Connect with us

BERAU

Kemarau Panjang Ganggu Penyu Bertelur di Pulau Sangalaki Berau

Published

on

Kemarau panjang mulai mengusik siklus penyu bertelur di Pulau Sangalaki, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Hampir dua bulan tanpa hujan membuat pasir pantai menjadi sangat kering, hingga penyu kesulitan menggali lubang untuk menyimpan telur.

Sejumlah penyu bahkan harus meninggalkan lokasi setelah lubang yang digalinya berulang kali longsor. Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur yang melakukan patroli malam menemukan jejak penyu tanpa diikuti keberadaan sarang.

Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri bagi kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi penting penyu bertelur di Berau.

Koordinator BKSDA Kaltim di Pulau Sangalaki, Arsad, mengatakan kondisi pasir yang terlalu kering mulai memengaruhi aktivitas penyu ketika naik ke daratan pada malam hari.

“Pasirnya sangat kering karena hampir dua bulan belum ada hujan. Itu mengganggu penyu juga kalau datang bertelur malam di sini,” kata Arsad saat ditemui di Pulau Sangalaki, Kamis (3/9/2026).

Penyu Datang, tetapi Gagal Membuat Sarang

Secara alami, penyu yang tiba di pantai pada malam hari akan mencari lokasi yang dianggap sesuai untuk bertelur. Setelah menemukan titik yang cocok, penyu menggali pasir hingga membentuk lubang untuk menyimpan telurnya.

Namun, kondisi pasir yang kering membuat proses itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Lubang yang sudah digali mudah runtuh sehingga penyu gagal membentuk sarang.

Setelah beberapa kali mencoba, penyu bisa berpindah ke lokasi lain. Tidak jarang, patroli petugas hanya menemukan jejak yang berakhir tanpa sarang.

Oleh petugas, kondisi ketika penyu datang ke daratan tetapi gagal membuat sarang tersebut disebut sebagai penyu yang “memeti”.

“Dia datang, jejaknya terus gagal bertelur, pindah-pindah. Tiap malam kita patroli itu menemukan hanya jejak saja,” ujar Arsad.

Masalahnya tidak berhenti pada kegagalan menggali sarang. Dalam sejumlah kasus, penyu akhirnya mengeluarkan telur langsung di atas permukaan pasir.

“Kadang dia bertelur ini enggak digali lagi. Dia bertelur berhambur di pasir. Mungkin sudah kebelet, sudah tidak tahan, akhirnya telurnya dihambur saja di pasir,” jelasnya.

Telur yang diletakkan tanpa sarang tentu menghadapi risiko lebih besar. Sarang yang digali penyu secara alami berfungsi melindungi telur selama masa inkubasi. Ketika telur berada begitu saja di permukaan pasir, peluangnya untuk bertahan hingga menetas menjadi lebih rentan.

Pulau Sangalaki sendiri memiliki pola kedatangan penyu yang berbeda sepanjang tahun. Menurut Arsad, periode puncak biasanya berlangsung sekitar April hingga Agustus.

Pada periode tersebut, petugas bisa menemukan lebih dari 20 jejak penyu dalam satu malam. Memasuki September hingga Maret, jumlahnya cenderung menurun menjadi sekitar 10-20 jejak per malam.

Namun, jumlah jejak tidak otomatis sama dengan jumlah individu penyu. Satu ekor penyu dapat meninggalkan lebih dari satu jejak dalam rangkaian aktivitasnya.

Dalam pencatatan lapangan, BKSDA menggunakan asumsi setiap jejak yang ditemukan sebagai kedatangan satu individu.

“Kalau jejaknya 10, kami laporkan 10 yang datang. Sistemnya seperti itu di sini,” katanya.

Relokasi Sarang Ikut Terkendala

Kemarau panjang juga membuat pekerjaan petugas konservasi menjadi lebih sulit setelah penyu berhasil bertelur.

Salah satu upaya yang dilakukan BKSDA untuk meningkatkan peluang telur menetas adalah merelokasi sarang ke lokasi yang lebih aman. Namun, kondisi pasir yang terlalu kering membuat jumlah sarang yang berhasil dipindahkan ikut menurun.

Dalam kondisi normal, petugas bisa merelokasi sekitar delapan hingga 10 sarang dalam sehari. Kini, jumlah tersebut turun drastis.

“Sekarang kami usahakan ada satu sarang, atau bisa dua sarang. Tapi rata-rata satu sarang yang berhasil kami relokasi,” ungkap Arsad.

Satu sarang rata-rata berisi sekitar 100 butir telur. Artinya, ketika hanya satu hingga dua sarang yang dapat direlokasi dalam sehari, telur yang berhasil diamankan berada di kisaran 100-200 butir.

Petugas juga tidak bisa sembarangan mengatasi pasir yang kering dengan menyiramnya menggunakan air. Air laut, misalnya, justru berisiko mengganggu perkembangan telur.

“Kalau kena air asin itu akan gagal untuk menetas. Jadi kami hanya berusaha semaksimal mungkin,” katanya.

Karena itu, petugas harus menyesuaikan tindakan konservasi dengan kondisi alami pantai. Intervensi yang tidak tepat justru dapat menambah risiko kegagalan penetasan.

Dampak kemarau bahkan mulai terasa pada aktivitas wisata di Pulau Sangalaki. Salah satu pengalaman yang selama ini menjadi daya tarik wisatawan adalah menyaksikan tukik keluar dari sarang setelah menetas.

Dalam kondisi normal, sekitar dua hingga tiga sarang dapat menetas hampir setiap hari. Namun, situasi saat ini membuat petugas tidak bisa memastikan selalu ada tukik yang dapat disaksikan pengunjung.

“Dulu salah satu atraksi wisata di Sangalaki itu melihat telur penyu menetas. Sekarang kadang tamu datang ingin melihat yang menetas, enggak ada,” pungkas Arsad.

Bagi petugas konservasi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemarau tidak hanya memengaruhi jumlah penyu yang datang ke pantai. Persoalannya juga menyentuh keberhasilan setiap tahapan reproduksi, mulai dari penyu menggali sarang, mengeluarkan telur, hingga telur bertahan selama masa inkubasi.

Patroli malam tetap dilakukan untuk mendeteksi kedatangan penyu dan menemukan sarang yang masih dapat diselamatkan. Namun, kemampuan petugas dalam melakukan relokasi sangat bergantung pada kondisi sarang dan lingkungan pantai.

Hampir dua bulan tanpa hujan akhirnya menjadi tekanan tambahan bagi penyu di Pulau Sangalaki. Memasuki September yang memang bukan lagi periode puncak kedatangan, penyu yang tetap naik ke pantai kini harus menghadapi pasir yang terlalu kering untuk membuat sarang.

Di tengah kondisi tersebut, setiap sarang yang berhasil ditemukan dan direlokasi menjadi sangat berarti bagi upaya menjaga keberlangsungan populasi penyu di Pulau Sangalaki. (Gi/am)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

POPULER