SAMARINDA
Mal Lembuswana, Kenangan yang Tersisa dari Samarinda Era 1990-an

Oleh Endro S. Efendi
Ada tempat yang bagi sebagian orang mungkin hanya sebuah bangunan, tetapi bagi sebagian lainnya tempat itu bisa menyimpan begitu banyak cerita.
Bagi saya, salah satunya adalah Mal Lembuswana Samarinda.
Setiap kali mendengar nama Lembuswana, ingatan saya langsung kembali ke tahun 1997, ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Samarinda.
Saat itu saya masih tercatat sebagai siswa SMA Negeri 2 Berau. Saya datang ke Samarinda bukan untuk berwisata, melainkan mewakili Kabupaten Berau dalam lomba pidato P4, atau Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.
Pada masa itu, kegiatan P4 sangat dikenal dan pembinaannya berkaitan dengan BP7, Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.
Bagi saya, perjalanan tersebut memiliki banyak pengalaman pertama.
Salah satunya adalah pertama kali naik pesawat.
Pesawat yang saya naiki ketika itu adalah pesawat perintis Bali Air, jenis Britten-Norman, pesawat kecil yang pada masa itu menjadi bagian dari transportasi udara antardaerah. Pesawat tersebut membawa saya dari Berau dan mendarat di Bandara Temindung Samarinda.
Sekarang, kalau melihat kawasan Temindung, mungkin sulit membayangkan bahwa tempat itu dahulu menjadi pintu masuk utama melalui udara ke Samarinda.
Bandara Temindung sudah tidak lagi digunakan sebagai bandara komersial setelah aktivitas penerbangan dipindahkan ke Bandara APT Pranoto di Sungai Siring. Landasan Temindung yang dahulu menjadi tempat pesawat datang dan pergi kini justru menjadi ruang bagi masyarakat untuk beraktivitas dan berolahraga pada sore hari.
Begitulah waktu mengubah sebuah kota.
Apa yang dahulu menjadi landasan pesawat kini menjadi tempat orang berlari dan berolahraga.
Dan perubahan seperti itu ternyata juga terjadi pada tempat yang menjadi salah satu kenangan pertama saya tentang Samarinda: Mal Lembuswana.
Dari Mata Anak SMA Berau
Setelah tiba di Samarinda untuk mengikuti lomba, saya berkesempatan masuk ke Lembuswana.
Bagi saya yang berasal dari Berau, pengalaman itu sungguh luar biasa.
Maklum, ketika itu di Berau belum ada pusat perbelanjaan modern seperti yang sekarang mudah kita temui. Kalau ingin berbelanja, ya pergi ke pasar.
Karena itu, ketika pertama kali masuk ke Lembuswana, kesan saya sederhana: megah dan mewah.
Saya bahkan belum pernah ke Balikpapan sehingga belum memiliki pembanding seperti apa pusat perbelanjaan modern di kota lain.
Dalam pikiran saya saat itu, Lembuswana menjadi semacam bukti bahwa di Kalimantan juga ada mal yang besar dan modern.
Saya masih ingat perasaan sebagai seorang anak SMA dari daerah ketika melihat suasana Lembuswana.
Ada kekaguman.
Ada rasa bahwa Samarinda adalah kota besar.
Mungkin bagi orang yang sudah tinggal di Samarinda, Lembuswana ketika itu adalah sesuatu yang biasa saja. Tetapi bagi saya yang datang dari Berau, tempat itu memberikan pengalaman yang berbeda.
Tanpa saya sadari, kunjungan pertama itu kemudian menjadi bagian kecil dari perjalanan hidup saya.
Ada juga sisi lucu dari perjalanan tersebut.
Saat itu jumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Timur belum sebanyak sekarang, karena wilayah Kalimantan Utara yang sekarang sudah menjadi provinsi sendiri masih merupakan bagian dari Kalimantan Timur.
Saya datang sebagai wakil Kabupaten Berau dalam lomba.
Jadi, dalam guyonan saya sekarang, seburuk apa pun hasil lombanya, peluang mendapatkan juara harapan tiga rasanya masih terbuka. He-he-he.
Setidaknya jumlah peserta dan daerah yang ikut belum sebanyak sekarang.
Tetapi tentu saja, yang paling saya ingat bukan hasil lombanya.
Yang justru melekat adalah pengalaman pertama naik pesawat, pertama kali menginjakkan kaki di Samarinda, dan pertama kali melihat sebuah pusat perbelanjaan modern.
Kini, hampir tiga dekade telah berlalu.
Tahun 1997 terasa seperti baru kemarin, tetapi ternyata sudah lebih dari 29 tahun.
