Connect with us

NASIONAL

Perpendek Rantai Perdagangan Sayur, Sambut IKN, Kaltim Jalin Kerja Sama dengan Sulteng

Published

on

Presiden Joko Widodo mengumumkan Kalimantan Timur sebagai calon ibu kota negara (IKN) menggantikan DKI Jakarta, 26 Agustus 2019 lalu.  Saat ini, rencana pembangunan fisik IKN terus  dimatangkan. Lantas bagaimana upaya Kaltim untuk menyiapkan ketersediaan bahan kebutuhan pokok jelang pemindahan ibu kota negara baru? 

Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Provinsi Kaltim mengambil langkah cepat merespon hal tersebut. Kerja sama pun digalang. Salah satunya dengan Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) yang selama ini menjadi mitra Kaltim dalam pemenuhan bahan kebutuhan pokok, terutama sayur mayur. 

LOKER AM GROUP

Jalinan kerja sama ini dimaksudkan demi menjamin ketersediaan berbagai kebutuhan bahan  pokok, sekaligus menjaga stabilitas harga, sebab antara pembeli dan produsen dari Kaltim langsung dipertemukan dengan para pedagang dan petani di Sulteng. 

Selain untuk memenuhi kebutuhan 3,7 juta penduduk Kaltim, kerja sama ini juga sebagai antisipasi jika kelak rencana pindah  ibu kota negara ke Kaltim benar-benar terwujud. Dimana diperkirakan akan ada perpindahan pegawai kementerian dan lembaga terkait lainnya tidak kurang dari 1,5 juta jiwa.  Belum lagi migrasi penduduk daerah lain yang pasti akan berbondong-bondong ke Kaltim untuk mencari penghidupan dari rencana perpindahan ibu kota negara tersebut.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop dan UKM Provinsi Kaltim HM Yadi Robyan Noor mengungkapkan hingga saat ini sekitar 85 persen  pemenuhan kebutuhan bahan pokok Kaltim masih sangat bergantung dari pasokan luar daerah.  

“Dari jumlah itu 60 persen berasal dari Sulawesi, termasuk Sulawesi Tengah,” ungkap Roby saat membuka Forum Koordinasi Temu Usaha Perdagangan Antara Provinsi Kalimantan Timur dengan Provinsi Sulawesi Tengah di Swiss-Belhotel Palu, Rabu (2/6/2021). 

Baca juga:   Realisasi Pemulihan Ekonomi Nasional Sampai April Capai Rp70 Triliun

Langkah cepat ini dilakukan sebagai upaya membantu gubernur dan wakil gubernur menjaga ketersediaan bahan kebutuhan pokok dan memastikan stabilitas harga. 

Yang pasti, kata Roby, kerja sama harus saling menguntungkan. Menguntungkan pengusaha Sulteng  dan membahagiakan pengusaha Kaltim.  Terpenting lagi, stok bahan pokok aman dan harga stabil di masyarakat.

Selain menggelar Forum Koordinasi Temu Usaha Perdagangan dengan Provinsi Sulawesi Tengah, Disperindagkop dan UKM Kaltim juga mengunjungi sentra-sentra pertanian di Kabupaten Sigi dan Poso.

Lima pedagang Kaltim yang biasa mengisi kebutuhan sayur di pasar induk Balikpapan, Samarinda, PPU dan Paser pun ikut serta dalam kunjungan lapangan ini.

Harapannya, akan terjadi komunikasi yang lebih baik antara petani/penjual dan pembeli asal Kaltim, sekaligus mengurangi mata rantai perdagangan mereka, sehingga lebih menguntungkan kedua belah pihak. 

“Setelah kunjungan ini mereka sangat optimis. Mereka sudah saling bertemu dan seharusnya tidak ada mata rantai lain di antara mereka,” tegas Roby.

Dengan kerja sama ini kedua pihak akan saling diuntungkan. Dimana  suplai dan permintaan sama-sama tersedia. Dengan begitu, harga akan lebih bersaing dan menekan kemungkinan terjadinya lonjakan harga seperti harga cabai rawit yang mencapai Rp200 ribu per kilogram. 

Koordinator Pedagang Kaki Lima (PKL) Balikpapan Abdullah Lijar yang merupakan salah satu pedagang sayur di Kota Beriman mengaku sangat terbantu dengan bisnis matching yang diinisiasi Disperindagkop dan UKM Kaltim ini. 

