Connect with us

SAMARINDA

Muka Air Turun 20 Sentimeter, Bendungan Lempake Diperkirakan Hanya Bertahan 2 Minggu

Published

on

Musim kemarau mulai menekan cadangan air di Bendungan Benanga Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. Dalam sepekan terakhir, tinggi muka air di bendungan yang menjadi salah satu tumpuan kebutuhan air baku dan irigasi pertanian itu turun sekitar 20 sentimeter.

Dari sebelumnya berada di level 7,30 meter, tinggi muka air kini tinggal 7,10 meter. Kondisi ini membuat pengelola harus semakin cermat mengatur pemanfaatan air yang tersisa, terlebih hujan belum menjadi pemasok debit yang dapat diandalkan.

Kasat Operasi Unit Pengelola Bendungan (UPB) Lempake Wilayah II Balai Wilayah Sungai (BWS) Samarinda, Erwin Surya Budiman, mengatakan posisi muka air saat ini sudah masuk kategori di bawah normal.

“Untuk hari ini, tinggi muka air saat ini berada di 7,10 meter atau statusnya di bawah normal,” kata Erwin, Kamis (27/8/2026).

Penurunan muka air menjadi perhatian karena level 7,20 meter mdpl merupakan salah satu batas acuan dalam pengelolaan tampungan Bendungan Lempake. Dengan kondisi yang kini berada di 7,10 meter mdpl, pengambilan dan distribusi air harus disesuaikan dengan cadangan yang tersedia.

Tanpa Hujan, Cadangan Air Diprediksi Bertahan 10-14 Hari

Pengelola Bendungan Lempake telah melakukan simulasi untuk melihat seberapa lama tampungan mampu menopang kebutuhan air apabila hujan tidak turun dalam waktu dekat.

Hasil perhitungan menunjukkan bendungan masih mampu memberikan pelayanan air baku dan irigasi selama sekitar 10 hingga 14 hari dalam kondisi tanpa hujan.

“Kalau tanpa hujan, berdasarkan simulasi kami masih dapat memberikan pelayanan air baku dan air irigasi sekitar 10 sampai 14 hari,” jelas Erwin.

Perkiraan tersebut membuat hujan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan. Jika kemarau terus berlangsung, volume tampungan akan terus menyusut dan pengaturan distribusi air berpotensi diperketat.

Untuk menjaga cadangan yang ada, pengoperasian pompa air baku dan penyaluran air irigasi disesuaikan dengan kondisi tampungan. Sejumlah lahan pertanian di kawasan Lempake telah mendapatkan pasokan air, sementara penyaluran berikutnya akan diatur berdasarkan kebutuhan masing-masing lahan.

Tekanan kemarau juga mulai dirasakan sektor pertanian. Sekitar 45 hektare lahan di kawasan Lempake dilaporkan mengalami kekeringan.

Meski begitu, aktivitas petani belum sepenuhnya terhenti. Sebagian petani masih melakukan kegiatan di lahan, termasuk persiapan lahan dan pemupukan.

Hujan September Jadi Harapan

Menyusutnya muka air membuat pengelolaan Bendungan Lempake harus dilakukan lebih terukur. Bendungan tersebut harus menopang dua kebutuhan sekaligus, yakni pasokan air baku dan pengairan pertanian.

Pengelola terus memantau perubahan tinggi muka air serta perkembangan kondisi cuaca. Hujan menjadi harapan utama untuk mengembalikan cadangan air yang terus berkurang.

Berdasarkan pemantauan cuaca, peluang hujan mulai terlihat pada September. Namun, kapan hujan turun dan seberapa besar intensitasnya belum dapat dipastikan.

Jika hujan yang datang tidak cukup menambah debit secara signifikan, kondisi tampungan tetap berpotensi mengalami penurunan.

Karena itu, pengelola terus melakukan pemantauan sembari menyesuaikan pola distribusi air dengan kondisi terkini.

“Mudah-mudahan ada hujan,” pungkas Erwin. (Gi/am)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

POPULER