SAMARINDA
Pengamat: Kebijakan “Jam Malam” untuk Antrean BBM Mobil di Samarinda Bukan Solusi
Menurut pengamat ekonomi Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo. Mengurangi waktu pelayanan BBM bersubsidi untuk mobil bukan solusi dari persoalan yang terjadi selama ini.
Imbas dari antrean panjang BBM di seluruh SPBU di Samarinda. Dishub Samarinda akhirnya mengeluarkan aturan pembatasan. Baik maksimal pembelian, maupun jam pelayanan.
Untuk roda 2, perubahannya tak signifikan. Selain maksimal pembelian Rp50 ribu (ojol boleh Rp100 ribu). Namun untuk roda 4 cukup signifikan. Selain maksimal pembelian Rp300 ribu, penjualan pertalite hanya boleh dari jam 6 sore sampai jam 10 pagi.
Menurut Purwadi, langkah itu hanya memindah waktu mengantre saja. Bahkan berpotensi lebih panjang antreannya. Sehingga bukan solusi yang efektif.
“Kebijakan itu hanya menggeser zona waktu antrean, bukan solusi nyata,” ujar Purwadi, Sabtu, mengutip dari Antara.
Dosen FEB Unmul itu bilang, persoalan utamanya bukanlah kuota. Namun manajemen distribusinya yang kurang tepat. Atau malah, biang keladinya sama sekali belum ketahuan, karena Pertamina selaku pemilik kewenangan dinilai kurang transparan dalam menjelaskan permasalahan yang terjadi.
Semisal perkara kuota, ia berharap Pertamina membuka data kuota BBM di Kaltim, yang bisa diakses secara digital oleh masyarakat. Hal ini untuk menghilangkan kekhawatiran masyarakat saat ingin membeli BBM.
“Dengan akses informasi yang mudah dan transparan, masyarakat dapat merencanakan pengisian bahan bakar lebih baik dan mengurangi risiko kekosongan yang tidak terduga.”
“Itu sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan efisiensi dan pelayanan publik di sektor energi,” imbuhnya.
Selain itu, ia mengusulkan agar ada Satuan Tugas (Satgas) pendistribusian BBM bersubsidi. Yang beranggotakan Pemkot Samarinda, Pemprov Kaltim, serta Pertamina. Jika perlu melibatkan Aparat Penegak Hukum (APH). Lalu menggelar sidak ke SPBU secara berkala untuk menjalankan fungsi pengawasan.
Apapun itu, Purwadi mendorong agar pemerintah daerah duduk bersama dengan Pertamina terlebih dahulu. Dan membuka data selebar-lebarnya, agar persoalan utamanya ketahuan. Habis itu, barulah mencari jalan keluar yang efektif. (dra)
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoSeleksi Dirut MMP Kaltim Dipersoalkan, Batas Usia Maksimal Jadi Sorotan
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoAntrean BBM di Kaltim, Rudy Mas’ud Sebut Masalah Ada di SPBU
-
PARIWARA3 hari agoBreak Time Bareng AEROX, Cara Yamaha Dekatkan AEROX ALPHA dengan Generasi Muda
-
KUKAR3 hari agoPemprov Kaltim Tegaskan Aset SMAN 10 Samarinda Tetap Bisa Digunakan untuk Belajar
-
KUKAR3 hari agoDistanak Kukar Kembangkan Sorgum dan Siapkan Demplot Jelai untuk Diversifikasi Pangan
-
KUKAR2 hari agoJangkauan Program Distanak Kukar Terkendala SDM dan Fiskal
-
EKONOMI DAN PARIWISATA4 hari agoHarga Sawit Kaltim Naik, TBS Umur 10–20 Tahun Tembus Rp3.604 per Kg
-
PARIWARA4 hari agoBAF Friends Festival di Yamaha Sentral Balikpapan, Ada Service dan Ganti Oli Gratis

