Connect with us

GAYA HIDUP

Waspada Candu Digital: Mengenal Dampak Negatif Media Sosial bagi Kesehatan Mental dan Fisik

Published

on

Kecanduan media sosial alias candu digital dapat memicu depresi, insomnia, hingga fenomena FOMO. Simak dampak negatif media sosial bagi kesehatan mental dan tips efektif untuk mengatasinya.

Media sosial telah menjadi elemen yang tak terpisahkan dari keseharian manusia modern. Di balik kemudahannya dalam memangkas jarak komunikasi dan akses informasi, penggunaan yang tidak terkendali justru menyimpan risiko serius bagi kesehatan mental maupun fisik penggunanya.

Sejumlah studi menyoroti bahwa durasi penggunaan media sosial yang berlebihan berkorelasi kuat dengan penurunan kualitas hidup. Berikut adalah rangkuman dampak negatif yang perlu kamu waspadai:

Ancaman terhadap Kesehatan Mental

Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa cemas berlebih karena takut tertinggal informasi atau tren terkini. Kondisi ini memicu ketergantungan yang membuat pengguna terus-menerus mengecek gawai mereka.

Selain FOMO, media sosial sering kali menciptakan standar kecantikan atau gaya hidup yang tidak realistis.

Hal ini memicu ketidakpuasan diri dan kecemburuan sosial saat seseorang mulai membandingkan hidupnya dengan unggahan orang lain yang tampak sempurna. Jika terabaikan, emosi negatif ini dapat berkembang menjadi gejala depresi dan gangguan kecemasan (anxiety).

Risiko Fisik dan Gangguan Relasi Sosial

Dampak media sosial tidak berhenti di level psikis. Secara fisik, paparan layar gawai yang berlebihan dapat mengganggu pola tidur, memicu insomnia, hingga meningkatkan risiko obesitas dan carpal tunnel syndrome akibat posisi tubuh yang statis dalam waktu lama.

Dalam interaksi sosial, muncul fenomena phubbing, yakni tindakan mengabaikan orang di sekitar demi fokus pada layar ponsel. Komunikasi melalui teks juga rentan memicu kesalahpahaman karena hilangnya ekspresi wajah dan nada suara, yang dalam skenario terburuk bisa berujung pada aksi cyberbullying.

Penyebaran Informasi dan Efek Psikologis Lainnya

Selain menjadi sarana utama penyebaran hoaks, media sosial juga mengenal istilah Streisand Effect. Fenomena ini terjadi ketika upaya untuk menyembunyikan atau menghapus informasi justru membuat informasi tersebut menyebar lebih luas dan memicu stres serta tekanan sosial yang lebih besar bagi pihak terkait.

Langkah Strategis Membatasi Paparan

Para pakar menyarankan pentingnya melakukan “detoks digital” secara berkala untuk menjaga kesehatan mental. Berikut beberapa langkah praktis yang bisa kamu terapkan:

  • Atur Batasan Waktu: Tetapkan jam khusus untuk membuka media sosial, misalnya maksimal 30 hingga 60 menit sehari.
  • Matikan Notifikasi: Menonaktifkan pemberitahuan aplikasi membantu mengurangi godaan untuk terus mengecek ponsel setiap saat.
  • Gunakan Fitur ‘Do Not Disturb’: Mode ini efektif menjaga fokus saat bekerja atau beristirahat.
  • Prioritaskan Interaksi Tatap Mata: Gunakan waktu luang untuk berinteraksi langsung dengan keluarga atau teman guna mendapatkan kedalaman hubungan sosial yang tidak bisa tergantikan oleh dunia maya.
  • Cari Aktivitas Alternatif: Alihkan perhatian dengan hobi produktif seperti olahraga, membaca buku, atau mempelajari kompetensi baru.

Media sosial adalah alat yang bermanfaat jika digunakan dengan bijak. Namun, jika penggunaan mulai mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari atau menyebabkan gangguan tidur dan kecemasan, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan profesional seperti psikolog atau psikiater. (ens)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.