Saya sudah bukan lagi siswa SMA Negeri 2 Berau.
Samarinda telah tumbuh menjadi kota yang jauh berbeda.
Bandara Temindung sudah tinggal sejarah, dan penerbangan kini dilayani Bandara APT Pranoto. Jalan-jalan berubah, gedung-gedung baru bermunculan, pusat-pusat perbelanjaan bertambah, dan tentu saja perilaku masyarakat dalam berbelanja juga berubah.
Lalu bagaimana dengan Lembuswana?
Ketika melihat kondisinya sekarang, ada perasaan yang sulit dijelaskan.
Tempat yang dalam ingatan saya dahulu begitu megah dan ramai kini terlihat jauh lebih lengang.
Sejumlah gerai tutup, aktivitas pengunjung tidak lagi seperti masa kejayaannya, dan suasana yang dulu begitu hidup kini terasa berbeda.
Tentu tidak adil jika kita membandingkan Lembuswana tahun 1997 dengan Lembuswana tahun 2026.
Dunia sudah berubah begitu cepat.
Orang sekarang bisa berbelanja dari rumah hanya dengan menggunakan telepon genggam. Marketplace berkembang pesat, pilihan tempat hiburan semakin banyak, dan masyarakat memiliki begitu banyak alternatif untuk menghabiskan waktu.
Karena itu, persoalan Lembuswana sebenarnya bukan sekadar bagaimana membuat sebuah mal kembali ramai.
Tantangannya jauh lebih besar:
Bagaimana membuat masyarakat memiliki alasan untuk kembali datang?
Jangan Sekadar Menghidupkan Mal, tetapi Menghidupkan Cerita
Kabar baiknya, Lembuswana sekarang memasuki babak baru.
Setelah sekitar tiga dekade dikelola melalui kerja sama dengan pihak swasta, masa kerja sama tersebut berakhir pada 26 Juli 2026.
Kemudian pada 7 Agustus 2026, kompleks Mal Lembuswana beserta fasilitas penunjangnya resmi diserahterimakan kembali kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Pengelolaannya kemudian dipercayakan kepada PT Kaltim Melati Bhakti Satya Perseroda.
Menurut saya, kembalinya Lembuswana kepada Pemprov Kaltim harus dilihat sebagai kesempatan kedua.
Bukan hanya kesempatan untuk mengelola aset daerah, tetapi juga kesempatan untuk menghidupkan kembali salah satu bagian dari sejarah perkembangan Samarinda.
Nilai kawasan ini tentu tidak kecil.
Tetapi nilai sebuah tempat seperti Lembuswana tidak hanya bisa dihitung dari tanah, bangunan dan potensi pendapatannya.
Ada nilai sejarah dan nilai emosional yang tidak tercantum dalam laporan keuangan.
Bagi generasi saya, Lembuswana adalah bagian dari memori masa lalu.
Bagi generasi setelahnya, mungkin tidak demikian.
Karena itu, Lembuswana tidak perlu dipaksa kembali seperti tahun 1997.
Justru harus dibuat sesuai dengan kebutuhan zaman sekarang.
Wacana menjadikan Lembuswana sebagai lifestyle hub, dengan ruang kuliner, hiburan, komunitas, aktivitas keluarga, olahraga dan berbagai kegiatan masyarakat, menurut saya merupakan arah yang menarik.
Mal masa kini memang tidak cukup hanya mengandalkan toko.
Orang datang ke mal bukan hanya untuk membeli barang, tetapi untuk mencari pengalaman.
Dan di sinilah sejarah Lembuswana sebenarnya bisa menjadi kekuatan.
Jangan sampai revitalisasi hanya membuat bangunannya terlihat baru, tetapi menghilangkan cerita yang ada di dalamnya.
Kalau memungkinkan, saya membayangkan ada satu ruang kecil yang menceritakan perjalanan Lembuswana dan perkembangan Samarinda.
Foto-foto lama, suasana Lembuswana pada masa lalu, cerita masyarakat, hingga perubahan kota dari masa ke masa.
Tidak perlu besar.
Tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa bangunan ini pernah menjadi bagian penting dari perjalanan banyak orang.
Saya sendiri mungkin adalah salah satu dari sekian banyak orang yang mempunyai cerita seperti itu.
Hampir 30 tahun lalu, seorang siswa SMA dari Berau naik pesawat perintis Bali Air untuk pertama kalinya, mendarat di Bandara Temindung, datang ke Samarinda untuk mengikuti lomba pidato P4, lalu untuk pertama kalinya melihat sebuah pusat perbelanjaan modern bernama Mal Lembuswana.
