Connect with us

GAYA HIDUP

Jangan Cuma Siapin Jadwal Bukber! Ini Panduan Matang Sambut Ramadan Bebas ‘Lapar Mata’

Published

on

Sambut Ramadan tanpa harus kalap belanja dan jajan takjil. Simak panduan persiapan fisik, mental, hingga finansial agar ibadah puasa lebih bermakna.

Tinggal menghitung hari, bulan suci Ramadan segera tiba. Namun, tantangan puasa di era digital kini tak cuma soal menahan haus dan lapar dari imsak hingga magrib.

Godaan nyata justru sering kali muncul dalam bentuk asyik mengecek keranjang belanja e-commerce saat sahur. Atau bahkan fenomena “kalap” memborong takjil menjelang waktu berbuka.

Bergesernya Ramadan menjadi bulan yang lekat dengan kebiasaan konsumtif ini jelas melenceng dari esensi aslinya. Padahal, jika merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 183, tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan dan ketahanan diri.

Agar ibadah sebulan penuh tahun ini tidak berlalu sia-sia sebagai rutinitas memindah jam makan, persiapan fisik dan mental perlu dirancang sedini mungkin. Berikut adalah langkah persiapan yang bisa kamu terapkan:

1. Flashback dan Pasang Target Realistis

Langkah awal yang paling realistis adalah melakukan evaluasi. Coba ingat kembali, seberapa banyak target ibadah yang meleset pada Ramadan tahun lalu? Dari refleksi tersebut, mulailah menyusun target baru yang terukur. Beberapa capaian yang bisa dibidik antara lain:

  • Mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an (bisa dicicil setiap selesai salat fardu).
  • Membuat jadwal rutin untuk sedekah harian atau mingguan.
  • Menjaga konsistensi salat berjamaah dan Tarawih hingga akhir bulan, bukan cuma di minggu pertama.

2. Pemanasan Spiritual Sejak Bulan Sya’ban

Jangan biarkan tubuh dan mental kaget saat tiba-tiba harus berpuasa penuh. Adaptasi spiritual ini idealnya sudah dimulai sejak bulan Rajab dan Sya’ban.

Memperbanyak puasa sunah di bulan Sya’ban juga bisa menjadi fase penyesuaian yang sangat baik, sekaligus melatih kesabaran seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

3. Rem Darurat Hasrat Konsumtif

Pengendalian diri secara finansial tidak boleh luput dari perhatian. Jangan sampai filosofi puasa yang mengajarkan kesederhanaan justru berubah menjadi ajang “balas dendam” kuliner saat azan magrib berkumandang.

Batasi kebiasaan jajan takjil berlebihan atau membeli barang diskonan yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

4. Alihkan Budget Keinginan Menjadi Kepedulian

Bulan penuh rahmat dan ampunan ini sejatinya adalah ladang terbaik untuk mengasah kepekaan sosial. Ketimbang menghabiskan anggaran untuk gaya hidup yang konsumtif, maka alokasikan dana tersebut untuk hal yang lebih substansial.

Berbagi makanan berbuka untuk kaum duafa hingga menyiapkan dana zakat fitrah menjelang Idulfitri adalah wujud nyata dari empati yang terbangun selama berpuasa.

Dengan niat yang lurus dan persiapan yang matang di keempat aspek di atas, sebulan ke depan bisa menjadi momentum peningkatan kualitas hidup dan spiritualitas secara menyeluruh. (ens)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.