Connect with us

INTERNASIONAL

Fatwa Boikot Produk Pro Israel Bikin Gejolak, MUI Dituntut Bikin Daftar ‘Haram’

Diterbitkan

pada

produk
Ilustrasi: aksi boikot Israel. (AP Photo/Remy de la Mauviniere)

Fatwa MUI soal boikot produk yang mendanai Israel mulai jadi gejolak di Tanah Air. Banyak perusahaan terancam bangkrut, yang berujung pada gelombang PHK. MUI pun dituntut untuk membuat daftar produk yang diboikot, agar masyarakat tidak bingung.

Belasan ribu warga Palestina meregang nyawa akibat serangan Israel. PBB sudah meminta Israel dan Hamas gencatan senjata. Untuk mencegah tumbangnya lebih banyak nyawa. Namun Israel tak menggubrisnya.

Dukungan untuk menghentikan perang pun makin gencar dari seluruh dunia. Termasuk dari Indonesia yang memiliki histori panjang dengan Palestina. Teranyar, Majelis Ulama Indonesia (MUI) turut melakukan intervensi. Untuk mewujudkan gencatan senjata di sana.

MUI mengeluarkan Fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina. Fatwa ini merekomendasikan umat Islam semaksimal mungkin menghindari penggunaan produk yang terafiliasi dengan Israel.

Imbauan ini sangat manjur. Dalam 2 pekan terakhir, banyak umat muslim di Indonesia yang langsung melakukannya. Situasi ini pun merembet ke persoalan di luar perang antar dua negara. Namun ketahanan ekonomi Indonesia.

Ya, seruan boikot produk pro Israel telah mengguncang industri ritel. Pasalnya pabrikan yang diduga mendanai Israel adalah perusahaan-perusahaan raksasa. Yang memiliki sangat banyak pekerja dari Indonesia.

Dalam ancaman gulung tikar, nasib para pekerja ini pun jadi tanda tanya. Negara sudah mencium gelagat ini. Selasa kemarin, DPR RI mengundang Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) RI. Untuk meminta penjelasan soal ancaman PHK.

Menaker Ida Fauziyah lalu menerangkan, bahwa pihaknya terus menjalin komunikasi. Dengan semua perusahaan yang ‘betulan’ berafiliasi dengan Israel. Intinya, Kemenaker meminta perusahaan-perusahaan itu bersabar dulu. Dan menghindari opsi melakukan PHK masal.

“Bu Dirjen PHI Jamsos terus melakukan komunikasi agar ekspresi (boikot) itu juga tidak mengganggu kesempatan saudara kita yang bekerja di perusahaan tersebut,” ujarnya, Selasa, mengutip dari CNBC.

MUI Perlu Buat Daftar Produk

Ulama kharismatik Prof Muhammad Quraish Shihab ikut angkat bicara tentang masalah ini. Karena belum lama ini, dia bercerita kalau mendapat aduan dari seorang pengusaha. Yang mengalami penurunan pendapatan hingga 60 persen sejak fatwa boikot diteken.

“Nah, pada dasarnya kita harus memboikot yang jelas-jelas membantu Israel, yang tidak, kita harus berhitung dong. Apakah dia lebih rugi atau kita lebih rugi?” ujarnya di kanal YouTube Bayt Al-Quran, Rabu 15 November 2023.

Sang ulama menekankan betapa pentingnya daftar produk yang masuk dalam fatwa MUI. Hal ini untuk menghindari boikot salah sasaran.

“Yang penting, ada memang produk-produk yang di situ sudah jelas mendukung Israel. Tetapi boikot perlu, dan banyak yang perlu diboikot. Hanya saja kita perlu teliti, apakah (produk) ini tidak (perlu diboikot),” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sarman Simanjorang meminta agar ada penelusuran secara detail. Mana produk yang memang berafiliasi dengan Israel dan tidak.

“Karena jangan sampai tidak ada hubungan apa-apa jadi ikut-ikutan, harus berhati-hati hadapi boikot memboikot ini,” kata Sarman, Selasa, mengutip dari Republika.

Sebagai negara berkembang, lanjutnya, aksi boikot ini langsung memberi dampak pada tenaga kerja. Yang bekerja di perusahaan multinasional. Kondisi ini lebih mengkhawatirkan karena perekonomian baru saja pulih akibat pandemi Covid-19 dan konflik Rusia-Ukraina.

“Sehingga kita harus jeli melihat apakah benar ada kaitannya, perlu melakukan penelitian mendalam sebelum lakukan boikot, apa benar (produk) terafiliaisi Israel,” imbuhnya. (dra)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

advertising

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.