Connect with us

OPINI

Mereka Menjaga Kehidupan

Published

on

OlehSyafruddin Pernyata, biasa disapa SP, dikenal sebagai sosok multi-talenta yang berkiprah sebagai sastrawan terkemuka, wartawan senior (legenda jurnalis), birokrat, akademisi, dan tokoh pariwisata

Tadi sore saya kembali datang ke rumah sakit untuk kontrol.

Ruang tunggu itu luas. Namun, hampir seluruh kursinya terisi. Sebagian pasien datang ditemani istri, suami, atau anaknya. Masing-masing membawa harapan yang sama: semoga namanya segera dipanggil dokter.

Perhatian saya tertuju kepada seorang lelaki tua yang duduk di kursi roda. Tubuhnya tampak lemah. Ketika hendak ke toilet, seorang perempuan yang saya duga istrinya mendorong kursi roda itu dengan pelan. Tidak ada percakapan yang saya dengar. Tidak ada keluhan yang saya lihat. Hanya kesabaran dan kesetiaan yang berjalan berdampingan.

Pemandangan sederhana itu mengusik pikiran saya.

Di rumah sakit, setiap orang sedang berjuang. Pasien berjuang melawan penyakit. Keluarga berjuang mendampingi orang yang mereka cintai. Namun, ada satu perjuangan yang sering luput dari perhatian, yaitu perjuangan para dokter.

Dari tempat saya duduk, saya melihat nama demi nama dipanggil memasuki ruang praktik. Seorang dokter menerima pasien satu demi satu. Saya membayangkan, dari sore hingga malam, mungkin sekitar enam puluh pasien harus beliau layani. Pasien pertama tentu menginginkan perhatian yang sama dengan pasien terakhir. Tidak mudah melakukan itu.

Saya memahami mengapa pasien sering gelisah. Rasa sakit membuat waktu terasa berjalan lebih lambat. Tidak sedikit yang beberapa kali melihat layar antrean atau bertanya kepada petugas kapan gilirannya tiba.

Namun, sore itu saya justru bertanya kepada diri sendiri.

Bagaimana seorang dokter menjaga kesabarannya? Bagaimana ia tetap teliti setelah berjam-jam mendengarkan keluhan yang berbeda-beda? Bagaimana ia menjaga senyumnya ketika kelelahan mulai datang? Bukankah dokter juga manusia biasa?

Pertanyaan itu membawa ingatan saya pada sebuah percakapan beberapa tahun silam dengan seorang dokter spesialis, Boyke Soebhali namanya, dokter spesialis urologi. Beliau bertugas di RSUD Abdul Wahab Sjahranie, juga berpraktik di RS Dirgahayu, serta menjadi dosen dan Ketua Departemen Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. Bidang keahliannya meliputi bedah rekonstruksi saluran kemih, batu ginjal, prostat, dan urologi. Ia bercerita bahwa operasi yang menjadi bidang keahliannya dapat berlangsung sekitar empat jam. Saya bertanya apakah imbalan jasanya juga lebih besar.

Beliau tersenyum.

“Sama saja, Pak.”

Saya lalu bertanya lagi, mengapa memilih bidang yang begitu berat.

Jawabannya singkat, tetapi sampai hari ini masih saya ingat.

“Kalau saya tidak memilih bidang ini, lalu siapa?”

Kalimat itu membuat saya terdiam. Saya tidak lagi melihat profesi dokter semata-mata sebagai pekerjaan. Saya melihatnya sebagai panggilan.

Pada kesempatan lain, saya berbincang dengan seorang dokter spesialis saraf. Di tengah percakapan, beliau berkata dengan tenang, “Saya sudah tiga kali stroke.” Dia adalah adalah dr. Muhammad Luthfi Widyastono, Sp.S, seorang dokter spesialis saraf senior di Samarinda. Beliau telah lama dikenal sebagai neurolog yang menangani berbagai penyakit saraf, terutama stroke, dan pernah berpraktik di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS), RS Samarinda Medika Citra (SMC), serta Klinik Apotek Sahabat di Jalan Palang Merah.

Saya terkejut.

Bayangkan, seseorang yang pernah berkali-kali berjuang melawan penyakitnya sendiri tetap memilih datang ke rumah sakit untuk mengobati orang lain. Saya tidak bertanya lebih jauh. Kalimat itu sudah cukup membuat saya menghormatinya.

Dua percakapan itu mengubah cara saya memandang dokter.

Selama ini saya lebih sering memperhatikan lamanya antrean. Kini saya juga membayangkan betapa berat tanggung jawab yang mereka pikul. Mereka tidak boleh kehilangan ketelitian hanya karena lelah. Mereka tidak boleh salah mengambil keputusan hanya karena pasien masih banyak menunggu.

Tentu dokter bukan manusia yang sempurna. Mereka dapat lelah. Mereka juga bisa keliru. Akan tetapi, di balik segala keterbatasannya, mereka tetap datang setiap hari membawa ilmu, pengalaman, dan harapan untuk menolong sesama.

Bagi saya, kesembuhan tetap datang atas kehendak Allah Swt. Dokter bukan penentu hidup dan mati. Namun, Allah menghadirkan mereka sebagai jalan ikhtiar bagi manusia. Karena itulah, profesi dokter layak dihormati.

Kini, setiap kali duduk di ruang tunggu rumah sakit, saya tidak lagi hanya menunggu nama saya dipanggil.

Saya juga teringat kalimat yang pernah saya dengar bertahun-tahun lalu.

“Kalau saya tidak memilih bidang ini, lalu siapa?”

Mungkin itulah kalimat yang membuat saya lebih sabar menunggu, sekaligus lebih menghargai mereka yang, dari sore hingga larut malam, terus berusaha menjaga kehidupan orang lain. (*)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Kaltim Faktual menerima kiriman artikel dari pembaca. Baik karya tulis feature, opini/catatan hingga artikel maupun informasi berita. Kirimkan karya Anda disertai identitas lengkap dalam format word, melampirkan file foto berformat landscape, melalui kontak kami (kontak@kaltimfaktual.co atau Whatsapp) dengan subject sesuai dengan karya tulis Anda. (ARTIKEL/OPINI/INFORMASI). Kami harap, karya Anda bisa memenuhi unsur tagline kami: Mengabarkan, Menginspirasi, Menyenangkan.

Catatan: Hak penerbitan menjadi keputusan redaksi. Tulisan yang terbit telah melalui penyuntingan redaksi tanpa mengurangi maksud pesan penulis. Semua materi tulisan merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi Kaltim Faktual tidak mewakili isi tulisan opini penulis.

POPULER