Connect with us

OPINI

Pengaruh Grup Idol JKT48 terhadap Masyarakat Multikultural di Indonesia

Published

on

jkt48

JKT48 bukan sekadar kelompok musik biasa. Mereka memiliki basis fans yang besar. Juga menjadi ‘medium’ penghantar kebudayaan Jepang di tengah kehidupan anak muda Indonesia.

Sebuah Opini dari Fatih dan Fauzi

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), multikulturalisme adalah suatu gejala pada individu atau suatu masyarakat yang ditandai dengan kebiasaan dalam menggunakan lebih dari satu kebudayaan. Salah satu bentuk multikulturalisme yang terjadi belakangan ini adalah ramainya grup idol JKT48 yang telah berdiri selama kurang lebih 12 tahun, telah membawakan banyak pengaruh yang besar dalam menyebarkan kebudayaan dari Jepang ke Indonesia.

JKT48 yang merupakan sister group dari grup idol asal Jepang yaitu AKB48, telah mewakili dominasi dan homogenisasi budaya Jepang. JKT48 sebagai representasi dari AKB48 mempunyai konsep yang mirip dalam penerapan musik dan desain dalam kostum yang digunakan dalam penampilan di setiap pertunjukan.

Dalam setiap kegiatannya, JKT48 sering menunjukkan suatu bentuk tradisi budaya Jepang yang bernama Ojigi. Ojigi (お辞儀) adalah budaya Jepang untuk membungkukkan badan pada saat memberi salam, meminta maaf, menunjukkan rasa terima kasih, atau sebagai bentuk penghormatan. Ojigi ini biasanya ditampilkan di saat setiap selesainya pertunjukan JKT48, baik itu kegiatan di dalam maupun luar teater.

Kebiasaan menundukkan posisi tubuh yang dilakukan oleh para member JKT48 tersebut memiliki tujuan untuk menunjukkan rasa terima kasih mereka kepada para penggemar. Selain itu, para member JKT48 juga sering menggunakan kosakata dalam bahasa Jepang seperti ohayou (selamat pagi), dan arigatou (terima kasih) di dalam pertunjukan yang mereka lakukan.

Peran JKT48

JKT48 juga memiliki peranan yang besar dalam menunjukkan unsur budaya dari Indonesia di dalam karya-karya musiknya. Adapun berbagai budaya Jepang yang mereka coba untuk kombinasikan dengan unsur Indonesia dengan gerakan ataupun konsep video musik dari JKT48.

Baca juga:   Tren Kuliner Korea di Indonesia Berawal dari Akulturasi Budaya

Konsep budaya Indonesia yang diangkat itu dapat terlihat dalam video musik JKT48 yang berjudul “Dirimu Melody”. Rumah adat Joglo yang merupakan rumah adat khas Jawa ini dijadikan sebagai latar belakang pembuatan musik video tersebut yang semakin memperjelas kesan Indonesia yang sedang JKT48 coba bawakan. Dengan perpaduan antara budaya Jepang dan Indonesia yang terdapat dalam seifuku yang merupakan sebutan untuk seragam sekolah di Jepang yang digunakan juga membawa daya tarik baru bagi para member JKT48.

Menurut Junianatha selaku member aktif JKT48 saat itu, konsep seifuku yang digunakan telah menggabungkan unsur adat Jawa dan tidak menghilangkan esensi dari JKT48 itu sendiri.

JKT48 telah dianggap sebagai bagian dari strategi Cool Japan milik pemerintah Jepang dengan tujuan memperkenalkan budaya Jepang kepada seluruh dunia. Dengan memfokuskan pada penggunaan budaya idol sebagai daya tarik, pemerintah Jepang dapat memperluas pengaruh soft diplomacy ke berbagai negara, salah satunya adalah Indonesia. Pada tahun 2018, Pemerintah Jepang membawa salah satu personil JKT48 yaitu Melody, untuk menjadi Duta Persahabatan Jepang dan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) di bidang pangan dan pertanian.

