BERITA
Hari Desa Nasional 2026: Meneguhkan Posisi Desa sebagai Jantung Pembangunan Indonesia
Puncak peringatan Hari Desa Nasional akan berpusat di Boyolali. Mengusung tema kemandirian, momen ini diikuti 7.500 desa dalam ajang Liga Desa.
Tepat hari ini, Kamis 15 Januari 2026, ribuan perwakilan desa dari penjuru Nusantara berkumpul di Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Mereka memperingati Hari Desa Nasional 2026, sebuah momentum yang menegaskan bahwa desa kini menjadi aktor utama, bukan lagi sekadar penonton dalam pembangunan nasional.
Perayaan tahun ini terasa lebih hidup dengan partisipasi 7.500 desa yang terlibat dalam “Liga Desa”. Ajang ini berkonsep bukan sekadar sebagai kompetisi, melainkan simpul solidaritas untuk memperkuat konektivitas dan semangat gotong royong antar-desa di seluruh Indonesia.
Tonggak Sejarah UU Desa
Pemilihan tanggal 15 Januari sebagai Hari Desa Nasional memiliki akar sejarah yang kuat. Tanggal ini menandai lahirnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, sebuah payung hukum yang mengubah wajah desa di Indonesia menjadi lebih otonom, demokratis, dan berdaya.
Penetapan hari peringatan ini kemudian terkukuhkan secara resmi melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 23 Tahun 2024 di era Presiden Joko Widodo.
Dalam beleid tersebut, pemerintah menegaskan bahwa desa merupakan unsur pemerintahan terdepan yang melayani masyarakat secara langsung. Oleh karena itu, peringatan ini menjadi pengingat strategis bagi seluruh elemen bangsa untuk menempatkan desa sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek.
Meski perayaan berlangsung secara nasional dengan meriah, pemerintah menegaskan melalui Keppres tersebut bahwa Hari Desa Nasional bukan merupakan hari libur.
Filosofi “Rantai Emas” dan Visi 2045
Tahun ini, pemerintah mengusung tema besar “Bangun Desa, Bangun Indonesia – Desa Terdepan untuk Indonesia”. Pesan ini menyiratkan bahwa desa yang maju dan mandiri adalah kunci. Untuk membuka gerbang kesejahteraan nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.
Semangat tersebut divisualisasikan melalui logo anyar yang menampilkan rantai berwarna biru dan emas.
- Warna Biru: Melambangkan stabilitas, inovasi, dan keberanian desa untuk bertransformasi menghadapi perubahan zaman.
- Warna Emas: Merepresentasikan kemakmuran dan kejayaan yang lahir dari kemandirian ekonomi desa.
Logo ini membawa pesan filosofis. Bahwa kemajuan bangsa sangat bergantung pada kekuatan desa-desa yang saling terhubung (seperti rantai) dan bergerak bersama.
Refleksi Panjang Sejak Era Majapahit
Jika ditarik lebih jauh ke belakang, peran desa sebenarnya sudah tercatat dalam sejarah panjang nusantara. Naskah kuno Negarakertagama dari era Majapahit telah menyebut keberadaan desa sebagai unit sosial dan administratif yang mandiri, jauh sebelum kolonialisme masuk.
Kini, di tahun 2026, semangat kemandirian itu kembali digaungkan dari Boyolali. Hari Desa Nasional menjadi momentum. Untuk memastikan bahwa kearifan lokal dan ekonomi desa tetap menjadi fondasi yang kokoh di tengah arus modernisasi global. (ens)
-
EKONOMI DAN PARIWISATA3 hari agoDispar Kaltim dan IHGMA Perkuat Kolaborasi, Siapkan Gebrakan Baru untuk Pariwisata
-
BERAU3 hari agoDanau Kakaban, Keajaiban Alam Berau yang Terus Dijaga untuk Wisata Dunia
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoMUI Kaltim Terbitkan Tausiyah Usai Dugaan Pencabulan di Ponpes, Tegaskan Pelecehan Berkedok Agama Haram
-
OPINI5 hari agoCowok, Pria, Laki-Laki, dan Jantan
-
BERAU3 hari agoGoa Gumantung, Surga Tersembunyi di Maratua yang Siap Perkuat Ekowisata Kaltim
-
OLAHRAGA4 hari agoTrio Yamaha Racing Indonesia Siap Tampil di Mandalika, Bidik Hasil Terbaik pada R3 BLU CRU Asia-Pacific 2026
-
OLAHRAGA5 hari agoCetak Superpole Terbaik di Donington Park, Aldi Satya Mahendra Optimis Jalani Race Hingga Akhir Musim
-
OLAHRAGA1 hari agoSkutik Premium Ikut Balapan! MAXI Race Jadi Daya Tarik Baru Pada Gelaran Yamaha Sunday Race 2026

