Connect with us

OLAHRAGA

Musorprov KONI Kaltim Tetapkan Calon Tunggal Ketua, KONI Pusat Ingatkan Bahaya Konflik Internal

Published

on

Acara Musorprov KONI Kaltim Rabu, 3 Juni 2026. (Gio)

Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Timur 2026 menjadi momentum penting bagi arah pembinaan olahraga daerah menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028. Selain membahas laporan pertanggungjawaban dan program kerja organisasi, forum tersebut juga mengagendakan pemilihan Ketua Umum KONI Kaltim periode 2026–2030.

Namun, perhatian peserta Musorprov kali ini tertuju pada munculnya calon tunggal dalam bursa pemilihan ketua umum. Nama Andri Syahrul menjadi satu-satunya kandidat yang maju dalam proses pemilihan yang digelar di Samarinda, Rabu (3/6/2026).

Ketua Panitia Pelaksana Musorprov KONI Kaltim 2026, Husinsyah, mengatakan forum tersebut menjadi titik penting dalam menentukan arah pembinaan olahraga prestasi Kalimantan Timur selama empat tahun ke depan.

“Yang sangat penting dan krusial adalah pemilihan Ketua KONI periode 2026 sampai 2030,” ujarnya.

Musorprov diikuti oleh seluruh anggota KONI Kalimantan Timur yang terdiri dari 10 KONI kabupaten/kota, 64 cabang olahraga, serta enam badan fungsional. Kegiatan mengusung tema Pondasi Kaltim Menuju Generasi Emas dengan subtema Bersatu, Bangkit, dan Berprestasi Menuju PON 2028 di Nusa Tenggara Barat.

Calon Tunggal Warnai Pemilihan Ketua KONI Kaltim

Wakil Ketua Umum II KONI Pusat, Sudarmo, secara terbuka menyampaikan bahwa hanya terdapat satu kandidat yang maju dalam pemilihan Ketua Umum KONI Kaltim.

“Calon yang lain tidak ada, tinggal calon tunggal Pak Haji Andri,” katanya di hadapan peserta Musorprov.

Meski minim kompetisi, Sudarmo menilai kondisi tersebut merupakan hasil dari proses musyawarah yang telah berlangsung di internal organisasi.

“Kalau calonnya sekarang tunggal, alhamdulillah. Ini betul-betul memang musyawarah. Yang terpilih secara aklamasi karena hasil musyawarah,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kepemimpinan organisasi olahraga tidak cukup hanya berbekal dukungan politik organisasi, tetapi juga harus memahami secara mendalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) KONI.

“Saya berharap calon ketua umum yang baru betul-betul memahami anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Banyak ketua umum yang baru maju tetapi tidak paham dengan AD/ART,” tegasnya.

Konflik Internal Dinilai Bisa Hambat Prestasi Atlet

Dalam sambutannya, Sudarmo juga menyoroti pentingnya menjaga soliditas organisasi. Menurutnya, konflik internal yang berkepanjangan dapat menjadi hambatan serius dalam proses pembinaan atlet dan pencapaian prestasi olahraga.

Ia menegaskan bahwa salah satu tujuan utama KONI adalah memperkuat persatuan di lingkungan olahraga, sehingga perbedaan pandangan harus diselesaikan melalui mekanisme organisasi yang sehat.

“Jangan ada lagi konflik yang terus berkembang. Kalau konflik terus terjadi, ini akan menghambat pembinaan olahraga prestasi. Bagaimana prestasi bisa meningkat kalau para pengurusnya tidak solid,” katanya.

Peringatan tersebut menjadi catatan penting menjelang pergantian kepengurusan KONI Kaltim, terlebih organisasi olahraga daerah akan menghadapi sejumlah agenda besar menuju PON 2028.

KONI Pusat Ingatkan Soal Tata Kelola Anggaran

Selain persoalan soliditas organisasi, KONI Pusat juga mengingatkan pengurus baru untuk berhati-hati dalam aspek administrasi dan penggunaan anggaran.

Sudarmo menyoroti masih adanya sejumlah cabang olahraga yang memiliki lebih dari satu organisasi. Dalam kondisi tersebut, pengurus daerah diminta hanya mengakui organisasi yang mendapatkan legitimasi resmi dari KONI Pusat.

“Kalau diakomodir kemudian keluar dana untuk membiayai organisasi itu, padahal bukan anggota KONI, itu akan menjadi temuan,” ujarnya.

Menurutnya, pemahaman terhadap status keanggotaan cabang olahraga menjadi penting agar tidak menimbulkan persoalan hukum maupun administrasi di kemudian hari.

Prestasi Kaltim Diapresiasi, Pengurus Baru Diminta Langsung Bekerja

Di tengah sejumlah catatan tersebut, KONI Pusat tetap memberikan apresiasi atas capaian olahraga Kalimantan Timur dalam beberapa tahun terakhir.

Pada PON Aceh-Sumatera Utara, Kaltim berhasil menempati peringkat kedelapan nasional dengan raihan 29 medali emas, 55 perak, dan 69 perunggu.

Sementara pada ajang Pekan Olahraga Nasional Bela Diri di Kudus, Kalimantan Timur berada di posisi kelima dari 30 provinsi peserta dengan perolehan 15 medali emas, 15 perak, dan 36 perunggu.

“KONI Provinsi Kaltim sangat patuh dan taat dalam menjalankan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, khususnya dalam tata kelola organisasi,” ungkap Sudarmo.

Ia meminta kepengurusan baru segera menyusun struktur organisasi dan program kerja setelah resmi ditetapkan agar persiapan menghadapi Pra-PON dan PON 2028 dapat berjalan optimal.

“Begitu kepengurusan terbentuk dan surat keputusan keluar, langsung tancap gas. Segera susun program jangka pendek maupun jangka panjang,” katanya.

Sudarmo juga menyarankan agar sebagian pengurus lama tetap dilibatkan dalam struktur organisasi baru guna menjaga kesinambungan pengalaman dan pengetahuan kelembagaan.

“Kalau seluruhnya baru, sama dengan orang masuk hutan tidak punya peta, bingung mencari jalan,” pungkasnya.

Dengan hadirnya calon tunggal dalam Musorprov KONI Kaltim 2026, perhatian kini tertuju pada bagaimana kepengurusan baru menjawab berbagai tantangan yang disampaikan KONI Pusat, mulai dari menjaga soliditas organisasi, memperkuat tata kelola, hingga mempertahankan prestasi olahraga Kalimantan Timur menuju PON 2028. (Gi/am)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.