GAYA HIDUP
Generasi Muda Jadikan Konten TikTok sebagai Standar Kehidupan, Psikolog: Kurangi atau Periksa Diri
TikTok semakin mempengaruhi pola pikir generasi muda. Banyak yang mengaminkan konten viral menjadi standar hidup. Psikolog sarankan untuk mengurangi konsumsi konten atau periksa diri jika merasa terganggu. Jangan ya Dek ya!
Beberapa tahun belakangan, media sosial semakin digandrungi, utamanya oleh generasi muda. Hal itu berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Termasuk mengkonstruksi realitas dan membentuk pola perilaku dan budaya.
Perubahan-perubahan tersebut bersumber dari banyaknya konten yang muncul di media sosial. Yang dengan algoritma, konten muncul disesuaikan dengan kebutuhan atau berkaitan dengan ketertarikan pengguna.
Salah satu yang paling besar pengaruhnya, ialah TikTok. Yakni sebuah platform media sosial berbasis video yang kini sangat populer. TikTok sendiri dikenal dengan beragam tren yang kerap viral dan punya jangkauan besar.
Banyak penggunanya, kemudian berlomba-lomba meraih popularitas. Membuat beragam konten demi memenuhi jangkauan besar hingga bisa mendapatkan banyak penonton, interaksi suka, dan komentar.
Mulai dari konten joget, quotes tentang kehidupan, kesehatan mental, hingga beragam opini yang berusaha diekspresikan. Dari sana, banyak konten yang isinya dianggap sesuai, kemudian diaminkan dan menjadi standar hidup baru.
Misalnya kecantikan, standar pasangan yang ideal, gaya hidup mewah, hingga pencapaian kehidupan. Konten viral itu banyak yang menjadi pedoman menjalani kehidupan yang dinilai ideal karena disukai banyak orang.
Psikolog Beri Peringatan
Dosen Prodi Psikologi FISIP Unmul Ayunda Ramadhani menilai konten yang banyak beredar di media sosial saat ini seringkali tidak realistis. Hanya mencari sensasi dan kepopulerannya saja.
“Jadinya sifatnya komersil agar dapat like, komen, adsense, dan kehilagan unsur edukatifnya,” jelas Ayunda ketika dihubungi Rabu, 4 September 2024.
Termasuk juga konten berkaitan dengan psikologi yang sedang ramai dan banyak mendapatkan umpan balik. Banyak dikemas berdasarkan hasil membaca singkat tanpa mendalani ilmu tersebut secara khusus.
Lalu disampaikan dengan dalih edukasi kesehatan mental. Dan mengafirmasi berbagai perasaan tidak menyenangkan yang banyak dialami kemudian dikaitkan dengan diagnosis dalam ilmu psikologi.
Karena banyak yang merasa ‘relate’ akhirnya membenarkan konten tersebut secara mentah-mentah, tanpa menganalisis isi konten. Padahal konten disajikan dengan sangat singkat dan tidak memiliki rujukan ilmiah.
Ayunda menyayangkan banyaknya konten sejenis itu yang diproduksi oleh kreator yang tidak paham. Sehingga informasi yang disampaikan pun perlu diuji kembali kebenarannya.
“Jadi konten media sosial yang durasinya hanya satu menit itu lebih ditangkap maksudnya. Karena informasi yang disajikan itu ringkas, dan seolah-olah relate.”
“Dan mereka menganggap informasi itu cukup, padahal untuk memahami sesuatu itu butuh proses,” tambah Ayunda.
Bahayanya Konsumsi Konten Medsos Berlebihan
Ia menilai penyebab generasi muda saat ini mudah terbawa arus informasi itu. Sebab mayoritas dari mereka ingin serba instan, cepat, dan praktis. Padahal untuk melakukan diagnosis, tidak cukup hanya melalui konten semenit.
Ayunda mengimbau untuk tidak mudah percaya pada konten yang hanya satu menit untuk mengetahui kondisi diri sendiri. Agar tidak menjadi self diagnose dan berujung tidak mendapat penanganan yang sesuai.
“Banyak konten mendramatisir dan akhirnya self diagnosis.”
“Kalau kita self diagnosis itu kita tidak akan mendapatkan bantuan yang kita butuhkan, karna self diagnos itu belum tentu benar, kebanyakan salah.”
Ayunda bilang, generasi muda harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Terutama merespons konten. Jika merasa memang mengalami gangguan, lebih baik datang kepada ahlinya, yakni ke layanan psikolog.
Selain itu, berbagai hal yang ditampilkan di media sosial tidak selamanya benar dan sesuai dengan realitas yang ada. Mengingat kehidupan, masing-masing orang tidak ada yang sama.
“Jadi belum tentu kejadian yang terjadi di satu orang kemudian serta merta harus kita ikuti, jadi saran saya kurangi konten yang justru membuat kita insecure,” kata Ayunda lagi.
Ayunda menyarankan agar para generasi muda, mengikuti konten kreator atau influencer yang benar-benar mengedukasi. Yang kontennya bermanfaat dan bisa dipertanggungjawabkan. Agar tidak salah mencontoh.
“Jadi jangan mengandalkan TikTok, karena TikTok itu sebenarnya platform yang dibuat untuk menghibur, dan komersil. Jadi hati-hati,” pungkasnya. (ens/fth)
-
PARIWARA5 hari agoGathering Team AEROX Hadir kembali, Ratusan Bikers dan Modifikasi AEROX Kepung Jalanan Kota Bandung dan Surabaya
-
PARIWARA4 hari agoWorld Supersport 2026 Kick Off, Aldi Satya Mahendra El’ Dablek Jadikan Momentum Awal Positif Musim Ini
-
SAMARINDA4 hari agoBuka Safari Ramadan Pemprov Kaltim, Rudy Mas’ud Minta Masjid Jadi Wadah Kaderisasi Pemuda
-
NUSANTARA3 hari agoAnti Worry! Healing ke Swiss van Java Jadi Semakin Syahdu Bareng Warna Terbaru Classy Yamaha
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoWaspada Banjir Rob, BMKG Peringatkan Pasang Laut Kaltim Capai 2,8 Meter Sepekan ke Depan
-
EKONOMI DAN PARIWISATA2 hari agoCuma Disokong Rp5 Juta, Kampung Ramadan Temindung Sukses Gerakkan Ekonomi Samarinda
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoAngka Kebugaran Warga Benua Etam Mengkhawatirkan, KORMI Kaltim Turun Tangan Gagas ‘Kaltim Aktif’
-
SAMARINDA4 hari agoCetak Rekor di Kalimantan, Korem 091/ASN Raih Kartika Award sebagai Wilayah Bebas Korupsi

