SEPUTAR KALTIM
Dari FGD Pendidikan (Bagian 1): Daerah 3T Kaltim Kekurangan Guru Penggerak
Melihat kebutuhan, daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) Kaltim memerlukan lebih banyak guru penggerak. Jika terus bergantung pada program Kementerian, kebutuhan itu tak akan terkejar.
Sebuah Forum Group Discussion (FGD) bertema Peningkatan Sebaran Pendidikan Berkualitas: Merumuskan Konsensus Pemerintah, Sekolah, dan Guru di Provinsi Kalimantan Timur. Mengambil satu kesimpulan besar. Yakni ekosistem pendidikan di Kaltim harus lebih ditumbuhkan. Sehingga memerlukan lebih banyak guru penggerak.
Direktur Utama Synergy Policies Dinna Prapto Raharja, selaku tuan rumah FGD yang diikuti 10 stakeholder kependidikan, pada 8 November 2022. Mengatakan bahwa guru penggerak memiliki peran vital untuk meningkatkan level pendidikan di sekolah. Terutama di sekolah yang berada di kawasan 3T.
Kelenturan teknik ajar berbasis teori dan praktik, serta tuntutan untuk kreatif dan inovatif. Sebagai upaya menstimulasi keaktifan murid dan guru. Adalah kelebihan atribut yang dimiliki oleh guru penggerak.
Di Kaltim, terutama di daerah 3T seperti Kabupaten Berau, Mahakam Ulu, dan Kutai Barat. Yang hingga kini masih memiliki keterbatasan fasilitas, bahkan guru mata pelajaran. Keberadaan guru penggerak menjadi solusi cepat untuk melakukan percepatan peningkatan pendidikan.
“Faktor penting adalah tersedianya narasumber praktik, baik kegiatan berbasis implementasi Kurikulum Merdeka, serta terbentuknya komunitas belajar agar lebih merata sebarannya,” ungkap Dinna.
“(Karena itu) Program Guru Penggerak agar tahun depan targetnya terus ditingkatkan jumlahnya,” lanjutnya.
Untuk diketahui, Program Guru Penggerak adalah semacam beasiswa pendidikan untuk guru dari berbagai tingkatan. Yang digelar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI. Di mana guru yang mengikuti program ini harus melakukan semacam ‘kurikulum’ khusus selama 9 bulan.
Karena merupakan program nasional, sehingga kuotasenya pun terbatas. Tidak selaras dengan keperluan di daerah. Terutama di kawasan 3T yang jaraknya jauh dari pusat pemerintahan provinsi.
Untuk itu, peserta FGD tersebut memberi saran agar pemerintah daerah bisa ambil andil dalam penyediaan guru penggerak.
“Kolaborasi antar guru dengan kepala sekolah, sekolah dengan dunia usaha dan mitra pembangunan dengan dinas bisa berlangsung meskipun tanpa anggaran. Jadi ini tekadnya adalah tekad kolaborasi,” kata Dinna.
Sebagai langkah alternatif, peserta FGD tersebut memberi usul. Bahwa untuk mendukung Program Guru Penggerak, pendidik yang sudah dilatih oleh Tanoto Foundation bisa diajak terlibat menjadi aktor dalam Program Guru Penggerak.
Lantas, bagaimana tanggapan Pemprov Kaltim terkait isu ini? Nantikan lanjutannya besok. (DRA)
-
POLITIK5 hari agoDPRD Kaltim Siapkan Tindak Lanjut Temuan BPK, Dari Beasiswa Gratispol hingga Kredit Produktif Bankaltimtara
-
SAMARINDA4 hari agoUtang Pemkot Samarinda Rp400 Miliar, Andi Harun Alihkan 80 Persen APBD 2026 untuk Bayar Kewajiban
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoWujud Kepedulian, Rudy Mas’ud Serahkan Sapi Kurban untuk PWI Kaltim
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoKaltim Raih Penghargaan Nasional, Sekolah Swasta Diakui Jadi Mitra Strategis Pendidikan
-
POLITIK4 hari agoAduan Etik Masuk BK DPRD Kaltim, Reza Singgung Pentingnya Adab dalam Politik
-
OLAHRAGA2 hari agoAldi Satya Mahendra Bidik Hasil Impresif di World Supersport Aragon
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoIduladha di Islamic Center Samarinda, Rudy Mas’ud Serahkan Bantuan Kurban Presiden RI
-
POLITIK4 hari agoHak Angket DPRD Kaltim Tetap Jalan, Gerindra Bantah Ada Konflik Rudy Mas’ud dan Seno Aji

