Connect with us

SAMARINDA

ETLE Terbukti Efektif Jaring Pelanggaran di Samarinda, tapi Punya Beberapa Kelemahan

Published

on

etle
Sistem ETLE yang terletak di Simpang Muara Samarinda, terbukti efektif, namun masih punya kekurangan. (Nisa/Kaltim Faktual)

Sudah 10 ribu pelanggar lalu lintas di Samarinda terjaring razia oleh ETLE selama 11 bulan terakhir. Membuktikan bahwa teknologi ini efektif dan memudahkan kerja aparat. Namun sistem ini tetap punya kelemahan. Namanya juga mesin.

Sejak Februari lalu, Polresta Samarinda telah memberlakukan tilang eletronik berbasis kamera alias Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE). Dengan model statis, terletak di dua titik, yakni di Simpang 4 Lembuswana, dan Simpang Muara, Jalan Slamet Riyadi. Kini jumlahnya sudah bertambah.

Lalu pada bulan Juli-nya. Polresta Samarinda semakin memperkuat pantauan pelanggaran lalu lintas melalui ETLE dengan menambah 10 unit kamera. Namun dengan model patroli petugas kepolisian. Disebut sebagai ETLE Mobile Handheld. Bisa menilang dari mana saja.

Selama berjalan, dua jenis ETLE ini sudah terbukti efektif untuk menjaring para pelanggar lalu lintas ketika berkendara di jalan raya. Segala jenis pelanggaran akan kena, tanpa harus ada interaksi antara pelanggar dengan petugas kepolisian.

Sekaligus memudahkan kerja petugas kepolisian. Karena kamera ETLE bekerja selama 24 jam penuh. Sekitar puluhan ribu pelanggar sudah terdeteksi, 10 ribu di antaranya sudah mendapat kiriman surat tilang.

Kekurangan ETLE

Namun, Bintara Urusan Tilang Polresta Samarinda Bayu Eko mengaku sistem ETLE ini masih memiliki beberapa kekurangan. Misalnya terjadi kesalahan dalam mendeteksi pelanggaran. Seperti kesalahan dalam pembacaan plat nomor kendaraan.

Baca juga:   Setelah Segiri Grosir, Sebagian Pedagang Pasar Pagi akan Tempati Matahari Plaza Mulia

“Kadang ada yang kurang terlalu jelas tuh. Atau dari pelanggar lalu lintas ini, platnya kayak kesambung (nomornya) gitu. Jadi nggak terbaca.”

“Makanya kalo sekarang kan diganti sama plat warna putih semua itu kan. Itu dia mempermudah pembacaan untuk ETLE-nya. Kalau yang sering terjadi (kesalahan) warna hitam,” jelas Bayu kepada Kaltim Faktual pada Jumat 22 Desember 2023.

Kemudian, kesalahan deteksi pelanggaran bisa terjadi pada pengguna kendaraan roda dua. Ketika menggunakan helm berwarna hitam, namun justru terdeteksi tidak menggunakan helm.

“Ternyata dicek helmnya warna hitam, mirip-mirip rambut, ya ada pembacaan seperti itu,” tambah Bayu.

Selanjutnya, soal main hp di mobil. Aturannya, pengemudi tidak boleh mengoperasikan ponsel saat berkendara. Namun ETLE kerap mendeteksi pelanggaran saat ‘melihat’ ada penumpang yang memegang ponsel.

Tenang, Ada Proses Validasi

Namun, kata Bayu, segala kesalahan sistem itu akan terfilter ketika memasuki proses validasi. Sehingga, dari segala pelanggaran yang terekam, petugas Polresta Samarinda akan melakukan pengecekkan dan validasi pelanggaran.

Baca juga:   Serangan Ulat Bulu di Samarinda; DLH Bingung, Dinkes Imbau Pakai Obat Gatal

Jika memang benar melakukan pelanggaran, maka barulah pelanggar akan mendapat surat tilang yang dikirim melalui Kantor Pos. Tepat dua hari setelah pelanggaran terjadi. Dikirim ke alamat sesuai yang tercantum dalam STNK.

“Jadi tidak serta merta langsung dicetak (surat tilang) semua, enggak. Jadi di ruangan back office ini, kita yang tetep memilih. Namanya memvalidasi pelanggaran. Jadi tetap kita pilih. Kita sortir namanya. Itu tadi menghindari yang bukan pelanggaran dan akan sia-sia kita ngirim ini, orangnya pasti komplain ini lain pelanggaran.”

Selain kesalahan deteksi, ETLE Statis pemantauannya terbatas. Hanya pada wilayah yang terpandang kamera. Sementara untuk ETLE Statis, pemantauannya tergantung gerak dari petugas kepolisian.

Alamat Sesuai STNK

Selain itu untuk sistem penilangannya sendiri, meski semakin mudah namun masih punya kelemahan. Karena petugas kepolisian tidak berinteraksi langsung dengan pelanggar lalu lintas. Sehingga untuk mengirim surat tilang, mengandalkan alamat yang terdata dalam STNK.

Sementara itu, masih banyak data STNK yang bukan tercantum data pemilik kendaraan sebenarnya. Termasuk alamat. Sehingga ketika dikirim surat tilang, tidak langsung sampai pada pemilik kendaraan atau pelanggar lalu lintas.

Baca juga:   Cerita Warga Samarinda yang Kena Tilang ETLE: Kameranya Jernih, Bos!

“Ya itu biasanya kendaraan yang dia beli second, beli dengan tangan kedua atau tangan ketiga itu, nah dia nggak melakukan balik nama. Jadi ya akan terkirim sesuai alamat STNK,” ungkap Bayu di Posko ETLE.

“Nah itu juga kesalahan dari pengguna kendaraan. Jadi seharusnya balik nama,” imbuhnya.

Lanjut Bayu, perbedaan kecil alamat juga jadi kendala tersendiri. Semisal terjadi pemekaran suatu wilayah, penambahan RT, atau perubahan kelurahan. Menyulitkan petugas Kantor Pos dalam mengirimkan surat tilang.

Bayu mengimbau kepada masyarakat agar segera melakukan konfirmasi atau mengurus agar alamat dalam STNK sesuai dengan alamat yang saat ini. Terutama jika mengalami perubahan.

Sementara jika itu terjadi, untuk kendaraan yang terbukti melakukan pelanggaran. Dan tidak segera mengurus atau melakukan konfirmasi dalam waktu 14 hari. Maka tidak akan bisa melakukan pembayaran pajak karena mendapat pemblokiran surat kendaraan.

“Ya karena kan kita nggak nahan barang bukti, Mbak. Jadi hanya melakukan pemblokiran saja untuk konsekuensi hukumnya,” pungkasnya.

Untuk pelanggar yang mendapatkan pemblokiran harus mengurus urusan tilang terlebih dahulu ke Polresta Samarinda. Baru bisa melanjutkan pembayaran pajak di Samsat. (ens/dra)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.