OPINI
Merawat Taman Kaltim dari Hama Prasangka
Oleh: Syafruddin Pernyata, biasa disapa Espe, dikenal sebagai sosok multi-talenta yang berkiprah sebagai sastrawan terkemuka, wartawan senior (legenda jurnalis), birokrat, akademisi, dan tokoh pariwisata
Apa sesungguhnya budaya Kalimantan Timur? Jika pertanyaan itu diajukan kepada banyak orang, jawabannya mungkin seragam: tarian daerah, musik tradisional, pakaian adat, atau upacara budaya. Jawaban itu tidak salah, tetapi belum utuh. Sebab budaya bukan hanya apa yang dipertontonkan di panggung.
Budaya adalah cara hidup yang membentuk watak masyarakat.
Budaya hidup dalam cara berpikir, berbicara, bermusyawarah, menghormati sesama, memperlakukan alam, dan membangun masa depan.
Namun dalam praktiknya, budaya sering direduksi menjadi simbol seremonial: tari ditampilkan saat peresmian, busana adat dikenakan pada hari jadi daerah, lalu selesai di situ. Seolah-olah budaya sudah terlestarikan.
Padahal itu baru permukaan.
Membatasi budaya seperti itu ibarat merias wajah tanpa menyentuh kesehatan tubuh. Indah di luar, tetapi belum tentu hidup di dalam.
Salah satu nilai yang sejak lama hidup di Kalimantan Timur adalah keterbukaan.
Sejarah Kaltim adalah sejarah perjumpaan. Berabad-abad wilayah ini menjadi ruang singgah suku bangsa, di antaranya suku Arab, Tionghoa dan India.dan ruang hidup berbagai perantau dari Nusantara.
Gelombang besar berikutnya datang melalui transmigrasi pada 1970-an, disusul migrasi spontan hingga hari ini.
Kaltim tidak tumbuh sendirian. Ia tumbuh karena menerima yang lain.
Saya tumbuh dan berkembang di Samarinda, berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain. Di Jalan Kesuma Bangsa saya bertetangga dengan Bugis dan Toraja. Di Jalan Pulau Irian saya bermain dengan teman-teman Tionghoa. Di tepian Mahakam saya mencari kayu bakar bersama kawan dari Buton. Di Batang ODI dekat pelabuhan lama, saya kerap berada di lingkungan masyarakat Tionghoa dan Banjar. Di Kompleks Pemuda, saya hidup berdampingan dengan Jawa, Bugis, dan Toraja. Saat menjadi dosen, saya bersahabat dengan rekan dari Ende, Dayak, dan Bali. Saat menjadi wartawan, pergaulan saya meluas ke Batak, Minang, Banjar, dan lainnya.
Dari semua itu saya belajar satu hal: Indonesia besar bukan karena keseragaman, tetapi karena perjumpaan.
Namun akhir-akhir ini muncul gejala yang perlu diwaspadai: polarisasi berbasis kesukuan dalam politik lokal, terutama menjelang pemilihan kepala daerah.
Polarisasi adalah keadaan ketika masyarakat terbelah ke dalam kelompok yang saling berhadapan berdasarkan identitas. Dalam kondisi ini, seseorang tidak lagi dinilai dari kapasitas dan integritasnya, tetapi dari asal-usulnya.
Jika dibiarkan, perbedaan dapat berubah menjadi prasangka, lalu menjadi kecurigaan, dan akhirnya menjadi jarak sosial.
Kita punya pelajaran dari daerah lain. Konflik Sambas dan Sampit pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an menunjukkan bagaimana sentimen identitas yang tidak dikelola dengan bijak dapat berubah menjadi kekerasan sosial yang meninggalkan luka panjang.
Konflik Sambas dan Konflik Sampit menjadi pengingat bahwa luka sosial tidak pernah sembuh dengan cepat.
Kalimantan Timur patut bersyukur karena hingga kini relatif damai. Tetapi damai tidak terjadi dengan sendirinya. Ia harus dirawat.
Mitigasi konflik berarti membaca gejala sejak dini: ketika mulai muncul narasi “kami” dan “mereka”, ketika identitas dijadikan alat menilai seseorang, ketika ruang publik dipenuhi sentimen kelompok.