JKT48 diakui mampu untuk memberikan kesadaran bagi masyarakat di Indonesia dan juga ASEAN terhadap pentingnya rantai produksi buah dan pertanian bagi ASEAN dan Jepang. Dengan segala kontribusi dan kerja keras yang telah diberikan selama 10 tahun terakhir, JKT48 mendapatkan penghargaan dari Duta Besar Jepang untuk Indonesia sebagai kelompok yang telah berjasa dalam hubungan persahabatan Indonesia-Jepang. JKT48 pun ikut terlibat dalam festival besar seperti Jak-Japan Matsuri yang merupakan wadah pertukaran dengan tujuan untuk memperdalam saling pemahaman antara warga Jepang dan Indonesia, diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Jepang di Jakarta dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia.

Baca juga:   Tren Kuliner Korea di Indonesia Berawal dari Akulturasi Budaya

Pada tahun 2013, pemerintah Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta menjadikan JKT48 sebagai duta pariwisata ibukota dalam program pariwisata Enjoy Jakarta untuk menarik lebih banyak minat pengunjung Jepang ke Ibukota Indonesia.

jkt

Sumber: Data Badan Pusat Statistik Jakarta yang telah diolah penulis (2023).

Sebagai salah satu grup idol yang besar di Indonesia, JKT48 memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap masyarakat multikultural di negara ini:

  1. Menggabungkan Keberagaman dalam Penggemar.

JKT48 memiliki banyak penggemar dari berbagai kalangan, mulai dari latar belakang budaya, agama, dan etnis di Indonesia. Hal ini menciptakan peluang untuk orang-orang dari latar belakang yang berbeda untuk dapat berkumpul dan bersatu untuk mendukung grup ini. Hal ini pun dapat mempromosikan interaksi positif antar individu dari berbagai kelompok dalam masyarakat.

  • Menumbuhkan Dukungan untuk Budaya Lokal

Dalam berbagai pertunjukan yang mereka lakukan, JKT48 sering menggabungkan elemen-elemen budaya dari berbagai daerah di Indonesia. Ini tidak hanya dengan tujuan untuk menghibur para penggemar, tetapi juga agar dapat memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada penggemar mereka.

  • Pengaruh Media Sosial.

Melalui media sosial yang mereka miliki, JKT48 memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk mencapai audiens yang luas. Aktivitas yang mereka lakukan dengan tujuan untuk mempromosikan keberagaman budaya atau menyuarakan pesan-pesan tentang persatuan dapat menggapai banyak orang dan mempengaruhi pandangan para penggemar tentang multikulturalisme.

Baca juga:   Tren Kuliner Korea di Indonesia Berawal dari Akulturasi Budaya

Namun, perlu diingat juga bahwa pengaruh positif ini memiliki batasannya. Sementara, JKT48 bisa menjadi contoh positif dalam mempromosikan dan memperluas multikulturalisme, tanggung jawab untuk membangun masyarakat multikultural yang inklusif dengan tujuan mengajak masyarakat Indonesia untuk sadar akan multikultural seharusnya tidak hanya ada pada grup idol atau selebriti, tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama bagi seluruh masyarakat Indonesia, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil.

Tentang Penulis

Artikel ini ditulis oleh 2 mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Mulawarman. Penulis pertama ialah Fatih Arya Ramzani. Memiliki minat menonton film dan series. Dapat ditemukan di media sosial dengan akun @fftihh.

Penulis kedua ialah Muhammad Fauzi. Memiliki hobi berolahraga. Dapat ditemukan di media sosial dengan akun @fauzi.iii. (dra)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Kaltim Faktual menerima kiriman artikel dari pembaca. Baik karya tulis feature, opini/catatan hingga artikel maupun informasi berita. Kirimkan karya Anda disertai identitas lengkap dalam format word, melampirkan file foto berformat landscape, melalui kontak kami (kontak@kaltimfaktual.co atau Whatsapp) dengan subject sesuai dengan karya tulis Anda. (ARTIKEL/OPINI/INFORMASI). Kami harap, karya Anda bisa memenuhi unsur tagline kami: Mengabarkan, Menginspirasi, Menyenangkan.

Catatan: Hak penerbitan menjadi keputusan redaksi. Tulisan yang terbit telah melalui penyuntingan redaksi tanpa mengurangi maksud pesan penulis. Semua materi tulisan merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi Kaltim Faktual tidak mewakili isi tulisan opini penulis.

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.