FEATURE
Gaji Pas-pasan tapi Tetap Keren: Cara Gen Z Mendefinisikan Ulang Makna Sukses di 2026
Sukses tak lagi soal pamer kekayaan. Lewat tren jujur soal kondisi dompet dan prinsip kerja sesuai gaji, Gen Z di 2026 membuktikan bahwa kebebasan finansial dan waktu luang adalah kemewahan yang baru. Berikut cara Gen Z mendefinisikan ulang makna sukses.
Sepanjang 2025, kita melihat Gen Z bukan lagi sekadar penikmat konten, melainkan pendobrak norma sosial yang paling keras kepala. Mereka tidak lagi berusaha terlihat kaya atau sukses secara artifisial.
Memasuki 2026, perilaku ini berevolusi menjadi gaya hidup yang lebih pragmatis dan cenderung “anti-digital”. Generasi ini sedang menunjukkan bahwa cara terbaik bertahan hidup di dunia yang makin mahal adalah dengan tetap jujur dan kembali ke akar.
Loud Budgeting: Gengsi Sudah Mati
Kalau dulu bilang “nggak punya duit” itu memalukan, di 2026 perilaku Loud Budgeting justru jadi kebanggaan. Tren ini adalah warisan terkuat dari 2025 yang kian matang.
Gen Z tidak lagi mencari alasan palsu untuk menolak ajakan nongkrong mahal. Mereka akan langsung bilang, “Gue lagi nabung,” atau “Itu di luar bujet gue.” Transparansi finansial ini meruntuhkan standar sosial lama yang memaksa orang terlihat mampu demi validasi.
Analog Renaissance: Pelarian dari Kelelahan Layar
Tahun ini juga akan menambah titik jenuh terhadap dunia digital. Fenomena Analog Renaissance meledak bukan karena Gen Z anti-teknologi, tapi karena mereka haus akan pengalaman taktil.
Penggunaan kamera digital lawas (digicam), hobi merajut, hingga mengoleksi buku fisik bukan sekadar tren estetik, melainkan upaya sadar untuk memutus rantai algoritma. Di mata mereka, sesuatu yang bertekstur dan bisa disentuh jauh lebih mewah daripada sekadar piksel di layar sentuh.
Act Your Wage: Hubungan Kerja yang Transaksional
Istilah Quiet Quitting sudah dianggap kuno. Di 2026, slogannya adalah “Act Your Wage”—bekerja sesuai porsi gaji. Gen Z tidak lagi mengejar loyalitas buta pada korporasi yang bisa mem-PHK mereka kapan saja.
Mereka bekerja secara profesional dan terukur, namun menuntut timbal balik nilai dan fleksibilitas yang adil. Karir bagi mereka bukan lagi identitas diri, melainkan alat transaksi untuk membiayai kehidupan nyata mereka di luar kantor.
Gen Z sering dicap pemberontak, padahal mereka hanya bersikap logis. Perubahan budaya yang mereka bawa di 2026 adalah respons terhadap dunia yang semakin menekan.
Mereka tidak sedang menghancurkan sistem; mereka hanya sedang menetapkan aturan baru agar bisa hidup lebih jujur, lebih tenang, dan lebih masuk akal. (ens)
-
PARIWARA5 hari agoGathering Team AEROX Hadir kembali, Ratusan Bikers dan Modifikasi AEROX Kepung Jalanan Kota Bandung dan Surabaya
-
PARIWARA4 hari agoWorld Supersport 2026 Kick Off, Aldi Satya Mahendra El’ Dablek Jadikan Momentum Awal Positif Musim Ini
-
SAMARINDA4 hari agoBuka Safari Ramadan Pemprov Kaltim, Rudy Mas’ud Minta Masjid Jadi Wadah Kaderisasi Pemuda
-
NUSANTARA3 hari agoAnti Worry! Healing ke Swiss van Java Jadi Semakin Syahdu Bareng Warna Terbaru Classy Yamaha
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoWaspada Banjir Rob, BMKG Peringatkan Pasang Laut Kaltim Capai 2,8 Meter Sepekan ke Depan
-
EKONOMI DAN PARIWISATA2 hari agoCuma Disokong Rp5 Juta, Kampung Ramadan Temindung Sukses Gerakkan Ekonomi Samarinda
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoAngka Kebugaran Warga Benua Etam Mengkhawatirkan, KORMI Kaltim Turun Tangan Gagas ‘Kaltim Aktif’
-
SAMARINDA4 hari agoCetak Rekor di Kalimantan, Korem 091/ASN Raih Kartika Award sebagai Wilayah Bebas Korupsi

