Connect with us

SEPUTAR KALTIM

Wawancara Nominasi Paritrana Award 2023, Gubernur Jelaskan Perlindungan Tenaga Kerja di Kaltim

Published

on

Paritrana Award 2023
Tangkapan layar Gubernur Kaltim Isran Noor saat mengikuti wawancara nominasi Penghargaan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (Paritrana Award) Tahun 2023 yang digelar secara daring oleh Panitia Tingkat Pusat Sekretariat Kemenko PMK di Jakarta, Senin 3 April 2023. (Adpim)

Gubernur Kaltim Isran Noor hadir langsung dalam wawancara nominasi Penghargaan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (Paritrana Award) Tahun 2023 yang digelar secara daring oleh Panitia Tingkat Pusat Sekretariat Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) di Jakarta, Senin 3 April 2023.

Kepada Panitia Tingkat Pusat dan Tim Penilai Paritrana Award 2023, Gubernur Isran Noor menjelaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kaltim dalam kebijakan jaminan sosial ketenagakerjaan.

Pertama, Gubernur Isran Noor mengungkapkan bahwa Pemprov Kaltim memberikan perlindungan jaminan sosial bagi pekerja Non-ASN dengan mengikutsertakan seluruh Non-ASN dalam 4 program perlindungan jaminan sosial. Yaitu, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, Jaminan Hari Tua dan Jaminan Pensiun.

Sejak tahun 2020, Pemprov Kaltim sudah mengalokasikan dana APBD untuk program perlindungan pekerja Non-ASN ini. Tahun 2020 dialokasikan Rp6,8 miliar untuk 9.609 tenaga kerja Non-ASN pada 2 program. Tahun 2021 alokasi lebih besar mencapai Rp23,5 miliar untuk perlindungan 10.277 tenaga kerja Non-ASN pada 4 program. Dan tahun 2022, alokasi disiapkan sebesar Rp31,3 miliar untuk perlindungan 10.277 tenaga kerja Non-ASN pada 4 program.

“Saat ini, Kalimantan Timur menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang melindungi pekerja Non-ASN dalam 4 Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan,” sebut Gubernur Isran Noor saat sesi pemaparan kepada Tim Penilai Paritrana Award.

Baca juga:   Pemprov Rancang Pergub Sistem Kerja Wujudkan Pemerintahan Berkualitas

Coverage kepesertaan Kaltim untuk program perlindungan tenaga kerja per Maret 2023 pada seluruh segmen sebesar 70,86 persen. Yakni dari jumlah angkatan kerja 1.358.649 orang, peserta aktif BPJS mencapai 962.711 orang. Coverage ini menjadi yang tertinggi di Kalimantan. Secara rinci, Kalimantan Utara coverage kepesertaan baru mencapai 57,86 persen. Kalimantan Tengah 52,92 persen, Kalimantan Selatan 34,25 persen dan Kalimantan Barat 32,28 persen.

Gubernur Isran menambahkan bukan hanya memberikan alokasi signifikan untuk program jaminan perlindungan tenaga kerja Non-ASN, dukungan juga diberikan Pemprov Kaltim dalam bentuk regulasi. Antara lain Surat Edaran Gubernur Kaltim Nomor : 560/2972/B.Kesra/2021 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Timur.

“Surat edaran ini menginstruksikan kepada para bupati dan wali kota agar mengalokasikan anggaran untuk pegawai pemerintah dengan status Non-ASN untuk mengikuti Program BPJS Ketenagakerjaa. Lalu mewajibkan pemberi kerja/perusahaan mengikuti Program BPJS Ketenagakerjaan sektor penerima upah (PU). Kemudian mendorong kepesertaan pekerja bukan penerima upah (BPU)/pekerja rentan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan sektor informal,” beber Gubernur.

Baca juga:   Pemprov Kaltim Optimis Raih PPD Tahun Ini

“Surat edaran itu juga mewajibkan perusahaan pelaksana jasa konstruksi yang mendapat pekerjaan dari pemerintah, pemerintah daerah, BUMN/BUMD dan swasta mengikutsertakan pekerjanya dalam Program BPJS Ketenagakerjaan pada Program Jaminan Kecelakaan dan Jaminan Kematian,” tegas Gubernur Isran lagi.

Gubernur pun telah mengeluarkan Surat Edaran Gubernur Kalimantan Timur Nomor : 560/11855/B2186-IVB.Kesra tanggal 28 November 2022 yang ditujukan kepada pimpinan perusahaan, perihal Pelaksanaan Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Provinsi Kalimantan Timur.

Dengan surat edaran ini Gubernur meminta agar perusahaan mendaftarkan seluruh tenaga kerja dan mengikuti Program BPJS Ketenagakerjaan sesuai dengan skala usaha dan melaporkan upah secara benar kepada BPJS Ketenagakerjaan.

Sudah Diverifikasi

“Perusahaan sektor jasa konstruksi wajib mendaftarkan tenaga kerjanya ke dalam Program Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian. Termasuk perlindungan pekerja rentan di lingkungan kerja perusahaan melalui dana CSR. Sekaligus pemberian sanksi kepada pemberi kerja/badan usaha yang tidak melaksanakan ketentuan sesuai peraturan Perundangan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan,” paparnya lagi.

Untuk lebih memperkuat kebijakan ini, pun telah disiapkan Rancangan Peraturan Gubernur Provinsi Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan yang saat ini tengah dalam proses harmonisasi dengan Kantor Wilayah Kemenkumham.

Baca juga:   Wagub Dikukuhkan Sebagai Bapak Yatim Kaltim

“Sebenarnya ini bukan lagi rancangan. Sudah selesai, tinggal melaksanakan dan akan kami laksanakan. Sekarang sedang kami harmonisasikan dengan Kanwil Kemenkumham Kaltim,” tegas Gubernur.

Cakupan rancangan peraturan gubernur ini meliputi penegasan kewajiban pemberi kerja/badan usaha mendaftarkan seluruh tenaga kerja ke dalam program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, termasuk tenaga kerja sektor jasa konstruksi. Perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi tenaga kerja Non-ASN. Serta perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja rentan dari berbagai sektor.

Ditambah lagi nota kesepakatan (MoU) yang dilaksanakan oleh setiap kabupaten/kota sebagai turunan dari Surat Edaran Gubernur Kalimantan Timur atas komitmen perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.

“Tahun 2023 ini kami juga siapkan perlindungan pekerja rentan melalui APBD murni dan APBD perubahan sebanyak 100.000 tenaga kerja rentan yang terdiri dari pekerja keagamaan, nelayan, petani, UMKM, dan pekerja lain yang termasuk kategori miskin,” tandas Gubernur. (sul/yans/adpimprovkaltim/am)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

ADVERTORIAL DISKOMINFO KALTIM

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.