Connect with us

VIRAL

Buntut Insiden Protokol Kunjungan Presiden, Gubernur Kaltim Sowan ke Sultan Kutai: Datang untuk Tabayyun

Published

on

Video posisi duduk Sultan di belakang pejabat saat kunjungan Presiden di Balikpapan viral dan tuai banyak komentar. Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud langsung sowan ke Kedaton untuk tabayyun.

Kunjungan kerja perdana Presiden Prabowo Subianto ke Balikpapan, Kalimantan Timur, awal pekan ini menyisakan cerita yang ramai diperbincangkan.

Di tengah agenda peresmian proyek strategis RDMP Pertamina Balikpapan alias Kilang Minyak Terbesar RI. Mencuat isu mengenai tata letak dan penghormatan keprotokolan terhadap Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang dinilai kurang tepat.

Perbincangan ini meledak setelah potongan video kejadian tersebut beredar luas dan viral di media sosial. Dalam tayangan itu, terlihat posisi duduk Sultan Aji Muhammad Arifin ditempatkan di barisan belakang Gubernur dan jajaran pejabat daerah lainnya.

Warganet pun ramai memberikan komentar beragam, mayoritas menyayangkan pengaturan posisi tersebut. Namun, situasi mencair ketika Presiden Prabowo yang menyadari hal itu terlihat langsung menegur. Dan meminta agar tokoh adat berada di posisi yang lebih terhormat di barisan depan.

Sowan ke Sultan

Merespons keriuhan publik tersebut, Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, bergerak cepat. Gubernur itu langsung menyambangi Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura di Tenggarong, Kamis 15 Januari 2026.

Sang istri, Sarifah Suraidah tutut mendamingi Rudy. Keduanya mendapat sambutan hangat oleh Sultan Aji Muhammad Arifin beserta kerabat kesultanan.

Rudy menegaskan, kehadirannya adalah inisiatif pribadi sebagai bentuk penghormatan kepada pemangku adat tertinggi di Benua Etam, sekaligus meluruskan (tabayyun) situasi yang terjadi di lapangan.

“Saya lahir dari keluarga yang memiliki adat istiadat, tata krama, etika, sopan santun dan menjunjung tinggi budaya timur, datang langsung kepada Sultan untuk bertabayun dan bersilaturahmi,” ujar Rudy usai pertemuan.

Klarifikasi Aturan Protokol Nasional

Pertemuan ini menjadi momen penting untuk menjernihkan insiden pengaturan posisi tokoh adat saat acara Presiden di Balikpapan, Senin lalu. Rudy menjelaskan bahwa dalam agenda kepresidenan, seluruh mekanisme dan tata letak tamu yang mengatur dengan ketat ialah standar keprotokolan nasional, bukan kewenangan pemerintah provinsi semata.

Kendati demikian, Rudy merasa perlu datang menghadap Sultan untuk menjelaskan duduk perkaranya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Ia memegang teguh prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.

“Arahan dari Sultan akan kami sampaikan ke pusat agar menjadi instrospeksi, bagaimana sebaiknya tata cara menempatkan para raja dalam suatu acara yang akan kehadiran Presiden,” tegasnya.

Ia menjamin, masukan ini akan menjadi catatan serius. Sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Seluruh Indonesia (APPSI), Rudy juga berkomitmen untuk memastikan penghormatan terhadap tokoh adat dan budaya menjadi prioritas dalam setiap agenda pemerintah daerah ke depannya.

Respons Bijak Sultan

Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Aji Muhammad Arifin, merespons positif itikad baik Gubernur. Ia berharap kejadian serupa tidak terulang dan adat istiadat tetap mendapat tempat terhormat.

Menariknya, Sultan justru menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo yang tetap menaruh perhatian pada posisi raja-raja nusantara, seperti yang terlihat dalam video yang beredar.

“Kita berterima kasih juga kepada Bapak Presiden Prabowo yang telah mengingatkan soal ini (bagaimana menempatkan posisi raja dalam sebuah acara),” tutur Sultan Aji Muhammad Arifin. (ens)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.