Connect with us

GAYA HIDUP

Komunitas Samarinda Design Hub; Desain Bukan hanya Soal Keindahan, tapi Juga Memberi Manfaat dan Solusi

Diterbitkan

pada

samarinda design hub
Founder Samarinda Design Hub, Ramadhan S Pernyata. (Damayanti/Kaltim faktual)

Komunitas Samarinda Design Hub (SDH) bukan sekadar wadah kumpul para desainer Kota Pusat Peradaban. Ini adalah perkumpulan ‘seniman’ yang memperjuangkan penghargaan terhadap sebuah karya. Dan mengarahkan desain tidak melulu soal indah. Tapi juga bermanfaat dan turut menghadirkan solusi.

Ramadhan S. Pernyata adalah sosok yang paling bertanggung jawab dengan kehadiran SDH. Dosen muda Polnes Samarinda itu memprakarsai komunitas ini, karena punya keresahan besar soal desain di kota tercintanya (uhuk).

Pria tinggi tegap, rambut kriwel, berkacamata, dan tidak mirip Nicholas Saputra itu melihat. Desain dan desainer Samarinda perlu dinaik-kelaskan. Minimal bisa menyamai level industri desain di tempatnya mengeyam S1 dan S2, Ridwan Kamil Land. Iya, Bandung.

Dia mulai mengumpulkan desainer dan calon desainer dari berbagai genre di SDH. Pembeda utama komunitas ini dengan komunitas serupa lainnya. Yakni, SDH tidak hanya fokus menjadi tempat perkumpulan. Tempat di mana mereka saling sharing, braindstorming, dan ghibahing. Terutama meng-ghibahi selera desain pemerintah. Bukan. Mereka tidak begitu.

SDH hadir untuk menciptakan industri desain di Samarinda. Karenanya, mereka konsen menghadirkan karya-karya desain ciamik. Yang terlalu indah dari sekadar kata, dunia berhenti sejenak menikmati indahmu (yah, jadi Komang uhuy). — Yang tak sekadar indah (estetika). Tapi juga memiliki nilai pakai. Serta memiliki manfaat, dan menjadi solusi dari sebuah permasalahan.

Jika skena ini jadi, para desainer Samarinda tidak perlu mengeluhkan kelakuan ‘Emak-Emak’ yang kadang membayar sebuah karya desain dengan mahar Rp100 ribu. Dengan dalih, “Bikin gitu aja kan gampang.”

Baca juga:   5 Rekomendasi Coffee Shop di Samarinda yang Cocok Buat Nugas

Melainkan, masyarakat dengan sendirinya memahami bahwa setiap karya seni memiliki nilainya sendiri.

Untuk menuju ke sana, telah banyak hal dilakukan komunitas yang bermarkas di Studio Jinantara –yang konon akan mengambil alih gedung Toko Karpet Salma Shofa– di Komplek Perumahan TVRI, Jalan Wahid Hasyim II Samarinda.

Mulai dari workshop, membuat pameran, menerbitkan buku desain, membuat sistem penjualan karya desain, dan lainnya. Teranyar, mereka menggelar pameran bertajuk ‘Design and Diversity 2023’. Yang berlangsung pada 17 Juni sampai 2 Juli 2023 kemarin.

Design and Diversity 2023

samarinda design hub

Pameran ini berlangsung di Studio Jinantara, dengan menampilkan 56 karya dari 36 partisipan. Yang berasal dari berbagai bidang, di antaranya desain komunikasi visual, interior, desain produk, hingga arsitektur.

Karya-karya yang ditampilkan telah memenuhi beberapa kriteria. Seperti siap diproduksi massal, sudah diproduksi massal, pernah menjadi juara di lomba nasional maupun internasional, serta karya yang berdampak terhadap Samarinda.

Ramadhan bilang, pameran ini adalah puncak dari rangkaian kegiatan di Design and Diversity 2023. Sebelumnya, mereka sudah menggelar talkshow, peluncuran buku, pameran kolaborasi dengan beberapa SMP di Kukar, serta diskusi mengenai dunia desain.

