Connect with us

SEPUTAR KALTIM

Probebaya Jadi Primadona, Musrenbang Mendekati Ajalnya

Published

on

probebaya musrenbang
Anggota DPRD Samarinda Mujianto saat ditemui awak media. (Sigit / Kaltim Faktual)

Sejak Pemkot Samarinda meluncurkan program Probebaya tahun lalu. Musrenbang di Kota Tepian kian lesu. Padahal idealnya, keduanya bisa jalan bareng.

Pemkot Samarinda yang dinakhodai Andi Harun meluncurkan Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya). Pada pertengahan tahun lalu.

Program ini adalah bagian dari janji politik Andi Harun – Rusmadi saat bertarung di Pilwali lalu. Mereka menjanjikan akan mengucurkan anggaran Rp100-300 juta per RT.

Setahun setengah berjalan, Probebaya mulai menunjukkan hasil. Meski memulai dengan Rp75 juta untuk 1 RT tiap kelurahan. Perlahan penyebarannya kian merata.

Namun bersamaan dengan itu, program Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) kian lesu. Wali Kota Andi Harun, saat memberi sambutan pada Gebyar Probebaya di Palaran, Kamis 8 Desember 2022 mengamini hal itu.

Baca juga:   Uji Coba Lagi, Borneo FC Rahasiakan Calon Lawannya

“Saya mendapat laporan, kegiatan Musrenbang di tingkat kelurahan maupun kecamatan, tidak lagi seru seperti tahun-tahun sebelumnya.”

“Karena dengan adanya Probebaya, maka semua RT di Samarinda, telah mendapatkan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi warganya masing-masing,” ungkap Andi Harun.

Anggota DPRD Samarinda Mujianto yang berada di acara yang sama. Mengatakan di antara yang membuat eksistensi Musrenbang makin redup. Adalah kepercayaan masyarakat mulai berkurang terhadap program itu.

Musrenbang dinilai hanya kebanyakan rapat, realisasi tipis. Bahkan sering nihil.

“Dari tahun ke tahun, musrenbang selalu diadakan. Tetapi hasilnya apa?”

“Usalan masyarakat dari tingkat RT, kelurahan, kecamatan, realisasinya sangat kecil, bahkan bisa dihitung jari,” ujar Mujianto.

Baca juga:   Bus Kontingen PPU Masuk Jurang, 11 Orang Jadi Korban

Secara sederhana, Musrenbang dapat dijelaskan seperti ini. Masyarakat di tingkat RT menggelar rapat. Menentukan program pembangunan prioritas untuk wilayah mereka.

Hasilnya dibawa ke Musrenbang kelurahan. Usulan dari semua RT lalu dikerucutkan dengan skala prioritas. Habis itu lanjut ke Musrenbang kecamatan dengan skema yang sama. Hasilnya disetor ke pemkot, dan kembali disaring. Realisasinya? Tergantung OPD.

Prosesnya memang panjang. Namun Musrenbang adalah aplikasi dari keterlibatan masyarakat dalam pembangunan. Dan karena sumber duitnya beda, Mujianto merasa Probebaya dan Musrenbang bisa dikawinkan. Jalan bareng tanpa perlu menganaktirikan satu di antaranya.

“Sinergitas dibutuhkan dalam perkembangan daerah, jangan hanya memprioritaskan Probebaya, dan memandang sebelah mata Musrenbang,” tambahnya.

Baca juga:   Sengketa Lahan Pertanian-Pertambangan di Batuah, Komisi I Segera Cek Lapangan

Lagian sejak awal peluncuran Probebaya, Wali Kota Andi Harun sudah menegaskan. Bahwa Probebaya yang mengucurkan duit sebesar Rp100-300 juta itu. Tidak dalam bentuk duit. Namun program. Eskalasinya 60 persen untuk pembangunan, 40 persen untuk pemberdayaan masyarakat. Dan program yang dibiayai oleh Probebaya, tidak boleh berbenturan dengan program pembangunan dari OPD.

Maka idealnya, Probebaya dan Musrenbang harusnya tidak saling meredupkan. Namun jalan bersamaan untuk mencapai target pembangunan yang lebih besar.

Dan untuk memaksimalkannya, pemkot hanya perlu memasukkan poin-poin besar Musrenbang, dalam rencana pembangunan mereka. Baik jangka pendek, menengah, ataupun jangka panjang. Tanpa membelokkan arah pembangunan yang sudah dirancang pemkot sendiri. (sgt/dra)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.