GAYA HIDUP
Dipercaya Menentukan Hoki Setahun Penuh, Ini 12 Pantangan Saat Perayaan Imlek
Menyambut Tahun Baru Imlek bukan cuma soal perayaan, tapi juga menjaga hoki. Ketahui 12 pantangan yang pantang dilanggar agar rezeki lancar setahun penuh.
Bagi masyarakat Tionghoa, Tahun Baru Imlek bukan sekadar perayaan pergantian kalender biasa. Momen ini diyakini sebagai penanda penting yang bakal menentukan arah keberuntungan, rezeki, dan kemakmura
n selama setahun ke depan. Oleh karena itu, ada serangkaian pantangan warisan leluhur yang masih dijaga ketat hingga hari ini.
Berbagai aturan tak tertulis ini sebenarnya sarat akan makna kultural dan psikologis. Menjalani hari pertama di tahun baru dengan baik dan penuh kehati-hatian merupakan wujud penghormatan, niat baik, serta afirmasi positif untuk menyambut hari-hari mendatang.
Untuk menjaga rezeki dan keharmonisan keluarga, berikut adalah selusin pantangan yang dihindari saat perayaan Imlek:
1. Mengenakan Pakaian Hitam dan Putih
Dalam tradisi Tionghoa, warna hitam dan putih sangat identik dengan nuansa duka atau pemakaman. Menggunakan pakaian dengan warna tersebut saat hari raya dianggap memanggil kesedihan.
Sebaliknya, warna merah dan cerah sangat dianjurkan karena menjadi representasi mutlak dari kemakmuran dan kebahagiaan.
2. Mencuci Rambut dan Pakaian
Pantangan ini berakar pada penghormatan terhadap Dewa Air yang dipercaya berulang tahun pada dua hari pertama Imlek, sehingga kegiatan mencuci dianggap kurang sopan.
Selain itu, kata “rambut” (fa) dalam bahasa Mandarin memiliki pelafalan yang sama dengan “kemakmuran”. Alhasil, keramas di hari pertama Imlek diibaratkan membilas habis rezeki yang baru saja datang.
3. Melontarkan Kata-kata Negatif
Kosakata yang berkonotasi buruk seperti “mati”, “sakit”, atau “kehilangan” sangat dihindari. Ucapan diyakini mengandung energi yang bisa menjadi doa.
Jika anak-anak tanpa sengaja mengucapkannya, orang dewasa biasanya akan segera menetralisasi suasana dengan kalimat penawar bahwa ucapan anak-anak tersebut tidak memiliki niat buruk.
4. Menyeduh dan Meminum Obat
Meminum obat herbal atau resep dokter tepat di hari pergantian tahun dipercaya menjadi pertanda bahwa seseorang akan merana karena penyakit sepanjang tahun. Harapan utamanya adalah memulai tahun dengan tubuh yang sehat.
Tentu saja, pantangan ini dikecualikan bagi mereka yang secara medis memang diwajibkan mengonsumsi obat harian demi keselamatan jiwa.
5. Membiarkan Anak Menangis
Suara tangisan anak diyakini sebagai simbol kesedihan dan pembawa pertanda buruk bagi rumah tangga.
Oleh sebab itu, para orang tua akan berusaha ekstra keras menjaga suasana hati buah hati mereka agar tetap ceria, salah satunya dengan memberikan angpao, mainan, atau makanan manis di awal tahun.
6. Menyapu dan Membersihkan Rumah
Membersihkan hunian pada hari pertama Imlek diibaratkan menyapu keluar seluruh keberuntungan yang baru saja masuk. Agenda bersih-bersih rumah idealnya diselesaikan sebelum Imlek tiba.
Ini adalah simbol membuang kesialan di tahun lalu dan menyiapkan ruang bersih untuk rezeki yang baru.
7. Memecahkan Barang Pecah Belah
Gelas, piring, atau keramik melambangkan keutuhan dan keharmonisan keluarga. Jika ada barang pecah belah yang hancur di hari raya, hal tersebut sering dimaknai sebagai alarm akan datangnya konflik atau perpecahan internal. Kehati-hatian ekstra sangat ditekankan saat menggunakan benda-benda rapuh ini.
8. Menggunakan Benda Tajam
Pisau, gunting, dan benda tajam lainnya secara harfiah maupun filosofis diyakini dapat memotong keberuntungan serta memutus peluang baik yang seharusnya hadir di tahun yang baru. Penggunaannya sangat diminimalkan pada hari pertama.
9. Memberikan Angpao Nominal Ganjil
Angka memegang peranan vital dalam budaya Tionghoa. Angka genap, khususnya angka delapan, adalah magnet hoki tertinggi. Sebaliknya, memberikan angpao dengan nominal ganjil dianggap merepresentasikan ketidakseimbangan dan mengundang hal yang kurang menguntungkan.
10. Berselisih dan Meneteskan Air Mata
Pertengkaran, perdebatan, adu mulut, hingga tangisan sangat dihindari. Memulai tahun dengan emosi negatif dipercaya akan menarik konflik berkepanjangan dan rasa duka selama dua belas bulan penuh ke depan.
11. Sistem Pinjam-Meminjam Uang
Urusan utang piutang adalah ranah tabu saat Imlek. Meminjamkan uang dimaknai sebagai tindakan menyerahkan rezeki sendiri kepada orang lain sepanjang tahun. Sementara itu, meminjam uang di hari raya dipercaya akan membuat pelakunya terus terjerat lingkaran utang tanpa henti.
12. Sarapan Bubur dan Daging
Di masa lalu, bubur adalah simbol makanan bagi kelompok masyarakat kelas bawah. Menyantap bubur saat sarapan di hari raya dihindari agar tidak mengundang kemiskinan. Selain itu, beberapa orang juga memilih sarapan hidangan vegetarian, mengingat para dewa yang turun ke bumi pada hari itu diyakini lebih menyukai makanan berbasis nabati.
Deretan aturan tak tertulis ini pada dasarnya adalah medium pengingat untuk senantiasa memulai lembaran baru dengan niat yang bersih, menjaga keharmonisan tindakan, serta merawat optimisme. (ens)
-
NUSANTARA4 hari agoAkhiri Polemik Mobil Dinas Rp8,5 M: Gubernur Kaltim Harum Putuskan Kembalikan Mobil Dinas Barunya
-
NUSANTARA4 hari agoYamaha Racing Indonesia 2026 Season Launch, Bangun Mimpi Bersama Wujudkan Kemenangan !
-
SAMARINDA3 hari agoKeseruan Ngabuburead Samarinda Book Party, Isi Waktu Menunggu Buka Puasa dengan Literasi dan Berbagi
-
SAMARINDA3 hari agoRiding & Bukber Fazio di Samarinda, Yamaha Kaltim Rangkul Generasi Muda Lewat Kelas Kreatif
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoManfaatkan Momen Ramadan, Bazar DWP Kaltim Jadi Panggung Unjuk Gigi UMKM Perempuan
-
PASER1 hari agoSambangi Korban Kebakaran di Muara Adang Paser, Gubernur Rudy Mas’ud Salurkan Bantuan Saat Safari Ramadan
-
PARIWARA2 hari agoSteal The Show! Warna Special Edition Fazzio Hybrid Starry Night Siap Jadi Spotlight Utama Anak Muda Skena
-
PARIWARA20 jam agoSempurnakan Perjalanan Menuju Hari Raya, Bersama Sparepart, Oli Asli, dan Apparel Spesial dari Yamaha