Ini bukan pameran pertama SDH. Sejak 2022, sudah 4 kali mereka membuat pameran. Dengan tema dan konsep yang berbeda.

Baca juga:   5 Rekomendasi Coffee Shop di Samarinda yang Cocok Buat Nugas

“Kemarin pas Januari, konsep pamerannya berkenaan dengan momentum ulang tahun Samarinda. Dan tanggal 17 Agustus, konsep pamerannya memperingati hari kemerdekaan.”

“Dan pameran yang terakhir ini tidak berfokus, tapi kita pengen memperlihatkan teman-teman desainer Samarinda mempunyai kemampuan yang mumpuni,” ungkapnya, pada hari terakhir acara.

Walau SDH belum sebesar Komunitas Ikatan Cinta atau fans Leslar. Antusiasme para desainer untuk unjuk karya pada event kali ini cukup tinggi. Namun untuk menyesuaikan tema, penyelenggara melakukan kurasi terlebih dahulu.

“Awalnya ada sekitar 60 submition yang masuk. Kemudian kami seleksi menjadi 36 partisipan yang berasal dari mahasiswa dan sebagiannya praktisi serta dosen,” ucapnya.

Pada akhir acara, lima karya terbaik dari setiap kategorinya mendapatkan hadiah berupa piagam penghargaan dan Marcedes (marchendise, kok).

Madan –sapaannya- juga senang dengan respons pengunjung. Yang kebanyakan punya antusiasme terhadap karya yang dipamerkan.

“Respons pengunjung sangat bagus. Kami bersyukur kepada pengunjung, terutama banyaknya pengunjung yang menyebarkan pameran kami di TikTok, sehingga menjadikan pameran kami banyak dikunjungin,” ucapnya bangga, tapi tidak sampai mengelap kacamata yang berembun karena mata sembab.

Samarinda Design Hub The One and Only

samarinda design hub

Madan mengaku Samarinda Design Hub adalah komunitas desain pertama dan (masih) satu-satunya di Samarinda dan Kaltim. Yang sudah membuat pameran seni seperti ini.

Adapun konsep Design and Diversity yang diusung. SDH ingin meng-highlight keberagaman. Mulai dari jenis desain, latar belakang para desainer, hingga keberagaman hasil unjuk karya desainnya.

Baca juga:   5 Rekomendasi Coffee Shop di Samarinda yang Cocok Buat Nugas

Seperti yang disebut di atas. Partisipan pameran ini meliputi mahasiswa Polnes, praktisi, hingga dosen.

“Ada beberapa yang memang profesional dan ada beberapa yang freelance di bidang desain. Mahasiswa berprestasi juga kami ikutkan,” tuturnya.

Pameran ini sendiri tidak gratisan. Pengunjung mesti membayar tiket terlebih dahulu. Sebesar Rp25 ribu. Yang bisa dibayar melalui cash dan transfer. Untuk mahasiswa dikenakan diskon.

Pada saat berbincang dengan Kaltim Faktual, Madan mencatat pameran ini sudah dikunjungi lebih dari 500 orang. Berasal dari berbagai kalangan dan usia. Mayoritas berusia 16 hingga 25 tahun.

“Karena anak muda itu empresif. Paling cepat untuk merespons sesuatu dan pemberitahuan informasi kegiatan lebih cepat ke kalangan masyarakat,” katanya.

Sesi wawancara tentu tak lengkap tanpa pertanyaan ‘harapan ke depannya apa?’. Untuk ini, Madan menjawab, agar di masa yang akan come. Masyarakat Samarinda dan Kaltim dapat lebih mengapresiasi karya seni. Pemerintah pun dapat menjadikan desain sebagai satu di antara faktor pendukung sub sektor ekonomi kreatif.

“Semoga skala (pameran) kami lebih besar , mungkin tidak lagi berpameran di ruko kecil. Tapi mudah-mudahan bisa bikin pameran besar seperti di Convention Hall agar bisa menggait lebih banyak partisipan,” pungkasnya (dra)

Reporter: Nur A. Damayanti  | Editor: Ahmad A. Arifin

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.