Fajar Alam, seorang akademisi, pakar geologi, pegiat sejarah lokal, serta cucu ponakan dari Mbah Legiman, saksi langsung pergeseran fungsi lokasi itu dari masa ke masa. Membuat sebuah catatan. Yang menggambarkan betapa bersejarahnya kawasan itu.

Berikut adalah catatan Fajar Alam yang Kaltim Faktual terima. Berupa tulisan utuh dengan sedikit suntingan, menyesuaikan kaidah PUEBI. Selamat membaca.

***

Taman Samarendah adalah taman yang ada di lokasi yang sebelumnya merupakan komplek sekolah menengah dan komplek lapangan, di Jalan Bhayangkara, Kota Samarinda.

Komplek sekolah dan lapangan, hilang untuk satu alasan: dijadikan taman! Ada bangunan SMP Negeri 1 dan SMA Negeri 1, serta beberapa lapangan olah raga: lapangan bola, lapangan voli, dan lapangan basket. Alumni lama, resah. Alumni baru, gelisah. Sekolah berpindah. Anak-anak dan remaja pasrah. Sarana olahraga gratis, musnah.

Taman Samarendah merupakan kawasan yang berupa dataran rawa dengan perbukitan ada pada tepi kawasan. Perbukitan ada sisi barat Taman Samarendah, dengan punggungan memanjang relatif berarah utara–selatan.

Bebatuan yang ada pada kawasan perbukitannya berupa perselingan batulempung dan batupasir dengan sisipan batubara. Keberadaan tanah terbuka berupa rawa, sudah tidak bisa ditemukan di kawasan ini. Beralih menjadi infrastruktur perkantoran, pertokoan, perumahan dan, badan jalan.

Kawasan Taman Samarendah sejatinya adalah kawasan dengan runtutan sejarah beragam. Peta kota besutan kurun tahun 1940-an menginformasikan pemanfaatan kawasan ini sebagai rumah sakit perusahaan batubara Oost Borneo Maatschappij (OBM) serta asrama polisi.

Rumah sakit ini kemudian pada tahun 1947 beralih menjadi Sekolah Menengah Pertama dan sebagian bangunan asrama polisi yang alih fungsi jadi asrama pelajar, difungsikan sebagai Sekolah Menengah Atas pada tahun 1953.

Baca juga:   Borneo FC Segera Terapkan Diet Makanan, Pemain Gak Bebas Makan Gorengan Lagi

Sisa lain dari bangunan asrama polisi, menjadi kawasan kantor polisi hingga kini, berbagi ruang dengan kantor organisasi perangkat daerah lainnya.

Keberadaan rumah sakit OBM di Samarinda, berikut kantor (perwakilan) perusahaan di Samarinda (Thoma Linblad, Antara Dayak dan Belanda : Sejarah Ekonomi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan 1880—1942) adalah bagian dari perkembangan perekonomian kerajaan Kutai Kertanegara. 

Belanda (melalui Jacobus Hubertus Menten) mendapatkan izin pertambangan batubara dari Sultan Aji Muhammad Sulaiman pada kurun 1880-an. OBM kemudian mengembangkan beberapa blok penambangan batubara hingga membangun infrastruktur kota tambang di Loa Kulu, 35 kilometer berkapal ke sisi hulu dari Samarinda.

Masih di masa koloni Belanda, ada rumah sakit lain yang dibangun oleh “The Koninklijke Nederlandsche Maatschappij tot exploitatie van oliebronnen” atau perusahaan (milik) kerajaan Belanda untuk eksploitasi sumur minyak pada tahun 1906 (bukan 1933) di Emma Straat atau jalan Emma, yang kini bernama Jalan Gurami, dengan nama “Landschap Hospital”. Landschap berarti kesultanan 1.

Sementara, di Loa Kulu pun didirikan layanan kesehatan dalam bentuk bangunan permanen lengkap dengan dokter dari Eropa. Bangunan ini oleh masyarakat disebut sebagai Rumah Sakit Belanda, dan sebagian bangunannya masih lestari sampai saat ini sebagai Puskesmas Loa Kulu.

Mengapa OBM sampai membuat lebih dari satu unit pelayanan kesehatan di masa lalu, belum sepenuhnya dipahami. Namun dengan adagium “present is the key to the past” yang populer di dunia geologi, bisa diperkirakan bahwa rumah sakit yang ada di Loa Kulu ini untuk mengakomodir pekerja yang ada di sekitar blok penambangan Loa Kulu.

