SAMARINDA
Penyalahgunaan Obat Tertentu Jadi Pintu Masuk Narkoba, BNN Samarinda Ingatkan Ancaman Serius
Balai Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Tanah Merah Samarinda mengungkapkan bahwa sebagian besar penyalahguna narkoba yang menjalani rehabilitasi berawal dari penggunaan obat-obatan tertentu (OOT).
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena OOT kerap dianggap lebih “ringan” dibandingkan narkotika, padahal memiliki risiko besar terhadap ketergantungan.
Sebagian besar pengguna, kata BNN, memulai dari rasa ingin coba-coba, pengaruh lingkungan pergaulan, hingga upaya menghilangkan tekanan psikologis. Namun, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi ketergantungan yang lebih berat.
Dari Obat Tertentu ke Narkotika Lebih Kuat
Kepala Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah, Bambang Styawan, menjelaskan bahwa banyak kasus menunjukkan pola berulang: pengguna yang sudah terbiasa dengan efek obat tertentu kemudian beralih ke narkotika dengan efek yang lebih kuat seperti sabu-sabu.
“Awalnya dari inhalan, kemudian naik ke obat-obatan tertentu, lalu akhirnya mencoba sabu,” ujar Bambang dalam kegiatan Aksi Nasional Pencegahan Penyalahgunaan OOT dan Peran APBN dalam Pengawasan di Samarinda, Selasa (19/5/2026).
Ia menuturkan, pola tersebut banyak ditemukan pada penghuni balai rehabilitasi, termasuk dari kalangan pelajar dan remaja. Bahkan saat ini, pihaknya juga tengah menangani sejumlah pelajar yang menjalani rehabilitasi akibat penyalahgunaan zat adiktif.
Menurut Bambang, penanganan rehabilitasi dilakukan berdasarkan tingkat ketergantungan pengguna. Untuk kategori ringan, penanganan dapat dilakukan melalui rawat jalan di BNN Provinsi Kalimantan Timur, BNNK Samarinda, rumah sakit, maupun puskesmas.
“Kalau sudah masuk ke tempat kami, artinya kategorinya sedang dan berat. Untuk kategori sedang biasanya masa rehabilitasi tiga bulan, sedangkan kategori berat bisa sampai enam bulan,” jelasnya.
Peran Keluarga dan Edukasi Jadi Kunci Pencegahan
Bambang juga mengungkapkan bahwa penyalahgunaan OOT umumnya melibatkan obat seperti tramadol, triheksifenidil, dextromethorphan, hingga ketamin. Obat-obatan tersebut dapat memengaruhi sistem saraf pusat dan memicu perubahan perilaku, gangguan mental, hingga ketergantungan bila digunakan tidak sesuai dosis medis.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya peran orang tua, guru, dan masyarakat dalam mengawasi perubahan perilaku remaja. Tanda-tanda seperti mudah emosi, menarik diri dari lingkungan, gangguan tidur, hingga perubahan pergaulan perlu diwaspadai sejak dini.
“Edukasi sejak dini sangat penting agar penyalahgunaan obat tertentu tidak merusak kesehatan mental, fungsi otak, hingga masa depan generasi muda,” tegasnya.
BNN berharap, peningkatan kesadaran masyarakat dapat menjadi langkah awal dalam mencegah meluasnya penyalahgunaan OOT yang berpotensi menjadi pintu masuk menuju narkotika yang lebih berbahaya. (Am)
w
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoDarlis Pattalongi Resmi Nahkodai KKW Kaltim, Bawa Semangat Persatuan Warga Wajo dan Harmoni Antar Etnis
-
KUKAR3 hari agoBelasan Alumni Santriwati di Kukar Laporkan Dugaan Kekerasan Seksual di Ponpes, Korban Mengaku Terjadi Bertahun-Tahun
-
SEPUTAR KALTIM4 hari agoPeringati Hari Lingkungan Hidup, Kaltim Dorong Perubahan Pola Pengelolaan Sampah
-
KUKAR5 hari agoYamaha Dorong Kreativitas Pelajar, Siswa SMKN 1 Tenggarong Antusias Ikuti Pelatihan Merangkai Bunga dan Dekorasi Kue
-
EKONOMI DAN PARIWISATA19 jam agoHarga Pertamax Resmi Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Pertamina Sebut Ikuti Harga Minyak Dunia
-
OLAHRAGA2 hari agoTetap Semangat di Musim Perdana, Arai Agaska Terus Kejar Performa Terbaik di World Sportbike
-
SAMARINDA1 hari agoPolresta Samarinda Kembalikan Motor dan HP Hasil Curian, Korban Terima Barang Bukti Gratis
-
SEPUTAR KALTIM9 jam agoKejati Kaltim Bongkar Dugaan Praktik Tambang Ilegal Bertahun-Tahun, Satu Tersangka Ditahan

