FEATURE
Di Balik Dinding yang Mulai Rapuh, Semangat Belajar SD Negeri 002 Anggana Tetap Menyala

Suara anak-anak yang sedang belajar membaca dan berhitung terdengar bersahutan dari ruang-ruang kelas SD Negeri 002 Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara. Di sekolah yang berdiri di kawasan rawa itu, aktivitas belajar mengajar berlangsung seperti biasa setiap pagi.
Para guru mengajar dengan penuh dedikasi, sementara para siswa tetap datang membawa semangat untuk menuntut ilmu.
Namun, di balik suasana belajar yang hangat, ada kegelisahan yang terus dirasakan warga sekolah. Bangunan yang menaungi proses pendidikan itu mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan.
Sebagian struktur tampak miring, plafon di beberapa bagian sudah tidak ada, bahkan pernah terjadi insiden plafon ambruk ketika sekolah sedang libur.
Beruntung, tidak ada korban. Namun, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa keselamatan siswa dan guru harus menjadi perhatian utama.
Ketika Keselamatan Menjadi Harapan Terbesar

Dari luar, SD Negeri 002 Anggana terlihat seperti sekolah sederhana yang dibangun mengikuti karakter lahan rawa. Sebagian bangunan menggunakan konstruksi menyerupai rumah panggung, sementara bagian lainnya merupakan bangunan permanen.
Saat memasuki lingkungan sekolah, kondisi bangunan mulai terlihat jelas. Beberapa bagian mengalami kemiringan, rangka atap tampak terbuka karena plafon telah lepas, dan bekas genangan air masih terlihat di sejumlah sudut ruangan.

Kepala SD Negeri 002 Anggana, Sumargoto, yang baru mulai bertugas pada tahun ajaran ini, mengaku kondisi fisik sekolah menjadi perhatian pertamanya.
“Kalau menurut saya, yang penting bangunan ini tidak membahayakan siswa maupun manusia yang ada di sini. Keselamatan itu yang kita utamakan. Kalau melihat kondisi bangunannya memang perlu perhatian,” ujarnya.
Menurutnya, sekolah tidak harus memiliki fasilitas yang mewah. Yang paling penting adalah memberikan rasa aman dan nyaman kepada peserta didik selama mengikuti proses belajar.
“Kita belajar tidak harus menuntut yang mewah. Yang penting nyaman, senang, dan aman. Kalau bangunannya seperti ini tentu sedikit mengurangi kenyamanan dalam belajar,” katanya.
Kekhawatiran itu beralasan. Sebelum dirinya bertugas, salah satu plafon sekolah sempat runtuh. Beruntung, kejadian tersebut berlangsung saat masa liburan sehingga tidak ada aktivitas belajar mengajar.
“Untungnya terjadi saat liburan. Jadi tidak ada kegiatan belajar mengajar dan tidak ada yang menjadi korban,” tuturnya.
Karena itu, pihak sekolah berharap kondisi bangunan dapat segera menjadi perhatian pemerintah melalui program rehabilitasi agar proses belajar berlangsung lebih aman.
Semangat Belajar Tak Pernah Surut Meski Fasilitas Terbatas

Di balik keterbatasan yang ada, SD Negeri 002 Anggana tetap menjadi tempat belajar bagi anak-anak di kawasan sekitar, termasuk warga yang tinggal di tepian sungai.
Saat ini sekolah memiliki enam rombongan belajar dengan total 101 siswa, mulai kelas satu hingga kelas enam. Pada tahun ajaran baru, sekolah juga menerima sekitar 15 peserta didik baru.
“Kalau ada murid yang ingin sekolah di sini, tentu kita tampung. Yang penting pembelajaran tetap berjalan baik dan kepercayaan masyarakat tetap terjaga,” ujar Sumargoto.
Selain mata pelajaran umum, sekolah juga mengajarkan Bahasa Kutai sebagai muatan lokal. Buku pelajaran telah tersedia dan digunakan sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya daerah.
“Kita sudah menerima buku Bahasa Kutai. Yang digunakan adalah Bahasa Kutai Tenggarong karena memang lebih banyak dipakai dalam percakapan sehari-hari,” katanya.
Meski demikian, sekolah masih kekurangan sejumlah fasilitas penunjang. Hingga kini belum tersedia laboratorium maupun gedung perpustakaan. Seluruh koleksi buku masih disimpan di lemari-lemari kelas dan tetap dimanfaatkan dalam kegiatan belajar.
“Yang penting bukunya ada dan bisa digunakan untuk belajar. Walaupun belum ada perpustakaan, semua tetap dicatat sebagai inventaris sekolah,” jelasnya.
Tantangan lain datang dari kondisi geografis. Saat hujan deras mengguyur kawasan Anggana, air terkadang masuk ke dalam bangunan sekolah. Para guru pun harus sigap menyelamatkan dokumen dan peralatan agar tidak rusak.
“Begitu ada air masuk, langsung kita amankan supaya tidak merusak barang-barang yang ada,” ungkap Sumargoto.
Menurutnya, pembangunan sekolah di atas lahan rawa membutuhkan konstruksi dan pondasi yang benar-benar disesuaikan dengan kondisi tanah agar bangunan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Di tengah segala keterbatasan itu, sekolah juga berupaya menghemat biaya operasional dengan memanfaatkan panel surya sebagai sumber listrik utama saat cuaca cerah. Ketika produksi listrik tenaga surya berkurang, pasokan dari PLN menjadi penunjang aktivitas sekolah.
Bagi Sumargoto, berbagai keterbatasan masih bisa dihadapi bersama. Namun keselamatan siswa dan guru tidak boleh menjadi kompromi.
“Kalau barang rusak mungkin bisa diganti. Tapi manusia harus diselamatkan. Itu yang paling penting,” tegasnya.
Di ruang-ruang kelas yang sederhana itu, lebih dari seratus anak tetap datang setiap pagi dengan mimpi yang sama. Mereka belajar, tertawa, membaca, dan menulis tanpa banyak mengeluhkan kondisi sekolah yang mulai menua.
Di balik dinding yang mulai rapuh, semangat belajar mereka tetap menyala. Kini, harapan terbesar warga sekolah bukanlah bangunan yang megah, melainkan ruang belajar yang aman, nyaman, dan layak agar setiap anak dapat meraih masa depan tanpa dibayangi rasa khawatir. (Gi/am)

OLAHRAGA1 hari agoDe’Ale Billiard Gratiskan Arena Latihan PWI Kaltim Biliar Club, Bidik Prestasi Wartawan
SEPUTAR KALTIM3 hari agoPemprov Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat di Palaran, Pastikan Kesiapan Fasilitas Pendidikan
OPINI1 hari agoMereka Menjaga Kehidupan
SEPUTAR KALTIM4 hari agoMangrove Kaltim Diklaim Capai 239 Ribu Hektare
NUSANTARA1 hari agoAngklung Menggema Sambut MAXI Yamaha Day 2026 Jawa Barat, Padukan Touring dan Budaya dalam Satu Perjalanan Menuju Kuningan


