Connect with us

FEATURE

Dari Lahan Bekas Tambang ke Energi Hijau: Jejak Arang Halaban dalam Mimpi Pemulihan Kalimantan Timur

Published

on

Di balik hitamnya arang yang selama ini identik dengan bara api, tersimpan kisah tentang harapan baru bagi Kalimantan Timur. Bukan sekadar komoditas ekspor, arang dari kayu halaban kini mulai dipandang sebagai bagian dari mimpi besar: memulihkan lahan bekas tambang sekaligus membangun masa depan energi yang lebih hijau.

Di saat dunia berlomba meninggalkan energi fosil, Kalimantan Timur menghadapi kenyataan yang tak sederhana. Provinsi ini telah puluhan tahun menjadi salah satu penyangga utama kebutuhan energi nasional melalui batu bara dan migas. Namun di balik kontribusi itu, terbentang ribuan hektare lahan yang kehilangan tutupan hutan, berubah menjadi kawasan kritis, dan menyisakan pekerjaan rumah panjang bagi pemulihan lingkungan.

Di tengah tantangan tersebut, secercah harapan justru muncul dari kawasan Loa Ipuh Darat, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Tak ada pabrik megah ataupun teknologi canggih. Hanya deretan tungku tanah berbentuk kubah yang berdiri tenang di balik pepohonan. Dari luar, tempat itu tampak sederhana. Namun di balik dinding tanah itulah batang-batang kayu halaban perlahan berubah menjadi arang premium yang kini diminati pasar internasional.

Lebih dari sekadar menghasilkan arang, tempat itu menyimpan gagasan tentang bagaimana energi hijau bisa tumbuh dari tanah yang pernah terluka.

Dari Tungku Sederhana Menuju Pasar Dunia

Pengusaha arang halaban asal Samarinda, Reza Karta Pahlevi, melihat peluang yang jauh lebih besar dibanding sekadar bisnis ekspor.

Awalnya, ia mengetahui industri arang halaban telah berkembang puluhan tahun di Kalimantan Selatan. Setelah mencoba berbagai komoditas ekspor sejak 2021, ia memutuskan menekuni bisnis tersebut.

Hasilnya di luar dugaan.

“Permintaan satu buyer saja sekarang bisa sampai 20 kontainer per bulan. Saya masih kewalahan memenuhi kuantitasnya,” kata Reza.

Tingginya permintaan justru memunculkan tantangan baru. Pasokan kayu halaban di Kalimantan Selatan mulai menghadapi tekanan karena kebutuhan industri yang terus meningkat.

Sebagai putra daerah, Reza kemudian memilih membangun sentra produksi di Kalimantan Timur.

“Saya pikir karena saya orang Kaltim, orang Samarinda, kenapa tidak buat sendiri di Kaltim? Ini bisa membangun ekosistem sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan baru,” ujarnya.

Pilihan itu bukan tanpa alasan.

Kayu halaban (Vitex pinnata) bukan termasuk jenis kayu komersial yang lazim dibudidayakan. Namun justru di situlah keistimewaannya.

Halaban merupakan tanaman pionir yang mampu hidup di lahan miskin unsur hara, kawasan terbuka, bahkan lahan yang rusak akibat aktivitas pertambangan. Kemampuannya beradaptasi membuat pohon ini dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung rehabilitasi kawasan kritis.

Bagi Reza, keberlanjutan bahan baku hanya bisa dijaga jika penanaman dilakukan secara berkelanjutan.

Karena itu, bisnis yang ia bangun tidak hanya berorientasi pada ekspor, tetapi juga pada pembentukan ekosistem baru yang melibatkan masyarakat sebagai bagian dari rantai pasok.

Saat Energi Hijau Menjadi Jalan Pemulihan Lingkungan

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Kepala Pusat Rehabilitasi Hutan Tropis Universitas Mulawarman, Ibrahim, yang menilai dunia memang harus mulai mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

“Sampai pada satu titik tertentu kita tidak bisa lagi mengandalkan energi yang bersumber dari fosil,” ujarnya.

Menurut Ibrahim, cadangan energi fosil terus menipis, sementara kebutuhan energi global semakin meningkat. Belum lagi emisi karbon dari pembakarannya yang menjadi salah satu penyebab utama perubahan iklim.Karena itu, berbagai negara mulai beralih menuju energi terbarukan, termasuk energi berbasis biomassa.

Berbeda dengan energi lain, biomassa memiliki nilai tambah karena proses produksinya berjalan seiring dengan pembangunan kembali ekosistem. “Dengan kita membangun energi hijau ini identik dengan kita membangun ekosistem,” jelas Ibrahim.

Dalam sistem biomassa, proses tidak berhenti pada produksi energi. Ada kegiatan pembibitan, penanaman, pemeliharaan hingga panen yang seluruhnya membutuhkan keberadaan vegetasi.

Artinya, semakin berkembang industri biomassa, semakin besar pula kebutuhan untuk menghijaukan kembali lahan-lahan yang rusak.

Di sinilah halaban menemukan perannya. Pohon ini dinilai cocok ditanam di kawasan bekas tambang yang selama ini menjadi salah satu persoalan lingkungan terbesar di Kalimantan Timur. Ketika vegetasi kembali tumbuh, tanah perlahan memperoleh kembali fungsi ekologisnya. Risiko erosi menurun, kualitas tanah membaik, dan mikroklimat kawasan mulai terbentuk.

“Ketika tanah dan vegetasi dibangun kembali, maka mikroklimat juga akan terbentuk,” kata Ibrahim.

Gagasan tersebut kini mulai diwujudkan melalui kolaborasi antara Reza dan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman. Salah satu fokus riset mereka adalah mempercepat pertumbuhan pohon halaban agar masa panennya dapat dipangkas dari empat tahun menjadi sekitar dua tahun.

“Kita bekerja sama dengan Profesor Ibrahim supaya pohon halaban yang biasanya dipanen empat tahun bisa menjadi dua tahun,” ujar Reza.

Jika berhasil, bukan hanya kebutuhan industri yang terpenuhi. Rehabilitasi lahan kritis pun dapat berlangsung lebih cepat.

Di sisi lain, masyarakat sekitar ikut memperoleh manfaat ekonomi. Warga yang mengumpulkan dan mengangkut kayu halaban sudah mulai merasakan tambahan penghasilan.

“Mereka ngantar kayu saja lumayan dapatnya. Saya buka harga Rp700 ribu per pick-up,” ungkap Reza.

Skema inilah yang membuat arang halaban menawarkan cerita berbeda.Bukan hanya soal komoditas ekspor, tetapi tentang bagaimana pohon yang tumbuh di lahan bekas tambang mampu menghadirkan manfaat ganda: memulihkan lingkungan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Di Loa Ipuh Darat, deretan tungku tanah yang terus menyala seolah mengirim pesan sederhana. Bahwa masa depan energi Kalimantan Timur tidak selalu harus digali dari dalam perut bumi.

Bisa jadi, masa depan itu justru tumbuh perlahan dari pohon-pohon halaban yang kembali menghijaukan tanah yang pernah terluka. (Gi/am)

POPULER