SAMARINDA
27 Sekolah di Samarinda Masih PJJ, Belum Ada Batas Waktu Pembukaan
Sebanyak 27 sekolah di Samarinda masih menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat kualitas udara yang memburuk di sejumlah wilayah. Hingga Senin, 12 Oktober 2026, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda belum menetapkan kapan sekolah-sekolah tersebut bisa kembali menggelar pembelajaran tatap muka.
Keputusan untuk membuka kembali sekolah masih bergantung pada perkembangan kualitas udara dan rekomendasi puskesmas di masing-masing wilayah. Artinya, siswa belum bisa dipastikan kembali belajar di kelas dalam waktu dekat selama kondisi udara belum dinyatakan membaik.
Pelaksana Tugas Kepala Disdikbud Kota Samarinda, Eko Suprayetno, mengatakan hujan dan berhentinya aktivitas pembakaran lahan diharapkan dapat membantu mempercepat pemulihan kualitas udara.
“Kalau hujan segera turun, kemudian pembakaran lahan juga tidak terjadi, ini semakin cepat kondisi kualitas udara kita membaik,” ujarnya, Senin (12/10/2026).
Berdasarkan laporan yang diterima Disdikbud, sekolah yang masih menjalankan PJJ didominasi wilayah Kecamatan Palaran dan Sambutan. Sementara itu, sekolah di kecamatan lain belum melaporkan penerapan kebijakan serupa.
Meski demikian, kondisi tersebut masih dapat berubah. Sekolah yang saat ini menjalankan pembelajaran tatap muka tetap berpeluang beralih ke PJJ apabila kualitas udara di wilayahnya memburuk.
Pembukaan Sekolah Menunggu Rekomendasi Puskesmas
Disdikbud Samarinda tidak menetapkan batas waktu PJJ yang berlaku seragam bagi seluruh sekolah. Kebijakan disesuaikan dengan kondisi lingkungan masing-masing wilayah agar keselamatan dan kesehatan siswa tetap menjadi pertimbangan utama.
Untuk menentukan metode pembelajaran, sekolah diminta mengacu pada rekomendasi puskesmas setempat. Hasil rekomendasi tersebut kemudian dilaporkan kepada Disdikbud sebagai bahan pemantauan dan evaluasi.
“Jadi sekolah mendasarkan kepada rekomendasi dari Puskesmas, kemudian menyampaikan laporan tersebut kepada dinas untuk kita melakukan monitoring dan evaluasi,” kata Eko.
Disdikbud juga berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Dinas Kesehatan untuk memantau perkembangan kondisi udara.
Koordinasi lintas instansi ini diperlukan karena persebaran asap dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran. Wilayah yang sebelumnya tidak terdampak bisa mengalami penurunan kualitas udara apabila muncul titik api baru atau asap bergerak ke kawasan permukiman.
Karena itu, pemantauan tidak hanya dilakukan di Palaran dan Sambutan, tetapi juga perlu mencakup wilayah lain di Samarinda. Dengan mekanisme tersebut, keputusan untuk menerapkan PJJ maupun kembali ke pembelajaran tatap muka dapat disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan.
Siswa Diminta Pakai Masker, PJJ Belum Ditentukan Batasnya
Di tengah belum adanya kepastian pembukaan kembali sekolah, Disdikbud meminta satuan pendidikan yang masih menggelar pembelajaran tatap muka untuk meningkatkan perlindungan terhadap peserta didik.
Siswa diimbau menggunakan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan, serta memastikan ventilasi ruang kelas berfungsi dengan baik. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi paparan asap selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Namun, pelaksanaan pembelajaran tetap harus mempertimbangkan kondisi udara di lingkungan sekolah dan rekomendasi puskesmas setempat.
Disdikbud Samarinda menyatakan pemantauan dan evaluasi akan terus dilakukan berdasarkan laporan dari sekolah serta perkembangan kualitas udara. Kebijakan pembelajaran dapat berubah apabila kondisi di lapangan menunjukkan adanya perbaikan atau justru memburuk.
“Perubahan kebijakan pembelajaran akan mempertimbangkan hasil pemantauan serta rekomendasi dari puskesmas di masing-masing wilayah,” pungkas Eko.
Dengan masih adanya 27 sekolah yang menerapkan PJJ, kepastian kembali belajar di kelas kini bergantung pada pemulihan kualitas udara. Selama asap masih berpotensi mengganggu kesehatan, sekolah dan pemerintah daerah perlu memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung dengan memperhatikan keselamatan siswa. (Gi/am)
-
NUSANTARA1 hari agoAdik Presiden Prabowo Sebut Hutan Rusak Jadi Sumber Karhutla, 12,7 Juta Hektare Disiapkan untuk B50-B100
-
FEATURE1 hari agoPameran Di Balik Situs Angkat Kisah Sejarah Kaltim dan Kaltara Lewat Seni Rupa
-
SEPUTAR KALTIM1 hari agoPemprov Kaltim Siapkan Surat Edaran Pembatasan Peredaran Vape
-
POLITIK2 hari agoRudy Mas’ud ke Singapura untuk Medical Check Up, Pemprov Jelaskan Izin Perjalanan
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoEl Nino Kuat Berlanjut hingga 2027, Kaltim Diminta Waspadai Kemarau Panjang dan Bencana Hidrometeorologi
-
NUSANTARA3 hari agoKarhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, Asap Meluas dan Ribuan Hektare Lahan Terbakar
-
BALIKPAPAN3 hari agoYamaha Gelar Pengundian Bombastis, Empat Pelanggan dari Balikpapan hingga Banjarbaru Bawa Pulang Motor
-
KUKAR1 hari agoDesa Penghubung IKN Jadi Lokasi TMMD ke-130 di Kukar

