Connect with us

SOSOK

Perjalanan Designer Muda Samarinda Sherlita Ayu Wahjono Menjadi Juara IFW 2024; Bangkit dari Kegagalan hingga Meraih Beasiswa ke Milan

Diterbitkan

pada

Sherlita
Sherlita Ayu (tengah-biru) usai menerima penghargaan juara IFW 2024, di Jakarta, 31 Maret 2024. (Dok Pribadi/ Sherlita)

Fashion designer asal Samarinda, Sherlita Ayu Wahjono berhasil menjuarai Indonesia Fashion Week (IFW) 2024. Kegagalannya pada ajang yang sama tahun lalu membuat ia mengerahkan energi yang tepat. Juara dan mendapat kesempatan belajar di kota mode Milan akan menjadi perjalanan baru baginya.

Indonesia Fashion Week (IFW) kembali menggelar Indonesia Young Fashion Designer Competition (IYFDC). Ajang pencarian potensi-potensi baru di bidang fesyen, yang selalu diadakan setiap tahun.

Pada IYFDC tahun 2024 ini. Tercatat sekitar 500 pendaftar dari seluruh Indonesia dengan total sketsa yang terkumpul sebanyak 108 karya. Menyaring 43 peserta lolos ke babak semi final. Lalu 20 peserta masuk ke final.

Di antara para bakat muda terpilih itu, ada nama Sherlita Ayu Wahjono, seorang fashion designer asal Samarinda. Busana rancangannya tak hanya mentas di malam final, tapi sekaligus menjadi yang terbaik alias juara. Bertambah lagi penghargaan bergengsi nasional yang diraih dara 27 tahun tersebut.

Upaya Sherlita Balas Dukungan Orang Terdekatnya

Sherlita membagikan kisahnya kepada Kaltim Faktual belum lama ini. Dia mengaku tidak menyangka namanya muncul sebagai pemenang. Apalagi melihat karya dari desainer lain yang menurutnya juga oke.

“Lebih kayak, yang kali ini itu lebih enggak mikir ke juaranya. Tapi kali ini tuh lebih ke aku berusaha kasih yang lebih baik nih dari tahun lalu.”

Baca juga:   Para Pekerja IKN Sudah Mulai Mudik Lewat Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan

“Baik dari teknik jahitnya, terus lebih ke tren fashion design-nya, warnanya, lebih kayak gitu. Jadi lebih fokus pengin kasih karya yang terbaik gitu dari tahun lalu. Insyaallah kalau rezeki kan enggak akan ke mana gitu,” kisah Sherlita.

Sherlita
Dukungan dari keluarga tak pernah putus sepanjang karier desainnya. (Dok/Sherlita Ayu)

Meski nothing to lose, Sherlita berusaha sekuat mungkin memberi jerih payah terbaiknya. Mengingat dukungan dari keluarga dan orang terdekat yang ia dapat begitu besar. Apalagi kegagalan di ajang yang sama tahun lalu masih lekat dalam ingatannya. Sehingga ia berangkat ke Jakarta dengan effort terbaiknya, namun dengan ekspektasi seringan mungkin.

Dari Samarinda untuk Jakarta

IFW tahun 2024 ini, mengangkat tema Langgam Jakarta Teranyam. Diambil sebagai bentuk apresiasi terhadap kaleidoskop budaya Betawi yang memiliki simbol Bhineka Tunggal Ika.

Melalui tema ini, IFW 2024 mencoba merangkul multikulturalisme dan esensi kebhinekaan melalui kacamata mode. Melalui perbaduan tradisi Melayu, Tiongkok, Arab, dan Eropa dalam budaya Betawi.

Termasuk tema yang sangat menantang bagi Sherlita yang berasal dari Bumi Etam. Perbedaan pulau membuatnya tidak terlalu dekat dengan kebudayaan Betawi.

“Saya bukan orang Jakarta. Tapi orang Kaltim gitu. Kita diminta untuk mengembangkan kebudayaan dari budaya lain. Apalagi waktunya cukup singkat.”

