Connect with us

EKONOMI DAN PARIWISATA

Menelusuri Kisah Dibalik Lamin Adat Pemung Tawai Desa Budaya Pampang

Published

on

Bentuk Lamin Adat Pemung Tawai Desa Budaya Pampang. (Yanti/Kaltim Faktual)

Desa Budaya Pampang menjadi salah satu destinasi wisata yang sudah go internasional. Di jantung desa ini, berdiri kokoh sebuah bangunan tradisional milik Suku Dayak Kenyah bernama Lamin Adat Pemung Tawai Desa Budaya Pampang yang sarat akan makna dan sejarah terselubung.

Meskipun terlihat sederhana, Lamin Adat Pemung Tawai Desa Budaya Pampang ini bukan sekadar bangunan biasa. Bangunan ini menyimpan berbagai sejarah yang menjadi simbol identitas, persatuan dan warisan budaya yang terus terjaga keasliannya oleh masyarakat Dayak Kenyah hingga saat ini.

Berdirinya Lamin Adat Pemung Tawai Dayak Kenyah ini sudah berdiri sejak 30 tahun lamanya — tepatnya pada tahun 1991. Saat itu, pembangunan lamin tersebut dipimpin langsung oleh kepala suku adat Dayak Kenyah Simson Imam yang hingga kini masih setia menjaga kelestarian lamin ini.

Bagi Simson, lamin ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol identitas dan pemersatu masyarakat Dayak Kenyah.

Begitu memijakkan kaki di Halaman Lamin Adat yang berlokasi di Jalan Wisata Budaya Pampang ini, pengunjung akan disambut dengan tugu burung enggang yang menjuntai tinggi ke atas langit. Serta, para penjual kerajinan tangan beraneka ragam pernak-pernik khas Dayak.

Penampakan lamin ini berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kayu Ulin, dengan dua patung penjaga berdiri tegak di kanan kiri anak tangga. Dihiasi dengan ukiran-ukiran khas Dayak Kenyah di setiap sudut lamin. Baik di dinding luar lamin, tiang-tiang lamin, maupun leres leres kanopi atap yang hingga saat ini masih mempertahankan keaslian meskipun sempat mengalami renovasi.

Seakan menembus lorong waktu. Pengunjung akan kembali bernostalgia dengan kehidupan-kehidupan masyarakat Dayak Kenyah di masa lampau. Di tambah dengan ukiran-ukiran megah dan menawan di setiap sudutnya, lamin ini berbisik tentang kisah perjalanan panjang suku Dayak Kenyah di Bumi Kalimantan.

Baca juga:   Rumuskan Paket Wisata, Dispar Kaltim akan Gandeng PHRI dan PUTRI

KEINDAHAN ARSITEKTUR

Setelah puas berkeliling halaman. Langkah kaki kemudian menuntun pewarta memasuki rumah lamin adat bergaya Dayak dengan warna khas kuning, merah, putih dan hitam.

Di dalam lamin adat ini, tersedia ruangan yang berisikan perabotan kursi-kursi antik panjang dan halaman pentas yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu atau menampilkan penampilan pagelaran seni seperti tari-tarian penyambut wisatawan ketika berkunjung ke sini.

Beralih ke tengah lamin, terdapat hiasan burung enggang yang melintang indah di tengah ruangan dengan untaian tali berwarna warni yang biasa digunakan untuk tari Kanjet Anyam. Sehingga, menambah keautentikan isi dari lamin ini.

Menurut Tetua Adat Suku Dayak Kenyah, Simson Imang, melintangnya burung enggang di langit langit lamin ini melambangkan kepemimpinan dan perdamaian yang kuat, di mana rakyat tunduk pada pemimpin dan pemimpin tunduk pada rakyat.

“Kalau gambar harimau pemimpin menerima suara rakyat dan sebaliknya,” ungkapnya, Jumat 9 Februari 2024.

Berjalan ke tengah lamin. Tersorot satu buah patung dengan tinggi dua susun, cukup menarik perhatian. Susunan paling atas terdapat patung manusia suku Dayak menggunakan topeng dengan memang tameng khas Dayak dan disusul dengan susunan kedua berbentuk guci berwarna kan putih tulang dengan ukiran naga berwarna merah hijau kuning di tengah guci tersebut.

Untuk lambang naga di tengah guci sendiri. Tersirat sebuah arti yang menceritakan perjalanan Dayak Kenyah menuju Indonesia.

“Dayak Kenyah ini keturunan dengan China Mongol, perjalanan dari Brunai dia jalan terus ke Indonesia. Cerita kedua kemunculan naga ketika banjir di sungai seberang,” terangnya.

Tak kalah menarik, tiang tiang di sini juga tersirat ukiran ukiran unik dan indah di setiap tiangnya. Untuk bentuk ukiran tiang sendiri melambangkan kekuatan seorang pemimpin dan persatuan dari masyarakat Dayak kenyah

Baca juga:   Tren Kunjungan Wisata Balikpapan Diprediksi Turun saat Libur Lebaran, Destinasi Harus Siapkan Inovasi

“Sebagai kepala rumah tangga dia sebagai pemimpin supaya pemimpin jangan ragu ragu memimpin,” ucapnya.

