SAMARINDA
Kasus Kekerasan Anak Makin Tinggi, Orang Tua Jangan Sibuk Sendiri
Kebanyakan kasus kekerasan pada anak terjadi di lingkungan terdekat. Orang tua jangan abai dan sibuk sendiri. Karena kejahatan datang saat ada kesempatan.
Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Samarinda meningkat tiap tahunnya. Pada tahun 2022, tercatat lebih dari 130 kasus telah terkuak di Kota Tepian.
Plt. Kepala Dinas Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2PA) Samarinda, Deasy Evriyani bilang, angka itu baru yang terungkap.
“Yang tidak terungkap pasti banyak. Dan itu yang berbahaya.”
“Kasus kekerasan itu seperti gunung es. Walaupun di permukaan terlihat baik-baik saja, namun dapat meningkat sewaktu-waktu,” jelas Deasy kepada Kaltim Faktual, Kamis sore.
Kata Deasy, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak lebih cenderung tinggi di lingkungan keluarga terdekat.
“Anak-anak itu cuma dua tempat saja. Pertama dari sekolah, dan kedua dari rumah. Peran sekolah bagi anak sudah jelas rules-nya. Nah kalau di rumah ini yang belum jelas.”
Apalagi dengan pengawasan orang tua yang kurang kepada anak. Membuat kasus tersebut kian merajalela. Ia juga meyakini jika para korban banyak yang belum memiliki keberanian untuk datang dan melapor ke pihak berwajib.
“Sekarang itu orang tuanya sibuk sendiri, pengawasannya jadi tidak tepat. Namun ini yang perlu juga kami lakukan pembinaan melalui sosialisasi parenting.”
“Yang kami ajak sosialisasi bukan hanya orang tuanya. Tapi juga wali dan pengasuh anaknya. Dan itu tidak bisa dilakukan hanya sekali. Tapi harus berkali-kali sampai memang benar benar paham,” jelasnya lebih lanjut.
Untuk itu, melalui program DP2PA ini, Deasy menginginkan para orang tua dan lingkungan sekitar lebih bijak agar dapat meminimalisir terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ia juga sangat mewanti-wanti terhadap kasus-kasus yang belum terkuak ke publik.
Hingga akhirnya membuat sebuah inovasi khusus yang hadir untuk memperketat pengawasan.
“Inovasinya bernama Peran Terpadu Berkat RT.”
“Jadi perlindungan bukan hanya tingkat kota, kecamatan, tapi juga ada di tingkat RT. Tugasnya adalah menyosialisasikan 31 hak anak yang harus menjadi perhatian.”
Selain itu, peran dari Berkat RT juga mendorong para korban kekerasan untuk dapat memberanikan diri dalam melakukan pengaduan.
“Kita tidak boleh bosan untuk selalu mengedukasi masyarakat tentang kekerasan perempuan dan anak. Seluruh elemen harus berkontribusi dalam menekan angka kekerasan ini,” pungkasnya. (sgt/dra)
-
EKONOMI DAN PARIWISATA3 hari agoEkspor Perikanan Kaltim Melesat, 56 Ton Produk Laut Segar Terbang ke China Setiap Bulan
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoPemprov Kaltim Buka Seleksi Komisaris dan Direksi BUMD 2026, Simak Syarat dan Jadwalnya
-
PARIWARA3 hari agoYamaha Kaltim Luncurkan Warna Baru GEAR ULTIMA Hybrid di Karnaval Gear Ultima 2026, Usung Desain Dual Tone Lebih Modern
-
EKONOMI DAN PARIWISATA5 hari agoYamaha Luncurkan MX King 150 Prima Pramac Livery di Jakarta Fair 2026, Hadirkan Sensasi MotoGP untuk Pecinta Balap
-
SAMARINDA3 hari agoAnggota DPRD Kaltim Darlis Pattalongi Dorong Partisipasi Masyarakat di Era Demokrasi Digital
-
EKONOMI DAN PARIWISATA1 hari agoKaltim Siapkan 15 Ribu Hektare Sawah Baru untuk Dukung Swasembada Beras
-
PARIWARA2 hari agoAuto Lebih Percaya Diri! Kolaborasi Yamaha x Kahf Sulap Grand Filano Hybrid Jadi Ala Classy Modern Explorer
-
SAMARINDA22 jam agoJelang Tahun Ajaran Baru, Pemprov Kaltim Percepat Pembenahan SMAN 10 Samarinda

