SEPUTAR KALTIM
Ratusan Ribu Mahasiswa Terancam Putus Kuliah, Aliansi Mahasiswa Kaltim Kritik Program Makan Gratis
Pemangkasan anggaran negara berimbas pada sektor pendidikan, membuat ratusan ribu mahasiswa Indonesia terancam tidak bisa melanjutkan kuliah. Aliansi Mahasiswa Kaltim pun menekankan bahwa pendidikan gratis lebih penting dari pada program makan gratis.
Aliansi Mahasiswa Kaltim mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran.
Saat ini, Presiden Prabowo tengah menjalankan program prioritasnya, Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi anak-anak di Indonesia. Meski implementasinya masih bertahap dan belum merata di semua daerah, program ini menuai kritik, terutama dari kalangan mahasiswa.
Pasalnya, untuk menjalankan program tersebut, pemerintah melakukan pemangkasan anggaran di berbagai sektor, termasuk pendidikan. Akibatnya, sekitar 600 ribu mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) terancam putus kuliah.
Selain itu, jumlah penerima KIP Kuliah untuk periode berikutnya juga berpotensi berkurang, memperkecil kesempatan lulusan SMA untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Presiden BEM KM Universitas Mulawarman (Unmul), Muhammad Ilham Maulana, bersama Aliansi Mahasiswa Kaltim, menegaskan bahwa pemerintah seharusnya mengutamakan pendidikan daripada makan gratis.
“Segala sektor dikorbankan demi program makan gratis. Padahal, wilayah seperti Papua dan Kalimantan Timur lebih membutuhkan pendidikan gratis,” ujar Ilham pada Senin, 18 Februari 2025.
“Di Kaltim saja, program ini belum berjalan sepenuhnya, tapi anggaran besar sudah dikeluarkan. Pemerintah mengorbankan anggaran berbagai sektor, termasuk pendidikan, demi makan gratis,” tambahnya.
Sebagai bentuk protes, Aliansi Mahasiswa Kaltim telah menggelar aksi di depan kantor DPRD Kaltim untuk menyuarakan aspirasi mereka. Aksi tersebut berakhir pada pukul 18.00 WIB setelah dibubarkan aparat. Namun, Ilham menegaskan bahwa perjuangan mereka tidak akan berhenti di situ.
“Kami akan terus menyuarakan aspirasi masyarakat hingga pemerintah benar-benar menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama,” tegasnya.
Menurut Ilham, kebijakan pemangkasan anggaran pendidikan bertentangan dengan amanat konstitusi dalam UUD 1945. Ia juga menyoroti bahwa meskipun ada wacana untuk tidak mengurangi anggaran pendidikan, mahasiswa tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT).
“Pemerintah bilang anggaran pendidikan tidak dipotong, tapi siapa yang bisa menjamin? Bisa saja UKT tiba-tiba naik. Yang lebih aneh, anggaran Kementerian Pertahanan tetap utuh, sementara pendidikan justru dikorbankan. Ini jelas tidak masuk akal,” pungkasnya. (ens/sty)
-
SAMARINDA4 hari agoIslamic Center Samarinda Didorong Perkuat Jadi Pusat Ekonomi Umat
-
PARIWARA2 hari agoYamaha Luncurkan Fitur E-KSG, Servis Motor Kini Lebih Praktis Lewat Aplikasi
-
BERAU2 hari agoAkhiri Kendala Jarak, Dua SMA Negeri Baru Segera Dibangun di Berau
-
BALIKPAPAN1 hari agoDPRD Soroti Gaya Hidup Remaja, Kasus Cuci Darah Meningkat
-
PARIWARA1 hari agoCatatan MAXI Tour Boemi Nusantara Etape Satu, Ini Deretan Jalur Ikonik dan Spot Eksotis di Sumatera Utara Untuk Pecinta Touring
-
BALIKPAPAN2 hari agoDPRD Samarinda Kunjungi DPRD Balikpapan, Bahas Peran Banmus dalam Penyusunan Agenda Dewan
-
BALIKPAPAN2 hari agoKomisi III DPRD Balikpapan Bahas Pengalihan Pengelolaan Pemakaman dalam RDP
-
BALIKPAPAN1 hari agoBankeu Tak Cair, DPRD Balikpapan Dorong Optimalisasi PAD