Sementara yang di Samarinda untuk mengakomodir pekerja yang ada di sekitar blok penambangan Samarinda (Selili-Damar, Karang Asam, Teluk Lerong, Batu Panggal, Loa Janan) serta koloni Eropa yang ada di Samarinda.

Seperti halnya klinik kesehatan atau rumah sakit kecil yang ada di perusahaan pertambangan batubara yang beraktivitas pada kawasan terbatas, jauh dari perkotaan.

Sebagian informasi situasi silam kawasan ini, saya peroleh dari sosok bernama Muhammad Legiman. Beliau adalah paman dari bapak saya, yang saya sapa sebagai Mbah. Beliau kelahiran Loa Kulu, tahun 1943. Orang tua beliau hijrah dari Magelang ke Loa Kulu, karena menjadi pekerja tambang OBM sejak tahun 1920-an.

Tekad tinggi untuk belajar, menghantarkan beliau menjadi pelajar Sekolah Menengah Pertama Samarinda, dan menempati asrama pelajar selepas lulus Sekolah Rendah di Loa Kulu.

Baca juga:   Duka Kanjuruhan, Lintas Suporter Samarinda Nyalakan Seribu Lilin dan Doa Bersama

Beliau menjadi saksi ketika koloni Belanda berpamitan dari Loa Kulu pada 1949, sebagai penaatan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tanggal 27 Desember 1949. Ada pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat dan Belanda harus pergi dari Tanah Air. Anak-anak berbaris di Lapangan Loa Kulu (kini menjadi kawasan rumah masyarakat) membawa gelas seng masing-masing, menunggu giliran dituang air limus oleh tuan-tuan Belanda yang akan pergi. Semacam salam perpisahan.

Mbah Legiman yang menghabiskan masa remajanya di Samarinda untuk SMP dan SMA Negeri Samarinda menuturkan, bagaimana persiapan pemerintah daerah saat itu. Untuk menyambut Presiden Soekarno yang akan berpidato di tanah terbuka depan SMP dan SMA Negeri Samarinda.

Selepas pesisir timur Kalimantan disahkan sebagai provinsi baru bernama provinsi Kalimantan Timur berdasarkan UU No.25 Tahun 1956 dan diresmikan pada 9  Januari 1957. Tanah terbuka di depan sekoah tersebut, merupakan rawa yang harus disiapkan sedemikian rupa sehingga masyarakat bisa berkumpul dengan nyaman. Tanah dari tempat lain digunakan untuk menguruk kawasan berair yang ada.

Willem Oltmans (Oltmans, 2001), pria Belanda yang banyak mendampingi Presiden Soekarno pada berbagai kegiatan bertutur, bahwa ia diajak naik panggung sewaktu Presiden Soekarno pidato di Samarinda pada tahun 1957. Pengakuan Oltmans ini terkonfirmasi dengan video YouTube: ‘Willem Oltmans, The Eight Million Dollar Man” (https://www.youtube.com/watch?v=cb6-HgBLMFo) yang menunjukkan dua foto sewaktu Oltmans bersama Presiden Soekarno di panggung.

Ada foto tampak punggung dengan latar tiang gawang dan bukit di latarnya. Mirip dengan situasi Lapangan Pemuda ketika belum digusur, ketika dipandang dari sisi rumah dinas Wakil Gubernur Kalimantan Timur.

Presiden Soeharto pada 20 Oktober 1968, di awal masa kepemimpinannya yang dilantik pada 27 Maret 1968, meluangkan waktu untuk berpidato pada rapat umum yang dilaksanakan di Lapangan Pemuda 2.

Menandaskan pentingnya peran Lapangan Pemuda, sehingga Presiden Soeharto, 7 bulan setelah dilantik menjadi presiden, perlu untuk mengulang apa yang dilakukan oleh pendahulunya, Presiden Soekarno. Untuk berorasi di tempat yang sama, di hadapan masyarakat Kota Samarinda saat itu.

Di hadapan para pemuda, penggerak perekonomian negara dan masa depan Indonesia. Undang-undang nomer 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan memberikan batasan yang disebut pemuda sebagai anggota masyarakat yang berusia 16 tahun hingga 30 tahun. ‘Pemuda (Youth)’ didefinisikan WHO sebagai individu-individu yang berusia 15-24 tahun3.