Saat itu saya melihatnya dengan mata seorang anak muda: megah, mewah dan luar biasa.
Hari ini saya melihatnya dengan mata yang berbeda.
Bukan lagi sekadar melihat bangunan dan pusat perbelanjaan, tetapi melihat perjalanan waktu.
Bandara Temindung sudah berubah fungsi, Samarinda sudah berkembang, saya pun sudah jauh berbeda dibandingkan diri saya pada 1997, dan Lembuswana sedang mencari bentuk barunya.
Saya tidak berharap Lembuswana kembali seperti tahun 1997.
Waktu tidak mungkin diputar kembali.
Yang saya harapkan justru Lembuswana mampu menjadi sesuatu yang baru, tetapi tidak kehilangan jiwanya.
Menjadi tempat yang modern, ramai, produktif dan mampu memberikan kontribusi bagi daerah, sekaligus tetap menjadi bagian dari memori masyarakat Samarinda.
Sebab sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung baru.
Kota juga dibangun oleh tempat-tempat yang menyimpan kenangan.
Dan Lembuswana adalah salah satunya.
Mungkin suatu hari nanti akan ada anak muda dari Berau, Kutai Barat, Kutai Timur, Bontang atau daerah lain di Kalimantan Timur yang datang ke Samarinda untuk pertama kalinya.
Ia mungkin datang untuk sekolah, mengikuti lomba, bekerja, atau sekadar berkunjung.
Lalu ia masuk ke Lembuswana yang sudah berubah menjadi pusat aktivitas masyarakat yang modern dan hidup.
Ia mungkin merasa kagum seperti saya dulu pada 1997.
Dan tiga puluh tahun kemudian, siapa tahu, ia juga akan bercerita tentang tempat yang sama.
Itulah harapan saya untuk Lembuswana.
Bukan sekadar kembali ramai, tetapi kembali memiliki cerita.
Karena mal yang baik bukan hanya tempat orang berbelanja.
Ia adalah tempat orang bertemu, berkegiatan, dan menciptakan kenangan.
Dan mungkin, itulah cara terbaik Lembuswana menulis babak berikutnya: bukan mengulang masa lalu, tetapi memberikan kesempatan kepada generasi baru untuk menciptakan masa lalu mereka sendiri. (*)
Endro S. Efendi
Penulis, Trainer Teknologi Pikiran
Praktisi hipnoterapi klinis berbasis teknologi pikiran. Membantu klien pada aspek mental, emosi, dan pikiran. Aktif sebagai penulis, konten kreator, pembicara publik hingga tour leader Umroh Bareng Yuk.
Kaltim Faktual menerima kiriman artikel dari pembaca. Baik karya tulis feature, opini/catatan hingga artikel maupun informasi berita. Kirimkan karya Anda disertai identitas lengkap dalam format word, melampirkan file foto berformat landscape, melalui kontak kami (kontak@kaltimfaktual.co atau Whatsapp) dengan subject sesuai dengan karya tulis Anda. (ARTIKEL/OPINI/INFORMASI). Kami harap, karya Anda bisa memenuhi unsur tagline kami: Mengabarkan, Menginspirasi, Menyenangkan.
Catatan: Hak penerbitan menjadi keputusan redaksi. Tulisan yang terbit telah melalui penyuntingan redaksi tanpa mengurangi maksud pesan penulis. Semua materi tulisan merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi Kaltim Faktual tidak mewakili isi tulisan opini penulis.

EKONOMI DAN PARIWISATA3 hari agoCIMB Niaga Luncurkan OCTO Arena di Jakarta, Satukan Padel, Wellness dan Komunitas
SAMARINDA5 hari agoParkir Berlangganan Samarinda 2026 Mulai Diuji Coba, Pemkot Siapkan Satgas Berantas Jukir Liar
NUSANTARA2 hari agoPuncak MAXI Tour Boemi Nusantara, Rayakan Kemerdekaan di Tana Para Raja
OPINI2 hari agoKaltim Kehilangan Kursi Ketua Komisi
BALIKPAPAN4 hari agoBPJS Ketenagakerjaan Dorong Penerima Manfaat Kembali Berdaya Lewat Program PEKA
GAYA HIDUP5 hari agoBertanding dengan Ratusan Karya, Ini 5 Grand Filano Hybrid Peraih Gelar ‘Best of The Best’ Classy Modifest
SAMARINDA3 hari agoAsap Karhutla Lintas Daerah di Kaltim, Wali Kota Samarinda Dorong Pemprov Bentuk Gerakan Bersama


