SAMARINDA
Lubang Bekas Tambang Jadi Wisata? Wacana Menarik, Tapi Belum Ada Aksi
Meski telah ada yang berhasil mengubah lubang bekas tambang menjadi destinasi wisata, Samarinda masih tertinggal dalam hal ini. Hingga kini, belum ada langkah konkret dari pemerintah maupun investor untuk merealisasikannya.
Dengan rencana penghentian tambang pada 2026, peluang untuk memanfaatkan lahan eks tambang terbuka lebar.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, telah menegaskan bahwa kota ini akan terbebas dari pertambangan pada tahun 2026. Meski demikian, diskusi terkait pemanfaatan lahan bekas tambang masih belum digarap secara serius.
Secara hukum, pemanfaatan bekas tambang untuk kepentingan wisata sebenarnya diperbolehkan, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2014 tentang Reklamasi dan Pascatambang Pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batu Bara.
Belum Menarik Investor
Sekretaris Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Samarinda, Andy Ariefin, menilai gagasan menjadikan lubang bekas tambang sebagai destinasi wisata sangat menarik. Namun, hingga kini belum ada langkah konkret dari pihak swasta untuk berinvestasi di sektor ini.
“Sampai sekarang, belum ada pembahasan lebih lanjut terkait hal ini. Mungkin karena fokus pengembangan pariwisata masih di tahap pembangunan Teras Samarinda. Tapi, konsep ini memang menarik dan bisa dipertimbangkan di masa mendatang,” ujarnya.
Andy juga mengingatkan bahwa gagasan ini sempat muncul beberapa tahun lalu, namun belum ada tindak lanjut yang jelas. Padahal, lubang bekas tambang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata seperti danau buatan atau arena rekreasi. Regulasi yang ada sebenarnya telah memberikan peluang, tinggal bagaimana pihak terkait bisa memanfaatkannya dengan baik.
Akan Adakan Kolaborasi Intens
Meskipun masih sebatas wacana, Disporapar Samarinda berencana memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mencari solusi terkait pemanfaatan lubang eks tambang. Menurut Andy, keinginan untuk mengembangkan sektor pariwisata di Samarinda semakin kuat, terutama dari para pemangku kebijakan.
“Ke depan, kami akan lebih intens dalam mencari cara agar kolaborasi ini bisa berjalan. Salah satunya dengan mengaitkan wacana penutupan tambang pada 2026 sebagai peluang untuk mengembangkan konsep wisata di lahan bekas tambang,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan berbagai pihak seperti pemerintah, investor, dan masyarakat sangat penting agar rencana ini bisa direalisasikan. Jika dikelola dengan baik, lubang eks tambang yang sebelumnya dianggap sebagai masalah justru bisa menjadi daya tarik baru bagi wisata Samarinda.
Sejumlah daerah di Kalimantan Timur telah membuktikan bahwa reklamasi tambang dapat menghasilkan destinasi wisata yang menarik. Dengan pendekatan yang tepat, Samarinda pun bisa memanfaatkan peluang ini demi pengembangan pariwisata yang lebih berkelanjutan.
“Tapi memang wacana lubang bekas tambang jadi objek wisata itu ide yang menarik,” pungkas Andy. (tha/sty)
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoAntrean BBM di Kaltim, Rudy Mas’ud Sebut Masalah Ada di SPBU
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoSeleksi Dirut MMP Kaltim Dipersoalkan, Batas Usia Maksimal Jadi Sorotan
-
PARIWARA4 hari agoBreak Time Bareng AEROX, Cara Yamaha Dekatkan AEROX ALPHA dengan Generasi Muda
-
KUKAR3 hari agoPemprov Kaltim Tegaskan Aset SMAN 10 Samarinda Tetap Bisa Digunakan untuk Belajar
-
KUKAR3 hari agoDistanak Kukar Kembangkan Sorgum dan Siapkan Demplot Jelai untuk Diversifikasi Pangan
-
KUKAR3 hari agoJangkauan Program Distanak Kukar Terkendala SDM dan Fiskal
-
EKONOMI DAN PARIWISATA4 hari agoHarga Sawit Kaltim Naik, TBS Umur 10–20 Tahun Tembus Rp3.604 per Kg
-
PARIWARA5 hari agoBAF Friends Festival di Yamaha Sentral Balikpapan, Ada Service dan Ganti Oli Gratis

