Connect with us

GAYA HIDUP

Moms, Sudah Tahu tentang B2SA Pengganti 4 Sehat 5 Sempurna Belum?

Published

on

menu b2sa
Bahan pangan lokal bisa menjadi menu harian jika diolah dengan cara kekinian. (IST)

Moms, ternyata pola 4 sehat 5 sempurna sudah tidak relevan lagi loh. Penggantinya bernama B2SA. Selain enak, seimbang, dan cocok untuk diet segala usia. Konsep ini juga mendukung program ketahanan pangan.

Sejak tahun 1952, susunan menu masyarakat Indonesia terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur, buah, dan susu. Populer dengan nama 4 sehat 5 sempurna.

Namun sejak 2016, pola itu sudah tidak relevan. Karena menu 4 sehat 5 sempurna tidak memerhatikan keseimbangan gizi. Sesuatu yang dibutuhkan pada era junk food is favorite food saat ini.

Dari 4 sehat 5 sempurna, bergeser ke Pedoman Gizi Seimbang (PGS) dan kini ada Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA).

Secara sederhana, B2SA menitikberatkan pada 3 hal. Yakni keseimbangan gizi, keberagaman menu, dan penggunaan bahan makanan lokal sebagai bahan dasar olahan makanan.

Misalnya karbohidrat yang tidak melulu dari nasi. Bahan-bahan seperti jagung, singkong, ataupun ubi bisa menjadi pengganti nasi. Namun, diolah sedemikian rupa agar tetap nyaman di lidah.

Baca juga:   Warga Muara Rapak Sambut Baik Sosialisasi Wawasan Kebangsaan Wakil Ketua DPRD Kaltim

Selain mengganti, dua bahan sumber karbohidrat juga bisa disantap bersamaan. Contoh lagi, jika biasanya makan nasi 1 piring. Sesekali bisa mengurangi setengah porsi. Nanti, sumber karbohidrat lainnya bisa diperoleh dari sup jagung, donat kentang, bubur candil ubi, kolak singkong, dan lainnya.

Susunan sayur dan buahnya pun lebih memprioritaskan buah-buahan dan sayur mayur lokal.

Menariknya, konsep B2SA yang misinya mengurangi konsumsi beras dan terigu ini. Bisa menjadi susunan menu diet segala usia. Selain juga, bisa mendukung program ketahanan pangan. Agar bahan-bahan makanan yang dihasilkan di dalam negeri, bisa masuk dalam susunan menu harian masyarakat.

Dengan begitu, ketergantungan pada bahan pangan impor bisa dikurangi secara perlahan.

Tapi, Moms, membiasakan mengonsumsi menu B2SA tentu tidak mudah pada mulanya. Terlebih untuk lidah-lidah ‘gak nasi gak kenyang’. Butuh pembiasaan, konsistensi.

Lalu bagaimana cara menyusun menu harian berbasis B2SA? Pertama, Moms mesti membuat daftar bahan pangan sumber karbohidrat, sayur mayur, protein, dan buah lokal.

Baca juga:   6 Kegiatan Seru Akhir Tahun, Biar Liburmu Menyenangkan

Kedua, lakukan mix and match. Dan ketiga, olah bahan-bahan lokal menjadi makanan enak. Resepnya sudah tersedia banyak di internet ataupun aplikasi resep.

Kenalkan B2SA ke Anak Muda

Untuk memeriahkan Pesta Rakyat Kaltim (PRK) 2023 Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kaltim. Bekerja sama dengan TP PKK dan Dharma Wanita. Melaksanakan sosialisasi makanan B2SA pada Rabu 11 Januari 2023.

Selain menjelaskan konsep B2SA, penyelenggara juga menggelar demo memasak. Menyontohkan bahwa bahan pangan lokal juga bisa menjadi menu makanan kekinian.

Karena menyasar kaum muda, penyelengara menghadirkan audiens dari siswa SMK, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Sub Koordinator Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan DPTPH Siti Mayasari menjelaskan. Demo olahan pangan lokal ini dalam rangka penganekarangaman konsumsi pangan yang berbasis non beras dan non terigu. Dengan membuat kudapan dari singkong yakni getuk goreng dan ubi.

“Dengan demo olahan pangan lokal, kita harapkan para anak muda atau golongan milenial mengetahui selain beras, masih banyak sumber-sumber karbohidrat lainnya, seperti singkong, jagung, ubi, sagu dan sebagainya”

Baca juga:   Akses Layanan dan Pengaduan Pegadaian Kini Makin Mudah dengan SAPA Pegadaian

“Kalau diolah sedemikian rupa bisa menjadi kudapan milenial juga, termasuk menyajikan susi ubi.”

“Kalau sekarang belum terbiasa lidahnya, setidaknya mereka kenal bahwa ada loh makanan  yang katanya jadul bisa menjadi makanan kekinian. Yang harus diingat, pangan lokal bukan makanan jadul,” jelas Maya.

Sosialisasi ini, kata Maya, selain menargetkan anak-anak muda. Juga menyasar kaum ibu yang kerap memasak untuk keluarganya.

“Kita panggil anak-anak sekolah, karena kalau anak sekolah sudah terbiasa lidahnya dengan makanan fast food, Korean food. Sedangkan Korean food itu banyak olahannya dari ubi tapi yang memviralkan orang Korea.”

“Jadi saya ingin anak-anak muda kita yang memviralkan olahan ubi ini. Ibu juga di rumah kita harapkan paham akan B2SA. Kita sinergi bersama,” pungkasnya. (dra)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.