Connect with us

OLAHRAGA

‘Usut’ Tragedi Kanjuruhan, Narasi Dapat Teror Terbesar Sepanjang Sejarah Media di Indoneisa

Published

on

narasi

Akibat ikut ‘mengusut’ Tragedi Kanjuruhan, media siber dan digital besutan Najwa Shihab; Narasi. Mendapatkan teror terbesar dalam sejarah permediaan di Indonesia. Lebih ngeri dari era Orba?

Keputusan Narasi ikut serta dalam mengurai benang masalah Tragedi Kanjuruhan berdampak pada dua hal. Didukung semesta, diserang ‘pasukan neraka’.

Sebelumnya, Narasi mengumumkan akan merangkai kronologi tragedi memilukan di Kanjuruhan. Dengan menjahit video detik demi detik. Agar semua mata dapat menyaksikan secara runut, apa yang sebenarnya terjadi sebelum dan saat Tragedi Kanjuruhan pecah.

Sejak diumumkan, dukungan dari masyarakat, figur publik, sampai media massa mengalir deras. Ratusan orang yang saat kejadian berada di Kanjuruhan. Secara suka rela mengirimkan video ‘tangan pertama’ kepada redaksi Narasi.

Kepercayaan ini bukan tanpa sebab. Sebelumnya, Narasi berhasil merangkai video amatir menjadi fakta kronologi saat pembakaran halte di Jakarta. Ketika mahasiswa melakukan unjuk rasa penolakan Omnibus Law. Penah juga, Narasi mengungkap manipulasi RRC pada dunia soal Uighur.

Baca juga:   Business Matching Kaltim-Sabah; Menuju Era Baru Ekspor Perikanan

Sederhananya, ketika Narasi sudah turun tangan. Masyarakat akan lebih percaya pengusutan dari media ketimbang negara. Ironis, namun begitu kenyataannya.

Banyak yang mendukung, namun ada pula yang ketar-ketir. Karena jauh sebelum video bertajuk Momen-Momen Brutal Menjelang Kematian Massal di unggah oleh Narasi pada 14 Oktober. Teror demi teror silih berdatangan. Setiap hari.

Teror pertama datang pada 23 September 2022. Secara bergantian, akun media sosial karyawan Narasi diretas. Dari Facebook, Telegram, hingga WhatsApp. Hingga 12 Oktober 2022, tercatat 38 orang terdiri dari 31 karyawan Narasi dan 7 orang eks Narasi. Mendapat serangan masif dari entah siapa.

Selain menyerang personal. Peretas juga meneror laman Narasi. Untuk beberapa saat, laman itu sempat down. Peretas juga meninggalkan pesan, DIAM ATAU MATI.

Ketika ditotal, serangan peretas ke laman Narasi berjumlah 3.600 kali. Menurut catatan Aliansi Jurnalis Indonesia, serangan ini adalah yang terbesar dan termasif di Tanah Air. Belum pernah ada sebelumnya, media massa mendapat serangan sebrutal ini.

Baca juga:   Milo Harap Tak Ada Pemain Cedera saat Lawan Serpong City

Dewan Pers membenarkan catatan tersebut. Dengan menyebut bahwa serangan terbesar yang menyasar media di Indonesia, adalah yang diterima Narasi kali ini.

Diakui oleh beberapa personel Narasi, serangan itu sempat membuat mereka panik. Namun keberanian yang disuntikkan Najwa Shihab, membuat proyek penjahitan video Kanjuruhan tetap dilakukan hingga kini sudah tayang.

Narasi sendiri sudah membuat laporan ke Mabes Polri terkait peretasan ini. Untuk mencari siapa dalang dari serangan tak bertanggung jawab ini.

KATA NAJWA SHIHAB

Dalam video bertajuk Bahas Tragedi Kanjuruhan, KDRT, dan Peretasan Narasi | Musyawarah. Yang tayang di kanal YouTube Najwa Shihab pada 12 Oktober 2022. Najwa menceritakan soal peretasan itu.

“Upaya-upaya itu selalu ada, tapi jangan membuat kita gentar.”

“Yang sebenarnya mereka inginkan, adalah menimbulkan rasa ketatukan, bikin kita ragu, bikin kita waswas.”

“Setiap teror tuh, setiap ancaman, tujuan utamanya tuh untuk bikin nyali jadi ciut. Jadi justru itu yang harus kita lawan.”

Baca juga:   Andre Gaspar Datang ke Borneo FC di Waktu yang Tepat

“Kalau kena ke situ tuh, ya udah berhasil tujuannya. Berhasil terornya.”

“3600 kali loh, serangan di website. Jadi total kemarin Narasi diretas itu, ada 38 orang yang diteror. 31 karyawan Narasi, 7 yang eks Narasi.”

“Dan kemudian website Narasi sempat down karena diserang. Dengan pesan yang tercantum di situ Diam atau Mati.”

“Satu hal yang kemudian muncul dari serangan ini tuh, terharu banget karena banyak banget support dari banyak orang. Dari netizen, teman-teman wartawan, mahasiswa, masyarakat, aktivis. Kita tuh merasa enggak sendirian karena banyak banget ke Narasi.”

“Itu yang membuat hati hangat dan amunisi untuk menambahkan nyali itu ya dukungan itu.”

“Menurut catatan AJI, serangan ini adalah serangan terbesar, termasif, di Indonesia. Dewan Pers bilang serangan paling besar yang terkena ke media adalah serangan ke Narasi.”

“Serangannya terbesar, termasif, tapi Alhamdulillah dukungannya juga besar.”

Penyusun: Ahmad A. Arifin | Kaltim Faktual

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.