Connect with us

SAMARINDA

RS PrimeCare Samarinda Resmi Beroperasi, Andalkan Teknologi Minimal Invasif hingga Laboratorium Genomik

Published

on

Wali Kota Samarinda Andi Harun didamping Direktur Utama PrimeCare, John Kwari, dan Direktur RS PrimeCare Samarinda, dr. Boy E.R. Wajong saat meresmikan RS PrimeCare Samarinda di Jalan Muso Salim.

Pilihan layanan kesehatan di Kota Samarinda kini bertambah dengan hadirnya RS PrimeCare Samarinda. Rumah sakit yang beralamat di Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kec. Samarinda Kota ini berdiri di atas lahan sekitar 8.000 meter persegi. Mulai hari ini resmi melakukan grand opening setelah mengantongi izin operasional pada 13 Februari 2026.

Tak sekadar menambah kapasitas layanan kesehatan, PrimeCare membawa konsep rumah sakit berbasis teknologi dengan perhatian khusus pada pengalaman pasien. Sejumlah teknologi medis modern disiapkan, termasuk layanan tindakan minimal invasif dan laboratorium genomik yang ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu dekat.

Direktur RS PrimeCare Samarinda, dr. Boy E.R. Wajong, mengatakan proses pembangunan dan persiapan rumah sakit dilakukan setelah izin operasional diterbitkan. Setelah melewati tahap soft opening, PrimeCare kini resmi membuka layanan secara penuh.

“Rumah Sakit PrimeCare Samarinda mendapat izin operasional pada tanggal 13 Februari 2026 dari Dinas Kesehatan dan Wali Kota Samarinda. Sejak itu kita mulai menyiapkan soft opening dan hari ini kita grand opening,” kata Boy saat konferensi pers Grand Opening RS PrimeCare Samarinda.

Punya 96 Tempat Tidur, 50 Dokter hingga Teknologi Operasi Modern

RS PrimeCare Samarinda berada di Jl. Muso Salim No.28, Karang Mumus, Kec. Samarinda Kota.

Secara fisik, RS PrimeCare berdiri di atas lahan sekitar 0,8 hektare dengan luas bangunan mencapai 11.000 meter persegi. Bangunannya terdiri dari dua lantai di bagian depan dan empat lantai di bagian belakang.Rumah sakit ini memiliki 16 ruang poliklinik dengan kapasitas 96 tempat tidur rawat inap.

Rinciannya terdiri dari 23 tempat tidur standar, 22 deluxe, 25 VIP, satu suite room, dan satu president suite.Dari sisi sumber daya manusia, PrimeCare saat ini mempekerjakan sekitar 130 orang. Menariknya, sekitar 95 persen tenaga kerja tersebut direkrut dari Samarinda dan daerah sekitarnya.

Untuk tenaga medis, terdapat sekitar 50 dokter yang terdiri dari dokter spesialis dan dokter umum. Sebanyak 11 di antaranya merupakan dokter tetap PrimeCare.

Dari sisi layanan, rumah sakit ini mencoba mengambil posisi pada teknologi medis yang memungkinkan tindakan dengan luka dan risiko invasif lebih rendah.

Sejumlah peralatan yang disiapkan antara lain laser holmium untuk penanganan batu ginjal dan pembesaran prostat, C-Arm, serta CT Scan 126 slice.

“Dari sisi kemampuan medis rumah sakit ini memiliki beberapa keunggulan yang kita akan dorong ke depan yaitu seperti keunggulan dalam bidang-bidang minimal invasif. Operasi-operasi dengan teknologi yang cukup tinggi,” jelas Boy.

Salah satu fasilitas di RS PrimeCare Samarinda lebih canggih dan modern.

Selain teknologi tersebut, PrimeCare tengah menyiapkan laboratorium genomik yang ditargetkan mulai beroperasi dalam satu hingga dua bulan ke depan.

Laboratorium ini menggunakan teknologi sequencer untuk membaca DNA. Pengembangannya dilakukan melalui kerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman.

