Connect with us

SAMARINDA

Arkan Sparring Night Tenggarong Buka Ring di Samarinda, Berharap Dapat Dukungan KORMI Kaltim

Published

on

Arkan Sparring Night buka arena adu tarung di Samarinda. Ajang yang jadi tren gaya hidup ini sukses sedot peserta lintas kota, tagih dukungan KORMI Kaltim.

Olahraga tarung kini tidak lagi sekadar urusan adu fisik di atas arena, melainkan telah menjelma menjadi gaya hidup perkotaan sekaligus daya tarik wisata dan hiburan olahraga. Di Samarinda, denyut itu makin terasa lewat ajang Arkan Sparring Night.

Sabtu 14 Februari 2026 malam, keriuhan pecah di Gedung Taekwondo, kawasan Polder Air Hitam, Jalan AW Sjahranie. Ratusan pasang mata disuguhi laga sengit para petarung, mulai dari kelas berat hingga bibit-bibit muda di kelompok usia junior.

Berawal dari sebuah pemusatan latihan sederhana di Tenggarong 11 tahun silam, Arkan—yang dalam bahasa Arab bermakna “Orang-orang Kuat”—kini melebarkan sayapnya ke ibu kota provinsi.

Pendiri Arkan, Rony Abdurahman, tidak menampik bahwa ajang ini awalnya digagas sekadar untuk latihan tanding biasa. Namun, tren gaya hidup bela diri yang makin digandrungi membuat eskalasi acara membesar dengan sendirinya.

“Tujuan awal Arkan Sparring Night ini sebenarnya hanya untuk latih tanding biasa. Tapi seiring berjalannya waktu, peminatnya makin banyak, bahkan peserta datang dari luar kota seperti Banjarmasin, Berau, hingga Kalimantan Utara,” ujar Rony.

Ramah Pemula dan Ekstra Aman

Di bawah bendera Arkan Sport Management, kompetisi ini dirancang terbuka namun tetap mengutamakan keselamatan. Ada tiga disiplin yang dipertandingkan: Top Combat (fokus pertarungan atas), Striking Combat (kombinasi pukulan dan tendangan), serta Mixed Combat yang membebaskan teknik bantingan hingga kuncian di matras.

Menariknya, ajang ini meruntuhkan stigma bahwa olahraga tarung itu brutal dan eksklusif. Arkan membuka kelas dari usia 7 tahun hingga kelas pemula. Karena menyasar pegiat gaya hidup dan pemula, aspek keselamatan dipegang teguh. Setiap petarung wajib mengenakan perlengkapan pelindung lengkap, mulai dari sarung tinju, pelindung kepala, hingga pelindung badan.

Melahirkan Atlet Tanpa Dukungan Pemerintah, Rela Nombok

Paradoksnya, kemeriahan acara dan potensi perputaran ekonomi yang ada bertepuk sebelah tangan dengan sikap pemerintah daerah. Memasuki edisi kedelapan, Arkan masih berjalan tertatih secara mandiri tanpa kucuran dana segar dari pemangku kebijakan.

“Sampai saat ini belum ada perhatian khusus dari pemerintah. Beberapa proposal sudah kami sampaikan, namun belum ada tanggapan. Padahal, saya sempat mendesain sabuk dengan gambar Pak Wali Kota dengan harapan ada dukungan resmi,” ungkap Rony jujur.

Bagi Rony, ajang ini adalah kawah candradimuka untuk pemanduan bakat. Buktinya, beberapa atlet putri jebolan Arkan telah sukses menembus babak kualifikasi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) untuk cabang Muay Thai.

Harap KORMI Kaltim

Kini, secercah harapan digantungkan pada kepengurusan baru Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kaltim. Rony berharap ada sinergi anggaran agar Kaltim bisa berjaya di ajang olahraga rekreasi nasional di Sulawesi Tengah mendatang. Di sisi lain, ia juga membuka pintu bagi pihak swasta yang ingin berkolaborasi membesarkan industri olahraga ini.

“Tujuan saya hanya untuk mengembangkan olahraga ini. Kalau cari untung, jujur tidak ada, malah seringkali saya harus nombok (menutupi biaya sendiri). Kami ingin melihat atlet-atlet terbaik lahir dari sini dan bisa berlanjut ke jenjang yang lebih profesional atau bahkan internasional,” tutup Rony. (ens)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.