FEATURE
Mengenang Isra Mi’raj: Perjalanan ‘Luar Angkasa’ Nabi Muhammad dan 4 Pesan Penting di Baliknya
Mengenang kembali kisah Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, pertemuan dengan para nabi, perintah salat 5 waktu, hingga isyarat pentingnya sains dan pembelaan terhadap Palestina.
Isra Mi’raj bukan hanya sekadar catatan sejarah yang tercatat dalam kalender Islam. Ini adalah peristiwa agung ketika Nabi Muhammad SAW diperjalankan menembus batas dimensi, dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, hingga melesat ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Sang Pencipta, Allah SWT.
Peristiwa di luar nalar manusia ini juga terabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 1. Di sana menyebutkan bahwa Allah memperjalankan hamba-Nya untuk memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi di balik perjalanan spiritual tersebut dan apa relevansinya bagi kehidupan modern saat ini?
Buraq, Langit Ketujuh, dan Perintah Salat
Imam Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari mengisahkan detail perjalanan ini. Bermula ketika hati Nabi disucikan oleh malaikat dan diisi dengan “emas” keimanan. Setelah itu, Nabi mengendarai Buraq ditemani Malaikat Jibril.
Perjalanan menembus tujuh lapis langit mempertemukan Rasulullah dengan para nabi terdahulu. Di langit pertama, beliau bertamu Nabi Adam AS.
Di lapisan berikutnya, beliau bertemu Nabi Yahya, Isa, Yusuf, Idris, Harun, hingga Nabi Musa yang menangis haru karena mengetahui umat Nabi Muhammad akan menjadi penghuni surga terbanyak. Puncaknya, di langit ketujuh, Rasulullah bertemu bapak para nabi, Nabi Ibrahim AS.
Momen paling krusial terjadi di Baitul Makmur, tempat 70 ribu malaikat berthawaf setiap harinya. Di sinilah Nabi menerima perintah salat. Awalnya, Allah mewajibkan 50 waktu sehari semalam.
Atas saran Nabi Musa, Rasulullah bolak-balik memohon keringanan (dispensasi) kepada Allah hingga akhirnya kewajiban itu menjadi lima waktu saja. Ketika Nabi Musa menyarankan untuk meminta keringanan lagi, Nabi Muhammad dengan rendah hati menjawab:
“Saya malu untuk kembali menghadap pada Allah dan ridha serta pasrah kepada Allah.”
Ujian Keimanan dan Gelar As-Shiddiq
Kisah ini tentu sulit diterima akal sehat masyarakat Arab kala itu. Imam Ibnu Katsir dalam Bidayah wa Nihayah menceritakan, saat Nabi menyampaikan kabar ini keesokan harinya, mayoritas kaum Quraisy mengingkarinya. Bahkan, sebagian umat Islam yang goyah imannya memilih murtad.
Namun, tidak bagi Abu Bakar. Tanpa keraguan sedikit pun, ia membenarkan kisah sahabatnya itu. “Sungguh aku percaya terhadap berita dari langit, apakah yang hanya tentang berita Baitul Maqdis aku tidak percaya?” tegasnya.
Sejak saat itulah, ia menyandang gelar As-Shiddiq (Yang Sangat Jujur/Membenarkan).
4 Refleksi Penting untuk Masa Kini
Ali Muhammad Shalabi dalam Sirah Nabawiyah dan Musthofa As Siba’i dalam Durus wa Ibar menguraikan setidaknya ada empat pelajaran vital dari peristiwa Isra Mi’raj yang relevan hingga hari ini:
1. “Healing” Terbaik adalah Dekat dengan Tuhan
Isra Mi’raj terjadi tak lama setelah “Tahun Kesedihan” (Amul Huzn), saat Nabi kehilangan istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib.
Allah menghibur Nabi dengan perjalanan istimewa ini. Pelajarannya: siapa pun yang sedang berjuang, lelah, atau bersedih di jalan kebaikan, obat terbaiknya adalah “bertemu” Allah melalui ibadah.
2. Salat sebagai Mi’raj-nya Orang Beriman
Jika Nabi melakukan Mi’raj dengan fisik dan ruh, umat Islam melakukan “mi’raj” lima kali sehari melalui salat. Salat yang khusyu’ membuat seseorang merasa diawasi Tuhan, sehingga malu berbuat maksiat atau berkata kotor, dan sebaliknya, lebih ringan melakukan kebaikan.
3. Isyarat Penguasaan Sains dan Teknologi
Perjalanan Makkah-Palestina-Sidratul Muntaha bisa dimaknai sebagai perjalanan “luar angkasa” pertama manusia yang kembali dengan selamat.
Ini juga adalah sinyal bagi umat Islam untuk tidak hanya fokus pada ritual ibadah, tetapi juga melek sains dan teknologi. Kemampuan menjelajah ruang angkasa dan menguasai teknologi tinggi adalah salah satu tolak ukur kemajuan peradaban bangsa.
4. Amanat Membela Palestina
Disebutnya Masjidil Aqsa dalam rute perjalanan suci ini menegaskan posisinya sebagai tanah suci umat Islam. Membela Aqsa dan sekelilingnya hakikatnya adalah membela agama. Hal ini menjadi pengingat abadi bagi umat Islam untuk terus berjuang—baik lewat diplomasi, bantuan materi, maupun doa—bagi kemerdekaan dan keselamatan Palestina.
Isra Mi’raj bukan sekadar kisah ajaib masa lalu yang cukup didengarkan setahun sekali. Peristiwa ini membawa pesan abadi tentang keseimbangan.
Kisah ini mengajarkan bahwa setinggi apa pun manusia “terbang” menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, keningnya tetap harus bersujud menyembah Sang Pencipta.
Mari jadikan peringatan ini sebagai momentum untuk “memperbaiki sinyal” koneksi kita kepada Allah melalui salat, sembari terus mengasah akal dan memperkuat solidaritas kemanusiaan di muka bumi. (ens)
-
EKONOMI DAN PARIWISATA5 hari agoAkses Pariwisata Kaltim Semakin Mudah, Ini 2 Rute Baru Lion Air Domestik dan Internasional
-
SEPUTAR KALTIM5 hari agoCuaca Ekstrem Pekan Kedua Januari 2026: Kaltim Waspada Hujan Sedang, Wilayah Lain Siaga Badai
-
MAHULU5 hari agoEmpat Segmen Sudah Diresmikan, Rudy Mas’ud Minta Sisa 7 Km Jalan Tering-Ujoh Bilang Tuntas dalam 3-6 Bulan
-
EKONOMI DAN PARIWISATA5 hari agoTren Sports Tourism Jadi Mesin Baru Ekonomi Indonesia, Dari Mandalika, Lari, Sampai Balapan Air
-
SEPUTAR KALTIM5 hari agoSebanyak 802 Desa di Kaltim Kini Sudah Terkoneksi Internet, Sisa 39 Desa Lagi
-
GAYA HIDUP1 hari agoBuka Awal Tahun 2026, YAMAHA Luncurkan Varian Warna Baru Untuk Skutik Premium XMAX Connected
-
NUSANTARA5 hari agoKejar Target Pembangunan 2026, OIKN Siapkan Tata Kelola APBN dan Selaraskan Program
-
BALIKPAPAN3 hari agoAkhiri Penantian 32 Tahun, Prabowo Resmikan Kilang ‘Raksasa’ Balikpapan Senilai Rp123 Triliun

