FEATURE
Menyusuri Denyut Nadi Kaltim: 4 Fakta Memikat Sungai Mahakam, dari Habitat Pesut hingga Mitos Air Bertuah
Sungai Mahakam bukan sekadar jalur transportasi. Simak 4 fakta menarik mulai dari habitat Pesut, fenomena danau kaskade, hingga mitos air bertuah yang melegenda.
Bagi sebagian orang yang hanya melihat dari permukaan, Sungai Mahakam mungkin sekadar jalur transportasi raksasa tempat kapal tongkang batubara hilir mudik. Namun, sungai sepanjang kurang lebih 920 kilometer ini menyimpan eksotisme bentang alam dan narasi sejarah yang panjang.
Membelah tiga wilayah administratif utama—mulai dari hulu di Kutai Barat, melintasi Kutai Kartanegara, hingga bermuara di Samarinda—Mahakam adalah “Amazon”-nya Kalimantan Timur. Sungai ini bukan sekadar urat nadi ekonomi, melainkan ekosistem kompleks yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati sekaligus saksi bisu peradaban tertua di Nusantara.
Bagi para pelancong yang ingin mengenal wajah asli Kalimantan Timur, Sungai Mahakam menawarkan pesona yang berbeda. Berikut adalah empat fakta menarik yang membuat sungai menjadi kebanggaan masyarakat Kaltim:
1. Rumah Bagi Legenda Hidup: Pesut Mahakam
Daya tarik utama yang membuat Mahakam mendunia adalah keberadaan Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris). Mamalia air tawar yang sering disalahartikan sebagai lumba-lumba ini merupakan spesies langka dan sangat dilindungi.
Dalam mitologi lokal, keberadaan pesut kerap dikaitkan dengan jelmaan manusia. Namun secara ekologis, kehadiran mereka adalah indikator kesehatan sungai.
Meskipun populasinya kian terancam, wisatawan yang beruntung masih bisa melihat kemunculan mereka di area-area tertentu, menyembul ke permukaan untuk bernapas. Terutama di Desa Pela Kutai Kartanegara.
Selain pesut, daerah aliran sungai (DAS) Mahakam juga menjadi habitat bagi ratusan spesies burung, termasuk Enggang dan Raja Udang, serta ratusan spesies ikan air tawar yang menjadi sumber pangan warga lokal.
2. Fenomena Danau Kaskade yang Unik
Mahakam tidak berdiri sendiri. Di bagian tengah alirannya, sungai ini terhubung dengan sistem danau kaskade (bertingkat) yang memukau, yakni Danau Jempang, Danau Semayang, dan Danau Melintang.
Ketiga danau ini memiliki karakteristik unik yang mengikuti musim. Saat musim hujan, luas permukaannya bisa mengembang drastis, menyatukan daratan menjadi lautan air tawar.
Sebaliknya, di puncak musim kemarau, air danau bisa surut hingga menyisakan alur-alur kecil, bahkan menjadi daratan kering hingga kendaraan bisa melaluinya.
Fenomena pasang-surut ekstrem ini menciptakan lanskap fotografi yang dramatis dan menjadi habitat penting bagi burung-burung migran.
3. Kode Unik Penamaan Wilayah: Long, Muara, dan Loa
Jika menyusuri Mahakam dari hulu ke hilir, kita akan menemukan pola penamaan daerah yang unik dan konsisten. Hal ini mencerminkan karakteristik geografis dan demografi budaya masyarakat yang bermukim di tepiannya.
Di wilayah hulu (Kutai Barat), nama daerah sering diawali dengan kata “Long” (contoh: Long Bagun, Long Pahangai) yang identik dengan permukiman suku Dayak.
Masuk ke wilayah tengah (Kutai Kartanegara), penamaan berubah menjadi “Muara” (contoh: Muara Kaman, Muara Muntai). Sementara mendekati hilir (Samarinda dan sekitarnya), nama daerah didominasi awalan “Loa” (contoh: Loa Janan, Loa Buah, Loa Bakung).
Ketiga istilah tersebut—baik Long, Muara, maupun Loa—memiliki arti yang serupa, yakni muara sungai, namun terucap dengan dialek budaya yang berbeda.
4. Jejak Peradaban Purba dan Mitos “Air Mahakam”
Sungai ini adalah saksi sejarah peradaban tertua di Indonesia. Di tepian Mahakam-lah berdiri Kerajaan Kutai Martadipura sekitar abad ke-4 Masehi. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa sungai ini telah menjadi jalur perdagangan internasional yang dilintasi pelaut dari India dan Tiongkok sejak ribuan tahun lalu.
Selain sejarah faktual, Mahakam juga diselimuti mitos yang dipercaya kuat oleh masyarakat setempat. Salah satu pepatah populer menyebutkan, “Siapa pun yang pernah meminum air Mahakam, suatu saat pasti akan kembali lagi ke Kalimantan Timur.”
Terlepas dari kebenarannya, ungkapan ini menggambarkan betapa kuatnya ikatan emosional. Antara sungai ini dengan siapa saja yang pernah menjejakkan kaki di Benua Etam. (ens)
-
BALIKPAPAN3 hari agoSambut HUT ke-129, Balikpapan Rilis Logo “Harmoni Menuju Kota Global”
-
PARIWARA5 hari agoSetingan “KECE” Biar Makin Pede, Cara Mudah Bawa Pulang Yamaha Classy Fazzio dan Filano
-
GAYA HIDUP2 hari agoAngka Pernikahan 2025 Naik Tipis, Tren ‘Enggan Nikah’ Mulai Melandai?
-
SEPUTAR KALTIM1 hari agoBibit Siklon Tropis 97S Kepung Indonesia Bagian Selatan, Begini Prediksi Cuaca Kaltim Sepekan ke Depan
-
SAMARINDA1 hari agoSamarinda Menuju Usia 358 Tahun: Menelusuri Jejak Enam Kampung Purba dan Akar Sejarah Kota Mahakam
-
SEPUTAR KALTIM5 hari agoKaltim Borong Penghargaan di Hari Desa Nasional 2026, Dua Wilayah Sabet Peringkat 1
-
BERAU4 hari agoTinggalkan Status Perintis, Wings Air Kini Terbang Komersial ke Maratua: Rudy Mas’ud Jajal Pendaratan Perdana
-
FEATURE2 hari agoFenomena AI di 2026: Jadi “Asisten Hidup” yang Memanjakan, atau Perangkap Ketergantungan?

