Connect with us

SEPUTAR KALTIM

Debit Sungai Mahakam Menyusut, Air Laut Mulai Masuk tapi Pasokan Air Baku Kaltim Disebut Aman

Published

on

Menyusutnya debit Sungai Mahakam selama musim kemarau mulai membuka ruang bagi air laut bergerak masuk ke kawasan muara. Fenomena tersebut terjadi ketika dorongan aliran air tawar dari hulu melemah sehingga pengaruh pasang surut laut menjadi lebih terasa di bagian hilir sungai.

Meski demikian, kondisi tersebut sejauh ini belum mengganggu ketersediaan air baku untuk kebutuhan masyarakat di Kalimantan Timur (Kaltim).

Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda memastikan air laut yang mulai masuk ke Sungai Mahakam masih berada di sekitar kawasan muara dan belum memengaruhi titik pengambilan air yang digunakan untuk produksi air bersih.

Kepala BWS Kalimantan IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo, mengatakan masuknya air laut ke arah sungai merupakan kondisi yang dapat terjadi ketika debit Sungai Mahakam mengalami penyusutan. Pergerakan tersebut juga dipengaruhi dinamika pasang surut.

“Karena ini sudah agak menyusut itu memang sebagian ada yang masuk, tapi itu tidak mempengaruhi pengambilan air minum untuk PDAM,” kata Andri.

Menurutnya, kondisi Sungai Mahakam sangat dipengaruhi keseimbangan antara aliran air tawar dari hulu dan tekanan air laut dari kawasan muara.

Ketika debit sungai masih tinggi, volume air tawar yang mengalir menuju hilir dapat menahan intrusi air laut agar tidak bergerak lebih jauh ke badan sungai. Sebaliknya, ketika debit menyusut akibat musim kemarau, kemampuan aliran sungai menahan pergerakan air laut ikut berkurang.

Dalam kondisi tersebut, air asin dapat masuk ke wilayah muara mengikuti siklus pasang surut.

Fenomena ini menjadi perhatian karena Sungai Mahakam merupakan salah satu sumber air baku penting bagi masyarakat Kaltim, khususnya kawasan perkotaan yang memanfaatkan air permukaan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Jika air laut bergerak terlalu jauh ke arah hulu, kadar salinitas air dapat meningkat dan berpotensi memengaruhi kualitas air baku.

Namun, BWS Kalimantan IV memastikan kondisi tersebut belum mencapai tingkat yang mengganggu pengambilan air untuk kebutuhan masyarakat.

“Jadi PDAM kan ada standarnya, bahwa kalau asin itu enggak boleh. Jadi betul masih aman lah saat ini,” ujar Andri.

Artinya, meskipun air laut mulai masuk di kawasan muara, kondisi air pada titik pengambilan untuk kebutuhan air minum masih berada dalam kondisi yang dapat dimanfaatkan.

Bendungan Lempake Jadi Penyangga Pasokan Air Samarinda

Kepala BWS Kalimantan IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo

Menyusutnya debit Sungai Mahakam membuat pengelolaan sumber air alternatif menjadi semakin penting. BWS Kalimantan IV menyebut kebutuhan air baku di Kaltim tidak seluruhnya bergantung pada Sungai Mahakam.

Di Samarinda, salah satu sumber penyangga berasal dari Bendungan Lempake. Bendungan tersebut memiliki kapasitas sekitar 900 ribu meter kubik dan menjadi salah satu sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pasokan air bersih masyarakat.

“PDAM Samarinda itu juga mendapatkan air dari kami, dari Bendungan Lempake. Kapasitasnya 900.000 meter kubik. Jadi selain dari Sungai Mahakam juga ada dari Bendungan Lempake,” kata Andri.

Keberadaan sumber alternatif tersebut menjadi penting ketika kondisi sungai utama mengalami perubahan akibat musim.

Ketergantungan pada satu sumber air membuat sistem penyediaan air lebih rentan terhadap berbagai gangguan, mulai dari kemarau, penurunan debit, pencemaran hingga perubahan kualitas air.

Dalam kondisi kemarau, pengelolaan cadangan air menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga pasokan masyarakat.

BWS mengatur ketersediaan air di sejumlah bendungan dengan mempertimbangkan kebutuhan dari berbagai sektor. Air tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan air minum, tetapi juga mendukung irigasi pertanian serta pemeliharaan kondisi sungai.

Andri mengatakan cadangan air yang tersedia sejauh ini masih mencukupi.

“Ini masih cukup dan aman,” tuturnya.

Meski begitu, kondisi aman saat ini tidak berarti pemantauan dapat dihentikan. Musim kemarau dapat berubah apabila periode tanpa hujan berlangsung lebih panjang dari perkiraan.

