KUKAR
Stunting Tak Hanya Dipicu Faktor Ekonomi, Dinkes Kukar Soroti Pola Asuh Anak

Kemampuan ekonomi keluarga tidak selalu menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi anak. Kesalahan dalam pola pengasuhan, terutama terkait pemilihan makanan dan pemberiannya sesuai usia, juga dapat memengaruhi pertumbuhan anak dan meningkatkan risiko stunting.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Ismi Mufiddah, mengatakan persoalan gizi anak perlu dilihat lebih luas, tidak hanya dari kemampuan orang tua dalam menyediakan makanan. Pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi dan cara pemberian makanan juga menjadi faktor penting.
“Tidak semua persoalan gizi anak berawal dari keterbatasan ekonomi. Ada keluarga yang sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan anak, tetapi belum memahami cara pengasuhan dan pemberian makanan yang sesuai. Akibatnya, kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi secara maksimal,” ujarnya, Kamis (5/11/2026).
Menurut Ismi, setiap tahapan pertumbuhan anak memiliki kebutuhan makanan yang berbeda. Orang tua perlu memahami jenis makanan, tekstur, hingga cara pemberian yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak dalam mengonsumsi makanan.
Kesalahan dalam menentukan makanan pendamping maupun teksturnya dapat membuat pemenuhan kebutuhan nutrisi anak tidak berjalan optimal. Karena itu, pemberian makanan tidak seharusnya hanya mengikuti kebiasaan keluarga, tetapi perlu disesuaikan dengan perkembangan anak.
“Orang tua harus mengetahui kapan anak mulai mendapatkan makanan pendamping dan seperti apa tekstur yang tepat. Jangan sampai makanan yang diberikan belum sesuai dengan kemampuan anak untuk mengonsumsinya, sehingga kebutuhan nutrisinya justru tidak terpenuhi,” jelasnya.
Melihat kondisi tersebut, Dinkes Kukar terus memperkuat edukasi mengenai pola asuh dan pemenuhan gizi melalui pelayanan di seluruh puskesmas. Penyuluhan diarahkan agar orang tua memiliki pemahaman yang benar sebelum maupun selama menjalankan pengasuhan anak.
Ismi menyebutkan, edukasi juga menyasar perempuan yang sedang mempersiapkan kehamilan serta ibu hamil. Pembekalan sejak awal dinilai penting agar pemahaman mengenai kesehatan ibu dan kebutuhan gizi anak sudah terbentuk sebelum anak memasuki masa pertumbuhan.
“Pendampingan tidak hanya dilakukan kepada keluarga yang anaknya sudah mengalami stunting. Ibu hamil dan calon ibu juga perlu mendapatkan pembekalan, supaya sejak awal mereka sudah memahami bagaimana menjaga kesehatan dan memenuhi kebutuhan gizi anak,” paparnya.
Sementara itu, keluarga yang memiliki anak dengan kondisi stunting mendapatkan pendampingan dan konseling dari petugas kesehatan. Pendekatan tersebut dilakukan untuk membantu keluarga memperbaiki pola pengasuhan berdasarkan kebutuhan masing-masing anak.
Ismi berharap, pemahaman orang tua mengenai pemberian makanan dan pengasuhan semakin meningkat. Sebab, pencegahan stunting tidak cukup hanya dengan memastikan ketersediaan makanan, tetapi juga memastikan anak memperoleh asupan yang tepat sesuai tahapan pertumbuhannya. (rk/Adv Diskominfo Kukar)
-
SEPUTAR KALTIM5 hari agoSetelah Kemarau Panjang, Hujan Kembali Datang di Kaltim, Bagaimana Cuaca Hari Ini?
-
OLAHRAGA4 hari agoBorneo FC Diunggulkan atas PSIM, Tapi Misi Bangkit Tuan Rumah Bisa Jadi Ancaman
-
VIRAL2 hari agoSalam Tiga Jari Viral di Indonesia, Berawal dari Film The Hunger Games hingga Jadi Simbol Perlawanan
-
VIRAL4 hari agoPolda Metro Minta Maaf, Raffi Klarifikasi, Peserta Deklarasi Sumpah Pemuda Akui Bukan Mahasiswa
-
OLAHRAGA3 hari agoPorprov Kaltim 2026 Mulai Digelar, 8.709 Atlet dari 10 Daerah Siap Berebut Medali
-
OLAHRAGA4 hari agoBorneo FC Tumbang di Bantul, Mauro Jeronimo Punya Pekerjaan Rumah di Lini Pertahanan
-
OLAHRAGA3 hari agoPorwada IV Kaltim 2026 Digelar di Balikpapan, 10 Cabor Siap Dipertandingkan
-
PARIWARA4 hari agoYamaha Rangkul Kicau Mania, GEAR ULTIMA Tampil Spesial di Umi Kasum Cup VI
