FEATURE
Bukan Sekadar di Pinggir Sungai, Ini Filosofi Mendalam di Balik Julukan ‘Samarinda Kota Tepian’
Merayakan HUT Samarinda ke-358, berikut makna filosofis akronim TEPIAN yang menjadi julukan Ibu Kota Kaltim ini. Beserta empat versi unik di balik asal-usul nama Samarinda di sini.
Tepat hari ini, Rabu 21 Januari 2026, Kota Samarinda merayakan hari jadinya yang ke-358. Di tengah euforia perayaan yang menandai usia matang Ibu Kota Kalimantan Timur ini, satu sebutan yang tak pernah absen tersebut adalah “Kota Tepian”.
Bagi warga setempat, julukan tersebut bukan sekadar label geografis karena posisi kota yang memeluk aliran Sungai Mahakam.
Lebih dari itu, “Tepian” menyimpan sejarah ganda. Yakni sebagai pengakuan atas identitas sungai dan sebuah visi pembangunan yang diresmikan tepat pada momen HUT kota puluhan tahun silam.
Mandat Filosofis di Balik Akronim ‘TEPIAN’
Secara harfiah, Samarinda memang sebuah kota tepian. Sungai Mahakam yang membelahnya telah menjadi pusat transportasi dan perdagangan tradisional sejak awal berdirinya. Namun, penggunaan kata “Tepian” sebagai semboyan resmi memiliki dimensi filosofis yang lebih spesifik.
Pada peringatan HUT ke-28 Samarinda, tepatnya 21 Januari 1988. Pemerintah kota meresmikan TEPIAN sebagai akronim dari Teduh, Rapi, Aman, dan Nyaman.
Penetapan ini menjadi titik balik bagi visi tata kota. “Tepian” tidak lagi hanya soal lokasi di pinggir sungai, tetapi menjadi mandat bagi pemerintah dan warga untuk menciptakan lingkungan yang tenteram. Dan layak huni bagi semua lapisan masyarakat.
Teka-teki Nama ‘Samarinda’: Empat Versi yang Melegenda
Selain julukan “Tepian”, asal-usul nama “Samarinda” sendiri memiliki sejarah yang kaya dengan berbagai versi unik. Setidaknya ada empat versi yang hingga kini masih sering diceritakan:
Versi Tatanan Sosial (Sama-Rendah)
Berawal dari sejarah kedatangan penduduk Bugis Wajo di Samarinda Seberang. Saat itu, rumah-rumah rakit atau terapung yang mereka bangun memiliki tinggi yang seragam.
Tidak ada yang lebih menonjol satu sama lain. Istilah “sama-rendah” ini kemudian dipercaya bermuara menjadi Samarinda, sekaligus melambangkan prinsip hidup egaliter yang menjunjung kesetaraan sosial.
Versi Geografi dan Perjuangan Melawan Pasang:
Versi kedua merujuk pada kondisi geografis daratan Samarinda. Yang “sama rendah” dengan permukaan Sungai Mahakam.
Catatan sejarah menunjukkan, hingga awal dekade 1950-an, banyak jalan protokol di Samarinda kerap lumpuh terendam air setiap kali sungai pasang besar melanda.
Hal ini memicu proyek penurapan dan peninggian jalan besar-besaran sejak 1978, yang menaikkan elevasi jalan hingga 2 meter agar transportasi kota tetap terjaga.
Versi Bahasa Sansekerta
Sebagian literatur menukil bahwa nama ini berakar dari kata “Samarendo” dalam bahasa Sansekerta. Yang membawa pesan doa berupa harapan akan keselamatan dan kesejahteraan bagi para penduduknya.
Versi Melayu (Samar dan Indah)
Dari sisi cerita rakyat, ada pula yang menyebutkan bahwa Samarinda berasal dari gabungan kata “Samar” dan “Indah”.
Menariknya, hingga akhir dekade 1980-an, banyak warga lokal yang masih melafalkan nama kota ini dengan sebutan “Samarenda” sebelum akhirnya konsisten menggunakan penulisan formal Samarinda.
Kini, di usianya yang ke-358, Samarinda tidak hanya menjadi pusat sejarah, tetapi juga bersiap menghadapi peran strategis sebagai penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN).
Spirit “Tepian” tetap menjadi pengingat bahwa di tengah modernisasi, harmoni dengan Sungai Mahakam tetaplah menjadi denyut nadi utama kota ini. (ens)
-
BALIKPAPAN3 hari agoSambut HUT ke-129, Balikpapan Rilis Logo “Harmoni Menuju Kota Global”
-
PARIWARA5 hari agoSetingan “KECE” Biar Makin Pede, Cara Mudah Bawa Pulang Yamaha Classy Fazzio dan Filano
-
GAYA HIDUP2 hari agoAngka Pernikahan 2025 Naik Tipis, Tren ‘Enggan Nikah’ Mulai Melandai?
-
SEPUTAR KALTIM1 hari agoBibit Siklon Tropis 97S Kepung Indonesia Bagian Selatan, Begini Prediksi Cuaca Kaltim Sepekan ke Depan
-
SAMARINDA1 hari agoSamarinda Menuju Usia 358 Tahun: Menelusuri Jejak Enam Kampung Purba dan Akar Sejarah Kota Mahakam
-
SEPUTAR KALTIM5 hari agoKaltim Borong Penghargaan di Hari Desa Nasional 2026, Dua Wilayah Sabet Peringkat 1
-
BERAU4 hari agoTinggalkan Status Perintis, Wings Air Kini Terbang Komersial ke Maratua: Rudy Mas’ud Jajal Pendaratan Perdana
-
FEATURE2 hari agoFenomena AI di 2026: Jadi “Asisten Hidup” yang Memanjakan, atau Perangkap Ketergantungan?