Penurunan debit sungai yang terus berlanjut dapat memperbesar tekanan terhadap sumber-sumber air yang selama ini menjadi penopang kebutuhan masyarakat.

Di luar Samarinda, strategi pemenuhan kebutuhan air baku juga mengandalkan kombinasi berbagai sumber.

Kota Bontang, misalnya, ditopang oleh air tanah dan air permukaan. Menurut BWS Kalimantan IV, terdapat sembilan sumur air tanah yang dapat digunakan sebagai salah satu sumber pasokan.

Selain itu, Waduk Marangkayu di Kabupaten Kutai Kartanegara turut menjadi bagian dari sistem penyediaan air baku untuk kebutuhan di Bontang.

Kombinasi sumber tersebut membuat pasokan air tidak sepenuhnya bergantung pada satu titik pengambilan. Dalam situasi kemarau, diversifikasi sumber air menjadi penting karena penurunan ketersediaan pada satu sumber dapat ditopang sumber lainnya.

Namun, pemanfaatan air tanah juga memiliki batas. Pengambilan air harus disesuaikan dengan kondisi cekungan air tanah (CAT) serta keberadaan akuifer yang mampu menyimpan dan mengalirkan air di bawah permukaan.

Andri mengatakan BWS memanfaatkan sumber air tanah pada wilayah yang memiliki potensi tersebut.

“Jadi kami memang menyedot, membuat sumurnya itu di tempat-tempat yang ada CAT-nya, ada akuifernya. Nah, itu kita manfaatkan selama ini buat pertanian,” ujarnya.

Pemanfaatan sumber air tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya air selama musim kemarau tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan konsumsi masyarakat, tetapi juga menyangkut pertanian dan aktivitas ekonomi lainnya.

Meski demikian, kebutuhan air minum tetap menjadi prioritas.

“Karena memang yang prioritas adalah buat air minum,” kata Andri.

Air Laut Masuk ke Muara Mahakam, BWS Pastikan Air Baku Masih Aman

Masuknya air laut ke kawasan muara Sungai Mahakam belum berdampak terhadap pasokan air baku. Namun, fenomena tersebut menjadi penanda bahwa kondisi hidrologis Sungai Mahakam sedang mengalami tekanan akibat musim kemarau.

Ketika debit menyusut, persoalannya bukan hanya berkurangnya volume air. Perubahan debit juga dapat memengaruhi kemampuan sungai menahan air laut di bagian hilir.

Semakin kecil dorongan air tawar dari hulu, semakin besar pengaruh pasang surut terhadap pergerakan massa air di kawasan muara.

Karena itu, keamanan pasokan air tidak hanya bergantung pada kondisi hari ini. Pemantauan debit sungai, pergerakan intrusi air laut, kualitas air dan kapasitas cadangan perlu dilakukan secara berkelanjutan.

BWS Kalimantan IV saat ini mengandalkan sejumlah sumber untuk menjaga pasokan, mulai dari Sungai Mahakam, Bendungan Lempake, air tanah hingga Waduk Marangkayu.

Sistem tersebut menjadi penyangga ketika salah satu sumber mengalami tekanan.

Fenomena intrusi air laut di tengah penyusutan debit Sungai Mahakam sekaligus memperlihatkan pentingnya menjaga ketahanan sumber daya air dalam jangka panjang.

Ketersediaan cadangan air, kondisi daerah tangkapan air, serta kemampuan infrastruktur penyimpanan dan distribusi akan menentukan seberapa besar kemampuan daerah menghadapi musim kering.

Untuk saat ini, BWS Kalimantan IV memastikan pengambilan air baku untuk kebutuhan masyarakat masih aman. Air laut yang mulai masuk masih berada di kawasan muara dan belum memengaruhi kualitas air pada titik pengambilan yang digunakan untuk produksi air bersih.

Dengan kondisi tersebut, gangguan pasokan air belum menjadi persoalan mendesak. Namun, penyusutan debit Sungai Mahakam tetap perlu menjadi perhatian.

Jika musim kemarau berlangsung lebih panjang dan debit terus menurun, ruang gerak air laut di bagian hilir berpotensi berubah.

Di tengah ketergantungan masyarakat terhadap sumber air permukaan, memastikan kondisi tetap aman tidak cukup hanya dengan melihat cadangan air yang tersedia. Pemantauan kualitas dan kuantitas air serta kesiapan sumber alternatif akan menjadi penentu ketahanan pasokan apabila tekanan musim kemarau berlanjut.

Untuk sementara, pasokan air baku di Kalimantan Timur masih berada dalam kondisi aman. Namun, menyusutnya debit Sungai Mahakam menjadi sinyal bahwa ruang aman tersebut tetap bergantung pada seberapa lama musim kemarau berlangsung dan seberapa efektif sumber-sumber air cadangan dikelola. (Gi/am)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

POPULER