Baca juga:   Keluhkan Dana Bagi Hasil, Gubernur Kaltim Isran Noor Minta Pusat Adil

“Manfaatnya bagi saya sangat luar biasa. Karena kami bisa langsung ambil sayuran dari petani dan pengumpul di sini. Biasanya, kami beli dari tangan kedua atau ketiga. Jadi ini luar biasa bisa langsung ke petani,” puji Abdullah Lijar. 

Senada dengan Abdullah Lijar, pengusaha asal Balikpapan lainnya, Helmi Taufik. 

“Syukur alhamdulilah sangat bermanfaat. Kami sekaligus bisa memperluas jaringan usaha dan meningkatkan kepercayaan dengan mitra kami di Sulteng karena didampingi langsung kepala Disperindagkop Kaltim,” ungkap pengusaha muda tersebut. 

Terdapat tiga sentra pertanian yang dikunjungi Kamis (3/6), pekan lalu.  Yakni, sentra bawang palu dan bawang besar di Desa Lolu, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi. Kemudian sentra penggemukan sapi dan industri bawang goreng juga di Kecamatan Biromaru. 

Rombongan Disperindagkop dan UKM bersama para pengusaha sayur Kaltim juga mengunjungi perbukitan Napu di Kabupaten Poso, sekitar 4 jam perjalanan dari Palu. 

Mereka menyaksikan langsung hamparan lahan pertanian di sekitar Desa Banyu Sari Kecamatan Lore Utara dan Desa Winomanga, Kecamatan Lore Timur. 

Kecamatan Lore Timur memiliki 5 desa dengan lahan pertanian sayur mayur seluas 500 hektare dan potensi yang belum tergarap 500 hektare. Sedangkan Kecamatan Lore Utara memiliki 7 desa dengan luasan terolah 500 hektare dengan potensi yang belum diolah mencapai 1000 hektare. 

Sayuran yang ditanam di kawasan yang menghampar luas ini antara lain bawang merah, cabai rawit, cabai keriting, tomat, terong, sawi, kembang kol, dan lain sebagainya. 

Mereka juga mengunjungi Sub Terminal Agribisnis (STA)  Cendana Tani  yang dipimpin Misriani di Lore Timur. STA ini membantu membeli hasil panen petani dua kecamatan yang dikelilingi perbukitan Napu.

Baca juga:   Pra-KTT III Y20 Indonesia 2022 Balikpapan Berakhir, Selanjutnya di Manokwari

“Kami juga memasok kebutuhan sayur untuk Kaltim. Seminggu dua kali kami kirim dengan sekali kirim 5-6 ton,” ungkap Ketua STA Cendana Tani Misriani.

Selama ini, pengiriman sayur mayur ke Kaltim melalui tiga pelabuhan yakni Wani, Taipa dan Pantoloan. 

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulteng Richard Arnaldo mengaku sangat gembira dengan inisiatif kerja sama ini. 

Dia mengaku sudah merencanakan kerja sama ini dan ternyata Kaltim datang lebih awal membawa inisiatif tersebut. 

“Tentu kami sangat senang dengan inisiatif kerja sama ini.  Produk yang mau kita jual ternyata sudah ada pasarnya. APBD Kaltim mencapai Rp13 triliun, apalagi sebentar lagi Kaltim akan  jadi ibu kota negara,” tegas Richard Arnaldo. 

Melihat peluang besar kerja sama ini, Richard memastikan Sulteng akan memaksimalkan semua potensi agar dapat terus bersinergi dengan Kaltim.

Setelah penandatanganan kerja sama, para pelaku usaha Kaltim dan Sulteng langsung melakukan transaksi. Nilai transaksi yang dihasilkan bahkan mencapai Rp2,8 miliar.

Terdiri dari barang kebutuhan pokok (sayur-mayur, cabai, tomat, kentang dan lain-lain) sebanyak Rp2,3 miliar dan  komoditi kopra edible senilai Rp594 juta. Transaksi  kerja sama ini  belum termasuk transaksi lain  di luar kebutuhan bahan pokok yang dilakukan setelah penandatanganan kerja sama.

Kunjungan ke Sulteng tersebut juga dihadiri Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Kaltim H Nazrin. (sul/humasprovkaltim)

Bagikan
Lanjut Membaca
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.