Connect with us

NUSANTARA

IKN Dapat Kucuran 2,49 Juta Dolar dari Amerika Serikat, Bantu Perkuat Perencanaan Smart City

Published

on

Pemerintah AS melalui USTDA mengucurkan hibah 2,49 juta dolar AS untuk merancang cetak biru digital IKN. Nusantara ditargetkan berevolusi dari Smart City menjadi Cognitive City.

Ambisi menjadikan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai kota pintar berskala global mendapat dorongan pendanaan dari Amerika Serikat.

Lewat skema hibah senilai 2,49 juta dolar AS, pemerintah Negeri Paman Sam menjadi resmi turun tangan membantu Otorita IKN. Untuk meracik cetak biru Smart City yang matang, transparan, dan siap ditawarkan ke meja investor.

Suntikan dana dari U.S. Trade and Development Agency (USTDA)—lembaga independen AS yang berfokus pada pembangunan ekonomi dan kemitraan investasi—ini juga secara resmi ditandatangani pada Rabu (25/2/2026) di Kantor Otorita IKN. Pertemuan perdana proyek ini juga langsung dihadiri oleh perwakilan senior USTDA untuk Indonesia, Yolanda Hanna.

Dana jutaan dolar tersebut tidak dipakai untuk mengecor jalan atau membangun gedung, melainkan murni dialokasikan untuk asistensi teknis. Tujuannya adalah mematangkan “otak” digital IKN.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menegaskan bahwa kerangka digital ini merupakan fondasi yang tak terpisahkan dari wujud fisik Nusantara ke depan.

“Visi kami jelas: Nusantara harus menjadi kota yang hijau, berkelanjutan, dan secara fundamental cerdas,” kata Basuki.

Dokumen Siap Lelang dan Libatkan Raksasa Teknologi

Untuk mengeksekusi kerangka kerja raksasa ini, Otorita IKN menggandeng konsorsium lintas negara. Bertindak sebagai pelaksana teknis adalah Eficens Systems Inc, yang berkolaborasi dengan Frost & Sullivan (AS dan Indonesia), ASECH Indonesia, Mirekel, hingga PT Searce Technologies Indonesia yang merupakan mitra platform Google Cloud.

Hasil akhir dari proyek asistensi teknis ini pun bukanlah sekadar wacana, melainkan serangkaian dokumen strategis yang siap dieksekusi, di antaranya:

  • Arsitektur sistem kota pintar (Smart City Enterprise Architecture).
  • Paket lelang yang siap tender (Procurement-Ready RFP Packages).
  • Model keuangan dan investasi.
  • Kerangka kerja berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG Compliant Framework/PESIA).
  • Peta jalan pengembangan kapasitas SDM.
  • Rencana tahapan implementasi.

Bidik Level Cognitive City

Lebih jauh, proyek ini menargetkan Nusantara untuk tidak hanya puas di level kota pintar konvensional. Anggota Dewan Frost & Sullivan Amerika sekaligus Direktur Proyek inisiatif ini, Subhranshu Sekhar Das, memaparkan visinya untuk mendorong IKN naik kelas menjadi Cognitive City (kota kognitif).

Menurut Subhranshu, era infrastruktur digital yang kaku sudah mulai usang. Kota-kota masa depan kini harus beralih menggunakan kecerdasan adaptif.

“Nusantara memiliki peluang untuk menjadi lebih dari sekadar kota cerdas, Nusantara dapat berevolusi menjadi Cognitive City. Seiring transformasi industri pengetahuan global, kota-kota harus beralih dari infrastruktur digital yang statis menuju sistem kecerdasan yang adaptif,” papar Subhranshu.

Ia menambahkan, teknologi seperti Agentic AI (kecerdasan buatan otonom) dan platform pengetahuan terintegrasi akan menjadi motor penggerak bagi IKN untuk belajar, menyimulasikan, dan mengoptimalkan tata kelola kota secara real-time.

“Nusantara berpotensi menjadi model rujukan global bagi paradigma perkotaan berbasis kecerdasan ini,” pungkasnya. (ens)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.