SAMARINDA
Empat Tahun Menjaga Nyawa, Dokter On Call Samarinda Kini Jadi Rujukan Daerah Lain
Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan yang cepat dan mudah diakses, Pemerintah Kota Samarinda terus memperkuat sistem penanganan kegawatdaruratan melalui program Dokter On Call (DOC).
Memasuki tahun keempat pelaksanaannya, layanan yang semula dirancang untuk mempercepat penanganan pasien darurat itu kini tak hanya menjadi andalan warga, tetapi juga mulai dilirik pemerintah daerah lain sebagai model pelayanan kesehatan yang layak ditiru.
Bagi masyarakat, layanan darurat bukan sekadar soal ambulans yang datang tepat waktu. Dalam situasi kritis, setiap menit dapat menentukan keselamatan seseorang. Karena itu, kehadiran sistem yang mampu menghubungkan masyarakat dengan tenaga medis secara cepat menjadi bagian penting dari pelayanan publik.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan perjalanan empat tahun Dokter On Call menunjukkan perkembangan yang terus positif. Selain semakin dikenal masyarakat, program tersebut juga mendapat apresiasi dari pemerintah pusat atas kualitas pelayanannya.
“Alhamdulillah Dokter On Call sekarang menjadi salah satu pelayanan yang mendapat apresiasi dari pusat. Tahun ini usianya sudah memasuki empat tahun dan semakin diterima masyarakat Kota Samarinda,” kata Ismed, Senin (27/7/2026) lalu.
Menghubungkan Pasien dengan Pertolongan Lebih Cepat
Dokter On Call lahir sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat terhadap layanan medis yang cepat ketika menghadapi kondisi darurat. Program ini menjadi penghubung antara masyarakat, fasilitas kesehatan tingkat pertama, hingga rumah sakit rujukan agar pasien memperoleh penanganan secepat mungkin.
Layanan tersebut juga telah terintegrasi dengan sistem kegawatdaruratan nasional 119 milik Kementerian Kesehatan. Integrasi itu mempermudah koordinasi antara petugas lapangan, fasilitas kesehatan, dan rumah sakit sehingga proses penanganan pasien menjadi lebih efektif.
Menurut Ismed, keberadaan sistem yang saling terhubung menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.Untuk menunjang operasionalnya, Dinas Kesehatan Kota Samarinda mengoperasikan dua unit ambulans mini ICU, tiga ambulans transportasi, dan empat unit motor medis.
Keberadaan motor medis menjadi solusi bagi kondisi perkotaan yang memiliki kawasan padat penduduk dan gang sempit. Kendaraan roda dua memungkinkan petugas menjangkau lokasi pasien lebih cepat dibandingkan ambulans konvensional.
Dalam pelayanan kegawatdaruratan, selisih waktu beberapa menit sering kali menjadi penentu keselamatan pasien. Karena itu, kecepatan respons terus menjadi fokus utama pengembangan layanan Dokter On Call.
Berkat penguatan sistem tersebut, Samarinda berhasil masuk tiga besar nasional dalam penilaian layanan 119 pada tahun sebelumnya.
Tak hanya itu, pada April 2026, capaian respons panggilan layanan darurat Samarinda bahkan mencatatkan hasil yang lebih baik dibandingkan Jakarta.
“Respon panggilan kita waktu itu bahkan di atas Jakarta. Itu yang menjadi salah satu indikator penilaian sehingga Samarinda mendapat apresiasi,” ungkap Ismed.
Dokter Siaga 24 Jam, Kini Jadi Rujukan Daerah Lain
Salah satu keunggulan Dokter On Call Samarinda terletak pada keterlibatan dokter secara langsung selama 24 jam penuh.Jika di sejumlah daerah layanan kegawatdaruratan masih banyak mengandalkan tenaga perawat sebagai petugas utama, Samarinda menempatkan dokter yang berjaga secara bergantian dalam tiga shift setiap hari.
“Yang mendapat apresiasi itu karena di Samarinda dokter benar-benar standby 24 jam. Di daerah lain ada yang hanya perawat, sementara di sini dokter selalu siap bergantian setiap shift,” jelasnya.
Keberadaan dokter sejak awal penanganan memungkinkan pengambilan keputusan medis dilakukan lebih cepat sesuai kondisi pasien. Meski membutuhkan biaya operasional yang lebih besar, Pemerintah Kota Samarinda memilih menempatkan kualitas pelayanan sebagai prioritas.
Keberhasilan tersebut kini mulai menarik perhatian daerah lain. Pada Juni 2026, Pemerintah Provinsi Papua Tengah mengirimkan tim ke Samarinda untuk mempelajari sistem operasional Dokter On Call sebagai referensi pengembangan layanan serupa.
Menurut Ismed, kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa inovasi pelayanan publik yang lahir dari daerah mampu menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Indonesia.
Meski demikian, ia menilai setiap daerah tetap perlu menyesuaikan penerapan layanan dengan kondisi geografis, kemampuan anggaran, serta ketersediaan tenaga kesehatan masing-masing.
Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi membangun sistem, melainkan menjaga kualitas pelayanan di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat. Pertumbuhan penduduk, mobilitas perkotaan, hingga perkembangan teknologi kesehatan menuntut layanan ini terus beradaptasi.
Penguatan armada, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan teknologi informasi, serta koordinasi dengan rumah sakit rujukan menjadi pekerjaan yang harus terus dilakukan agar kualitas layanan tetap terjaga.
Empat tahun perjalanan Dokter On Call menunjukkan bahwa investasi pada sistem layanan kegawatdaruratan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kini, ketika program tersebut mulai menjadi rujukan bagi daerah lain, tantangan berikutnya adalah memastikan kecepatan respons, kualitas penanganan medis, dan kemudahan akses tetap terjaga sehingga kepercayaan masyarakat terus tumbuh dari waktu ke waktu. (Gi/am)
-
OPINI1 hari agoMereka Menjaga Kehidupan
-
OLAHRAGA1 hari agoDe’Ale Billiard Gratiskan Arena Latihan PWI Kaltim Biliar Club, Bidik Prestasi Wartawan
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoPemprov Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat di Palaran, Pastikan Kesiapan Fasilitas Pendidikan
-
FEATURE4 jam agoDi Balik Dinding yang Mulai Rapuh, Semangat Belajar SD Negeri 002 Anggana Tetap Menyala
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoMangrove Kaltim Diklaim Capai 239 Ribu Hektare
-
OLAHRAGA16 jam agoYamaha Cup Race 2026 Kembali ke Padang Setelah 11 Tahun, Hadirkan 14 Kelas Balap dan MAXi Race
-
NUSANTARA1 hari agoAngklung Menggema Sambut MAXI Yamaha Day 2026 Jawa Barat, Padukan Touring dan Budaya dalam Satu Perjalanan Menuju Kuningan
-
SEPUTAR KALTIM6 jam agoPernah Tembus Rp25 Triliun, APBD Kaltim 2027 Diproyeksikan Turun Jadi Rp12,1 Triliun