Berita yang menyebutkan bahwa PBB mengeluarkan kriteria baru, usia 18–65 tahun masuk dalam kategori pemuda, adalah berita dusta.

Lapangan Pemuda yang kemudian digunakan sebagai sarana bermain sepak bola, rupanya telah dimitigasi oleh pengelola atau pemerintah setempat. Karena acapkali tetap digunakan meski sedang hujan.

Baca juga:   Business Matching Kaltim-Sabah; Menuju Era Baru Ekspor Perikanan

Sehingga kemudian pada dinding turap perkantoran kawasan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Samarinda dan organisasi perangkat daerah lain di barat Lapangan Pemuda, ada 3 tulisan yang sama, bertuliskan LAPANGAN BOLA PEMUDA.

Satu tulisan berbeda, dekat dengan akar dari pohon beringin yang ada di tembok turap tersebut, bertuliskan HUJAN/ BECEK DILARANG MAIN. Tulisan tersebut telah ditutup dengan cat sehingga tak tampak lagi.

Banyak sekali jejak sejarah Lapangan Pemuda, berikut kawasan sekitarnya. Penggunaan pilihan Taman Samarendah, jauh dari tepat. Mengutip seloroh seorang kawan, Yustinus Sapto Hardjanto, Taman Samarendah bak pot kembang raksasa. Tanah diuruk pada kawasan yang dibatasi tembok sehingga untuk bisa berjalan keliling taman harus menapak undak tangga. Tidak sama rendah dengan jalanan berbahan blok paving, yang kadangkala tergenang air ketika hujan cukup deras melanda.

Penamaan taman tersebut sebagai Taman Samarendah, membuatnya ahistoris. Maka, selayaknya kegundahan para alumni yang pernah menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 dan SMA Negeri 1 Samarinda yang hanya berseberangan jalan dengan Lapangan Pemuda, menjadi perhatian bersama.

Taman Samarendah, selayaknya bernama Taman Pemuda. Taman yang menjadi simbol kemajuan kota, yang meneruskan semangat pembaruan para pemuda dalam membangun wilayahnya, pada kawasan yang sebelumnya ada lapangan dengan nama Lapangan Pemuda.

Sejarah bukanlah sekadar nostalgia mengenang masa lalu. Sejarah adalah rangkaian peristiwa masa lalu yang menjadi dasar dan pembelajaran bagi bangsa untuk perencanaan pembangunan masa kini dan mendatang demi kemajuan bangsa. (*)

Pranala

1 https://historicalhospitals.com/general-hospitals-company-hospitals/ind-hosp-samarinda/

2 https://www.hmsoeharto.id/2015/07/1968-10-20-presiden-soeharto-rapat-umum.html

3 https://www.un.org/development/desa/youth/world-youth-report.html 

Tentang Penulis

Fajar Alam kini aktif sebagai pengajar sekaligus Ketua Program Studi Teknik Geologi di Universitas Muhamadiyah Kalimantan Timur (UMKT) Samarinda. Di luar keahliannya sebagai geolog. Fajar juga menggeluti sejarah lokal, terutama yang memiliki relevansi dengan kebatuan atau unsur geologi lainnya. Ia juga penyuka jalan-jalan, makan, dan jajan. Ikuti penulis dengan klik ini.

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Kaltim Faktual menerima kiriman artikel dari pembaca. Baik karya tulis feature, opini/catatan hingga artikel maupun informasi berita. Kirimkan karya Anda disertai identitas lengkap dalam format word, melampirkan file foto berformat landscape, melalui kontak kami (kontak@kaltimfaktual.co atau Whatsapp) dengan subject sesuai dengan karya tulis Anda. (ARTIKEL/OPINI/INFORMASI). Kami harap, karya Anda bisa memenuhi unsur tagline kami: Mengabarkan, Menginspirasi, Menyenangkan.

Catatan: Hak penerbitan menjadi keputusan redaksi. Tulisan yang terbit telah melalui penyuntingan redaksi tanpa mengurangi maksud pesan penulis. Semua materi tulisan merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi Kaltim Faktual tidak mewakili isi tulisan opini penulis.

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.