Tak hanya arsitektur interior dan eksterior saja yang menawan. Pembangunan lamin adat ini ternyata menyimpan mozaik kisah-kisah sejarah suku Dayak Kenyah tersendiri didalamnya.

MENELUSURI JEJAK SEJARAH

Simson mengatakan lamin adat pemung tawai desa budaya pampang ini biasanya digunakan untuk pertunjukan seni, acara penyambutan bahkan acara meninggalkan.

“Saya yang membangun lamin ini dulu tahun 91. Waktu itu saya kesini tahun 85,” ungkapnya.

Dengan menggunakan pakaian adat khas Suku Dayak Kenyah yang lain daripada yang lain, Ia bercerita selembar demi selembar sejarah dari lamin ini.

“Bentuk Lamin ini dulu rumah panjang. Kalau dulu rumah panjang itu ada 80 hingga 100 keluarga tapi dulu. Waktu zaman Belanda lamin adat ini bertingkat. Karena jumlah jiwa 38 jiwa setelah merdeka jadi terpencar tahun 65 ada ke Berau, Malinau, kabupaten Bulungan,” terangnya.

MAKNA DALAM MOTIF

Motif Rumah Lamin Dayak Kenyah. (Yanti/KaltimFaktual)

Di balik keindahan corak dan warna, motif Dayak Kenyah ternyata menyimpan makna dan filosofi yang kaya. Lebih dari sekadar hiasan, motif Dayak Kenyah ini melambangkan persatuan.

Untuk warna yang dihadirkan dari motif Dayak Kenyah sendiri perpanduan antara nuasa kuning, merah dan putih  melambangkan bhinneka tunggal ika.

“Karena dulu antara Dayak Kenyah berperang sesudah merdeka mengenal agama dan pemerintah sudah,” ucap Simson.

TEMPAT PERSEMBAHAN ADAT

Tarian Nyelama Sakai. (KutaiPanrita)

Lamin Adat Pemung Tawai Desa Budaya Pampang ini biasa digunakan untuk persembahan acara adat dan acara sakral seperti pernikahan hingga perayaan berpulangan saudara.

Persembahan acara adat sendiri. Biasanya digelar setiap bulannya dengan menyajikan berbagai pertunjukan tarian.

Pertama, Tarian Nyelama Sakai. Merupakan tarian penting  bagi masyarakat desa budaya Lekaqidau, yang terletak di Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara.

Baca juga:   Nonton Barongsai dengan View Laut, Bisa di Pantai BSB Balikpapan

Biasanya tarian ini menjadi sebuah tanda untuk menyambut ramah bagi para tamu yang mengunjungi desa budaya ini.

Tarian ini dilakukan oleh para gadis muda yang memiliki kecantikan yang mempesona. Dengan memainkan gerakan anggun dan elegan, para penari membawa pesan kasih sayang dan kegembiraan kepada tamu yang datang.

Kedua, Tarian Kancet Lasan. Tarian ini menggambarkan kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh suku Dayak Kenyah karena dianggap sebagai tanda keagungan dan kepahlawanan.

Ketiga, Tarian Enggang Terbang. Tarian ini mengisahkan tentang perpindahan masyarakat Suku Dayak dari satu tempat ke tempat lain yang lebih baik, diperagakan oleh sekelompok gadis suku dayak yang mengenakan hiasan kepala berlambang burung Enggang

Keempat, Tari Anyam Tali. Tarian yang melambangkan persaudaraan melibatkan pengunjung dan wisatawan.

Kelima, Tarian Pampaga melambangkan sebuah perangkap yang dibuat untuk mengusir hama. Diperagakan oleh 12 gadis muda, tarian ini menggunakan instrumen bambu yang dimainkan.

Pada zaman dahulu sebelum suku Dayak Kenyah memanen padi di ladang, mereka melakukan kegiatan yang dinamakan Pampaga yang artinya sebelum membersihkan rumput sudah melaksanakan kegiatan ritual.

BIAYA TIKET MASUK LAMIN  

Buat kalian yang ingin mengunjungi wisata ini tidak perlu khawatir karena harga yang di tawarkan cukup terjangkau dan sepadan dengan apa yang di dapatkan ketika memasuki lamin ini.

Untuk harga tiket masuk desa budaya Pampang pada akhir pekan sebesar Rp40 ribu per orang. Sedangkan di hari biasa yakni Senin sampai Sabtu sebesar Rp10 ribu.

“Kalau atraksi tarian seni tiap bulan mulai jam 2 sampai jam 3. Yang ikut beda beda orangnya berapa. Tamu tamu boleh ikut berapa pun yang ikut. Misalnya sembilan semua orang bisa ikut,” pungkasnya. (dmy/gdc)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.