GAYA HIDUP
Bukan Sekadar Tren Medsos, Data Sebut Posisi Alkohol di Mata Gen Z Tergeser Kopi
Data Susenas terbaru tunjukkan Gen Z Indonesia kini semakin menjauh dari alkohol. Simak alasan ekonomi dan gaya hidup sehat yang bikin kopi jadi primadona baru
Peta tongkrongan anak muda di kota-kota besar tampaknya mulai berubah drastis. Jika dulu malam akhir pekan identik dengan keramaian di bar atau kelab malam yang penuh aroma alkohol, kini keramaian itu berpindah.
Kedai kopi kekinian justru yang tampak penuh sesak hingga larut malam. Sementara itu, tempat hiburan malam tak lagi sepadat dulu. Sebagian pengunjung kini lebih memilih memesan minuman secukupnya atau beralih ke mocktail sekadar untuk menikmati suasana tanpa harus mabuk berat.
Ini adalah wajah baru dari gaya hidup “Sober Curious”. Sebuah tren global di mana seseorang mulai mempertanyakan kembali kebiasaan minum alkoholnya dan memilih untuk hidup lebih sadar.
Di Indonesia, Generasi Z mengadopsi tren ini bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan terdorong oleh kombinasi rasionalitas ekonomi dan kesadaran kesehatan yang pragmatis.
Data Berbicara Penurunan yang Signifikan
Perubahan perilaku ini bukan sekadar asumsi. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 mencatat angka yang menarik: konsumsi alkohol per kapita penduduk usia 15-24 tahun menyusut hingga ke angka 0,13 liter.
Penurunan ini sejalan dengan tren global. Laporan dari Gallup juga menyoroti bahwa Gen Z mengonsumsi alkohol sekitar 20-30 persen lebih sedikit daripada generasi Milenial atau Gen X pada usia yang sama.
Angka-angka ini mengonfirmasi bahwa bagi generasi muda saat ini, alkohol bukan lagi syarat mutlak dalam pergaulan sosial.
Rasionalitas Ekonomi: Biaya Mabuk Terlalu Mahal
Sering luput dari sorotan, faktor finansial sebenarnya menjadi salah satu pemicu utama tren ini. Struktur cukai dan pajak alkohol di Indonesia membuat harga minuman beralkohol relatif tinggi.
Bagi anak muda yang rata-rata penghasilannya tergerus oleh inflasi dan biaya gaya hidup lain, menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk satu malam pesta terasa tidak efisien.
Ada kalkulasi pragmatis yang terjadi. Dana yang sebelumnya teralokasikan untuk party, kini beralih ke pengalaman kuliner lain seperti kopi kekinian, thrifting, atau sekadar menabung.
Pilihan menu non-alkohol atau mocktail di tempat hiburan menawarkan pengalaman visual yang sama menariknya, namun dengan harga yang jauh lebih masuk akal.
Kontradiksi dengan Gaya Hidup Sehat
Selain faktor dompet, budaya pamer kesehatan di media sosial turut membentuk pola pikir baru. Di era di mana lari pagi di Car Free Day (CFD), gym, dan pilates menjadi konten wajib Instagram Story, alkohol dianggap sebagai “pengganggu”.
Efek hangover atau pusing pasca-minum tampak kontraproduktif bagi mereka yang ingin bangun pagi demi olahraga atau produktivitas. Gen Z cenderung menghindari apa yang disebut hangxiety (kecemasan pasca-mabuk) karena dianggap merusak suasana hati dan performa fisik.
Citra “sehat dan bugar” kini memiliki nilai sosial yang lebih tinggi dibanding citra “kuat minum”.
Adaptasi Ruang Sosial
Merespons pergeseran ini, industri food and beverage (F&B) pun beradaptasi. Tempat-tempat hangout kini berlomba menyajikan menu non-alkohol yang dikurasi dengan serius. Bukan sekadar jus jeruk biasa.
Tren ini menunjukkan kedewasaan baru. Anak muda Indonesia membuktikan bahwa mereka tetap bisa bersenang-senang dan bersosialisasi tanpa perlu kehilangan kesadaran atau merusak kesehatan. Alkohol, yang dulu dianggap simbol pergaulan, kini pelan-pelan mulai kehilangan relevansinya. (ens)
-
PARIWARA5 hari agoGathering Team AEROX Hadir kembali, Ratusan Bikers dan Modifikasi AEROX Kepung Jalanan Kota Bandung dan Surabaya
-
PARIWARA4 hari agoWorld Supersport 2026 Kick Off, Aldi Satya Mahendra El’ Dablek Jadikan Momentum Awal Positif Musim Ini
-
SAMARINDA4 hari agoBuka Safari Ramadan Pemprov Kaltim, Rudy Mas’ud Minta Masjid Jadi Wadah Kaderisasi Pemuda
-
NUSANTARA3 hari agoAnti Worry! Healing ke Swiss van Java Jadi Semakin Syahdu Bareng Warna Terbaru Classy Yamaha
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoWaspada Banjir Rob, BMKG Peringatkan Pasang Laut Kaltim Capai 2,8 Meter Sepekan ke Depan
-
EKONOMI DAN PARIWISATA2 hari agoCuma Disokong Rp5 Juta, Kampung Ramadan Temindung Sukses Gerakkan Ekonomi Samarinda
-
SAMARINDA4 hari agoCetak Rekor di Kalimantan, Korem 091/ASN Raih Kartika Award sebagai Wilayah Bebas Korupsi
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoAngka Kebugaran Warga Benua Etam Mengkhawatirkan, KORMI Kaltim Turun Tangan Gagas ‘Kaltim Aktif’