“Selama 3 hari saya cari tahu. Kalau suku Betawi itu seperti apa, terus letak geografisnya seperti apa, bahkan sampai sejarahnya juga, pekerjaan utamanya,” kata Sherlita.

Baca juga:   Di Ujung Ramadan, Balap Lari di Samarinda Jadi Ajang Resmi, Berhadiah Rp25 Juta
Sherlita
Dari Samarinda, Sherlita akan membantu perkembangan mode etnik Jakarta dalam beberapa waktu ke depan. (Dok/Shelita Ayu)

Dari hasil risetnya, Sherlita lebih menonjolkan mengangkat Batik Betawi bermotif monas. Dengan warna biru laut dan putih yang masih netral. Dipadukan dengan desain yang modern, berpadu juga dengan bahan sustainable.

Melalui karyanya, Sherlita ingin mengedukasi bahwa Jakarta atau sesuatu yang berbau daerah itu tidak selamanya desainnya hanya seputar daerah tersebut. Jadi bisa dipadu padankan.

“Pesannya sebenarnya lebih kepada gimana sih caranya untuk mengangkat kain wastra yang ada di Indonesia ini bisa diterima di kancah internasional atau global gitu.”

“Lalu lebih kepada bagimana caranya membuat batik, kan saya ngangkatnya batik. Batik Betawi dikombinasikan dengan pesisir (ciri khas Betawi). Dan dengan desain Gen-Z,” tambah Sherlita.

Dengan begitu, karyanya bisa dipakai semua kalangan. Dan orang jadi lebih pede menggunakan batik, karena lebih modern dan style kekinian. Sherlita mengaplikasikan kain batik dengan tambahan bahan denim yang banyak dipakai orang.

Sekolah Mode di Kota Milan

Sebagai juara pertama, Sherlita Ayu Wahjono mendapatkan hadiah uang tunai Rp9 juta, dan program beasiswa pendidikan di Italia selama 9 bulan. Termasuk dengan biaya hidupnya ditanggung oleh IFW 2024.

Baca juga:   Ketua Golkar Kaltim Rudy Mas’ud Isyaratkan ‘Tutup Pintu’ untuk Mahyudin di Pilgub 2024

Kata Sherlita, hadiah beasiswa kuliah sekaligus biaya hidup ini, baru diterapkan perdana pada tahun ini. Sebab sebelumnya hanya beasiswa saja. Sehingga penyandang juara tidak sanggup dengan biaya hidup di sana.

“Iya kuliah fashion selama 9 bulan di Milan Italia. Jadi didukung sama Dispora DKI Jakarta.”

Sebagai hadiah dari ajang ini, Sherlita akan menjalani pendidikan di Kota Milan. (Dok/Sherlita Ayu)

Ini akan menjadi babak baru dalam karier desainnya. Sebuah perjalanan yang mestinya sangat seru. Karena, tak ada yang lebih baik dari belajar mode di kota mode dunia.

Karena menganggap ini sebagai batu loncatan baru, wanita yang gemar melukis di waktu luangnya ini bertekat bahwa ke depan, ada banyak tantangan lain yang ingin ia taklukkan. Tidak berpuas di sini saja.

Setelah lulus pendidikan di Milan. Sherlita menyebut akan kembali ke Tanah Air. Untuk mengembangkan fesyen di Indonesia terutama untuk DKI Jakarta dan juga Kaltim, tanah kelahirannya.

Karena setelah lulus, ia terikat kontrak untuk membantu mengembangkan wastra DKI Jakarta. Namun tanpa melupakan pengembangan wastra Kaltim. Lebih luasnya wastra Indonesia agar bisa lebih diterima.

Termasuk dengan mengadakan berbagai pelatihan. Hasil pendidikannya di negara orang. Agar bisa diaplikasikan ke fesyen di Indonesia, pelaku fesyen lebih kompeten dan bisa menyentuh pasar global.

“Pokoknya dari ilmu-ilmu yang saya dapat di luar itu saya ingin kembali ke Indonesia untuk membangun. Baik dari SDM-nya dan lainnya.”

“Intinya, saya tetap tidak akan meninggalkan wastra-wastra Indonesia dalam setiap karya saya gitu,” pungkasnya. (ens/dra)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.