Menurut Boy, teknologi genomik nantinya dapat membantu mendeteksi sejumlah penyakit yang berkaitan dengan faktor genetik, termasuk penyakit turunan dan potensi kanker.

“Beberapa cancer juga itu bisa dideteksi dengan alat ini dan juga mungkin potensi-potensi penyakit seperti diabetes, jantung melalui hal ini,” ungkapnya.

Bidik Pasien yang Selama Ini Berobat ke Luar Daerah

Direktur Utama PrimeCare, John Kwari, dan Direktur RS PrimeCare Samarinda, dr. Boy E.R. Wajong saat konfrensi pers kepada wartawan.

Tak berhenti pada teknologi medis, RS PrimeCare juga mengembangkan konsep smart hospital. Sistem informasi kesehatan akan diintegrasikan mulai dari proses pendaftaran, hasil laboratorium, radiologi hingga rekam medis elektronik.

Dengan sistem tersebut, informasi medis pasien dapat terhubung sehingga diharapkan membantu dokter mempercepat proses diagnosis dan pengambilan keputusan.

“Karena rumah sakit ini mendukung smart hospital, maka aplikasi-aplikasi sejak pendaftaran, integrasi dari hasil-hasil radiologi dan hasil-hasil dari laboratorium itu melalui satu medical record,” ujar Boy.

Menurutnya, pengelolaan rumah sakit ke depan akan bertumpu pada empat hal, yakni kepatuhan terhadap regulasi, peningkatan mutu layanan, pengalaman pasien, serta manajemen risiko.

“Yang penting juga kita akan menjaga pengalaman pasien. Keeping the best patient experience in this hospital,” lanjutnya.

Boy melihat peluang pengembangan layanan kesehatan di Samarinda masih cukup besar. Salah satu alasannya, menurut dia, berkaitan dengan rasio ketersediaan tempat tidur rumah sakit yang masih berada di bawah standar nasional.

“Rasio ketersediaan tempat tidur di Samarinda itu baru 1,7 per 1.000 penduduk. Padahal standar nasional itu 3 per 1.000 penduduk,” tegasnya.

Dengan teknologi dan layanan yang lebih lengkap, PrimeCare juga berharap bisa menjadi pilihan bagi pasien dari berbagai daerah di Kaltim yang membutuhkan layanan tertentu.

Direktur Utama PrimeCare, John Kwari, mengatakan rumah sakit tersebut berawal dari PrimeCare Clinic yang telah beroperasi sejak 2021.Dari pengalaman mengelola klinik tersebut, pihaknya mendapat banyak masukan dari masyarakat, dokter, keluarga, hingga pasien untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih komprehensif.

“Kita mulai dari PrimeCare Clinic. Dari pengalaman itu kita sudah dengar banyak masukan dari sahabat, dari dokter, dari keluarga, dari teman. Masukan itu, kalau bisa kenapa enggak rumah sakit saja,” kata John.

Menurutnya, teknologi hanyalah salah satu bagian dari layanan kesehatan. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana pasien mendapatkan pelayanan yang berpusat pada kebutuhan mereka.

“Yang paling penting bukan alatnya, tetapi patient centered care dan holistic care itu jalan di sini,” sambungnya.

Konsep tersebut sekaligus menjadi target PrimeCare untuk menarik kembali masyarakat yang selama ini memilih berobat ke luar daerah bahkan luar negeri.

John menyebut sebagian masyarakat Kaltim masih memilih mendapatkan layanan kesehatan di Jakarta, Surabaya, Malaysia hingga Singapura karena adanya layanan tertentu yang belum tersedia di daerah.

Karena itu, PrimeCare ingin menghadirkan kombinasi teknologi, tenaga medis, serta kualitas pelayanan di Samarinda.

“Kita harap pasien ini yang biasanya pergi ke Malaysia atau Singapura dan tempat lain, kalau sudah merasa nyaman sama kita, ada kepercayaan sama kita tentang service quality-nya kita, dokter, caranya konsultasi, sabarnya, empathy-nya kita untuk pasien, dia rasanya enggak usah pergi ke negara lain,” harapnya. (Am)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

POPULER