GAYA HIDUP
Memasuki Satu Dekade Tren Ngopi di Kalangan Anak Muda, Ini Alasan Kopi Menjadi Gaya Hidup
Tren ngopi di kalangan anak muda Indonesia terus menguat dan memasuki satu dekade. Dari kebutuhan produktivitas, budaya nongkrong, hingga pengaruh media sosial, kopi kini menjadi bagian dari gaya hidup milenial dan Gen Z.
Budaya ngopi di Indonesia hampir satu dekade terakhir tampak mengalami perubahan signifikan. Sejak sekitar 2016, kopi tak lagi diposisikan semata sebagai minuman penghilang kantuk, tetapi berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, khususnya di kalangan anak muda.
Pertumbuhan ini sejalan dengan meningkatnya konsumsi kopi nasional. Data Katadata mencatat, pada periode 2016–2017 Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara dengan konsumsi kopi terbesar di dunia. Sejak saat itu, kedai kopi tumbuh pesat dan menjadi ruang yang akrab bagi generasi milenial dan Gen Z.
Berikut beberapa alasan kopi begitu menjadi kegemaran dan menjadi gaya hidup kekinian!
Aktivitas Padat, Kopi Jadi Penopang Produktivitas
Milenial dan Gen Z kini mendominasi kelompok usia produktif. Rutinitas mereka diwarnai aktivitas padat, mulai dari kuliah, bekerja, hingga mengembangkan proyek sampingan. Kondisi ini membuat kebutuhan untuk tetap fokus dan terjaga semakin tinggi.
Kopi kemudian menjadi pilihan praktis. Kandungan kafein mampu membantu meningkatkan konsentrasi. Berdasarkan survei GoodStats pada 2024, sekitar 42 persen responden mengaku lebih sering minum kopi di malam hari.
Hal itu untuk menjaga produktivitas saat menyelesaikan tugas atau pekerjaan. Tak heran jika kopi kerap menjadi bagian dari rutinitas harian sebelum memulai aktivitas.
Kedai Kopi sebagai Ruang Sosial Anak Muda
Selain soal fungsi, kopi juga lekat dengan perubahan cara bersosialisasi. Budaya berkumpul yang telah lama mengakar kini menemukan wadah baru di kedai kopi. Tempat ini bukan hanya untuk minum, tetapi juga menjadi ruang bertemu, berdiskusi, hingga bekerja.
Banyak kedai kopi dirancang dengan konsep nyaman dan fungsional. Fasilitas seperti jaringan internet, colokan listrik, dan suasana yang tenang membuat pengunjung betah berlama-lama. Secangkir kopi pun seolah menjadi “tiket” untuk menikmati ruang tersebut.
Media Sosial dan Efek Tak Mau Ketinggalan
Perkembangan media sosial turut memperkuat tren ngopi. Unggahan foto kopi, interior kafe, hingga ulasan menu baru kerap memenuhi lini masa. Fenomena ini mendorong anak muda untuk ikut mencoba pengalaman serupa.
Rasa takut ketinggalan tren atau Fear of Missing Out (FOMO) membuat kopi tak hanya dinikmati dari sisi rasa, tetapi juga sebagai simbol gaya hidup modern dan aktif.
Selera dan Kesadaran Kualitas yang Meningkat
Seiring waktu, anak muda juga semakin kritis dalam memilih kopi. Mereka mulai mengenal jenis biji, metode seduh, hingga karakter rasa. Minat terhadap kopi berkualitas mendorong industri untuk terus berinovasi.
Beragam menu baru bermunculan, mulai dari cold brew, kopi susu dengan cita rasa lokal, hingga penyajian manual brew. Inovasi ini menjaga minat konsumen sekaligus memperluas ekosistem industri kopi.
Risiko di Balik Popularitas Kopi
Di balik tren yang terus tumbuh, konsumsi kopi tetap memiliki batas. Penelitian menyebutkan, asupan kafein lebih dari 400 miligram per hari berpotensi memicu gangguan tidur, kecemasan, hingga masalah kesehatan lainnya.
Kesadaran akan hal ini mulai meningkat. Sebagian kedai kopi kini menawarkan pilihan rendah gula atau tanpa kafein sebagai alternatif yang lebih ramah kesehatan.
Tren yang Masih Akan Berlanjut
Melihat perkembangan pasar, industri kopi Indonesia diproyeksikan terus tumbuh. Dengan budaya nongkrong yang kuat dan inovasi yang berkelanjutan, kopi diprediksi tetap menjadi bagian dari keseharian anak muda.
Namun, tantangan ke depan adalah menjaga keseimbangan. Kopi bisa menjadi pendukung produktivitas dan ruang sosial, selama dikonsumsi secara bijak dan tidak menggantikan kebutuhan dasar seperti istirahat.
Dalam satu dekade terakhir, kopi telah bertransformasi dari sekadar minuman menjadi simbol gaya hidup generasi muda Indonesia, dinamis, sosial, dan terus bergerak. (ens)
-
BERITA4 hari agoKaltim dan Banda Aceh Sepakati Kerja Sama Pengembangan Industri Parfum, Padukan Nilam dan Gaharu
-
FEATURE4 hari agoIsra Miraj Jatuh pada 16 Januari 2026, Berikut Peristiwa dan Hikmah di Baliknya
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoMenuju HUT ke-69 Benua Etam, Pemprov Kaltim Matangkan Persiapan Pekan Raya untuk Pekan ini
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoDampak Siklon Tropis Jenna, BMKG Peringatkan Potensi Angin Kencang di Kaltim Sepekan ke Depan
-
HIBURAN3 hari agoBanjir Konser Awal Tahun di Balikpapan, ini Jadwal Manggung Nadin Amizah hingga Fiersa Besari
-
GAYA HIDUP4 hari agoBukan Sekadar Tren Medsos, Data Sebut Posisi Alkohol di Mata Gen Z Tergeser Kopi
-
BERITA3 hari agoBukan Pandemi Baru, Ini Fakta “Superflu” yang Bikin Kasus Rawat Inap di AS Melonjak
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoWaspada Superflu, Warga Kaltim yang Baru Pulang dari Amerika Diminta Periksa Jika Bergejala