Di situlah kewaspadaan harus bekerja.
Kepemimpinan dan kedewasaan politik
Saya bukan pendukung “orang luar”. Saya juga bukan penganut paham yang selalu menomorsatukan “orang dalam”.
Kepala daerah tidak ditentukan oleh asal suku, tetapi oleh kapasitas memimpin.
Gubernur, bupati, dan wali kota harus memiliki kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Ia harus mampu membaca tanda-tanda zaman, memahami kebutuhan masyarakat, serta membedakan mana yang mendesak dan mana yang bisa ditunda.
Pemimpin tidak boleh pongah, tidak boleh merasa paling tahu. Dalam istilah lokal, jangan peiya-iyanya, jangan nentu, jangan pina musti.
Pemimpin sejati tidak diukur dari gelar, tetapi dari manfaat yang dirasakan rakyat.
Kalimantan Timur bukan milik satu kelompok, tetapi rumah bersama yang dibangun oleh banyak perjumpaan.
Kaltim adalah taman. Keindahannya tidak lahir dari satu jenis bunga, tetapi dari keberagaman yang tumbuh berdampingan. Ada yang datang lebih dahulu, ada yang tumbuh kemudian. Ada yang berakar di tanah ini, ada yang datang dari jauh lalu menjadi bagian darinya.
Karena itu, jangan biarkan prasangka menjadi hama yang merusak taman ini.
Tugas kita bukan memperdebatkan bunga mana yang paling berhak tumbuh, tetapi memastikan seluruh taman tetap subur, indah, dan meneduhkan siapa pun yang datang.
Sebab di situlah wajah sejati budaya Kalimantan Timur: keterbukaan yang hidup, bukan sekadar dipamerkan. (**/am)
Kaltim Faktual menerima kiriman artikel dari pembaca. Baik karya tulis feature, opini/catatan hingga artikel maupun informasi berita. Kirimkan karya Anda disertai identitas lengkap dalam format word, melampirkan file foto berformat landscape, melalui kontak kami (kontak@kaltimfaktual.co atau Whatsapp) dengan subject sesuai dengan karya tulis Anda. (ARTIKEL/OPINI/INFORMASI). Kami harap, karya Anda bisa memenuhi unsur tagline kami: Mengabarkan, Menginspirasi, Menyenangkan.
Catatan: Hak penerbitan menjadi keputusan redaksi. Tulisan yang terbit telah melalui penyuntingan redaksi tanpa mengurangi maksud pesan penulis. Semua materi tulisan merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi Kaltim Faktual tidak mewakili isi tulisan opini penulis.
-
EKONOMI DAN PARIWISATA2 hari agoEkspor Perikanan Kaltim Melesat, 56 Ton Produk Laut Segar Terbang ke China Setiap Bulan
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoPemprov Kaltim Buka Seleksi Komisaris dan Direksi BUMD 2026, Simak Syarat dan Jadwalnya
-
SAMARINDA5 hari agoIzin Andalalin Kafe NORDU Disorot, Dishub Samarinda Tunggu Arahan Wali Kota Usai Rapat Internal
-
PARIWARA2 hari agoYamaha Kaltim Luncurkan Warna Baru GEAR ULTIMA Hybrid di Karnaval Gear Ultima 2026, Usung Desain Dual Tone Lebih Modern
-
EKONOMI DAN PARIWISATA4 hari agoYamaha Luncurkan MX King 150 Prima Pramac Livery di Jakarta Fair 2026, Hadirkan Sensasi MotoGP untuk Pecinta Balap
-
SAMARINDA3 hari agoAnggota DPRD Kaltim Darlis Pattalongi Dorong Partisipasi Masyarakat di Era Demokrasi Digital
-
EKONOMI DAN PARIWISATA20 jam agoKaltim Siapkan 15 Ribu Hektare Sawah Baru untuk Dukung Swasembada Beras
-
PARIWARA1 hari agoAuto Lebih Percaya Diri! Kolaborasi Yamaha x Kahf Sulap Grand Filano Hybrid Jadi Ala Classy Modern Explorer

