Connect with us

SEPUTAR KALTIM

Cadangan Air Menipis, Kaltim Siapkan Strategi Hadapi Ancaman Krisis Air

Published

on

Waduk Manggar yang memperlihatkan penyusutan permukaan air pada 19 Agustus 2026, karya ANTARA FOTO/Angga Palguna.

Kemarau panjang yang masih berlangsung di Kalimantan Timur mulai memberi tekanan terhadap ketersediaan air bersih. Samarinda dan Balikpapan menjadi dua daerah yang mulai merasakan dampaknya.

Di Balikpapan, menyusutnya cadangan air Waduk Manggar membuat kapasitas produksi air bersih harus dikurangi. Sementara di Samarinda, penurunan debit sumber air mulai memengaruhi pelayanan distribusi.

Kondisi tersebut menjadi pembahasan dalam Dialog Publika TVRI Kaltim, Rabu (23/9/2026), dengan tema “Cadangan Air Menipis, Siapkah Kaltim Menghadapi Krisis Air?”Pemerintah bersama pengelola layanan air kini mulai menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kondisi yang dapat berlangsung hingga akhir 2026.

Direktur Utama Perumda Tirta Manuntung Balikpapan, Saharuddin, mengatakan kapasitas produksi normal sekitar 1.150 liter per detik sebenarnya masih belum mencukupi seluruh kebutuhan masyarakat Balikpapan.

Kemarau panjang membuat pemanfaatan air dari Waduk Manggar saat ini harus dikurangi.

“Saat ini kami hanya memanfaatkan air Waduk Manggar sekitar 900 liter per detik. Kondisi ini tentu berdampak terhadap hampir 28 ribu pelanggan,” ujar Saharuddin.

Waduk Manggar Menyusut, Distribusi Air Mulai Diatur

Penyusutan cadangan Waduk Manggar membuat kapasitas produksi air bersih Balikpapan harus dikurangi. (Pemprov Kaltim)

Untuk menjaga pelayanan, Perumda Tirta Manuntung Balikpapan menerapkan pola pergiliran distribusi kepada pelanggan.

Selain itu, koordinasi dilakukan bersama pemerintah daerah dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV untuk mencari sumber air alternatif. Di antaranya pemanfaatan sumur dan instalasi pengolahan air (IPA) mobile.

Distribusi air menggunakan mobil tangki juga disiapkan melalui tiga posko untuk menjangkau masyarakat yang terdampak.

Dari sisi sumber air baku, BWS Kalimantan IV telah membangun dua sumur dalam di Balikpapan sebagai sumber tambahan. Salah satunya disebut mampu menghasilkan sekitar 10 liter air per detik.

Kasi Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air BWS Kalimantan IV Samarinda, Gus Agung Guntoro, mengatakan pengaturan operasi sumber air perlu dilakukan agar cadangan yang tersedia bisa bertahan lebih lama.

Apabila hujan belum turun dan kondisi kemarau terus berlangsung, pengambilan air dari Waduk Manggar akan disesuaikan secara bertahap dengan kapasitas tampungan.

Strategi tersebut dilakukan untuk menjaga agar pelayanan air bersih tetap berjalan hingga akhir tahun, meski kapasitasnya berpotensi terus menurun.

Samarinda Mulai Bergerak Menuju Kondisi Waspada

Sementara itu, kondisi di Samarinda disebut belum memasuki tahap kelangkaan. Namun, Perumda Tirta Kencana Kota Samarinda mulai melihat adanya pergerakan menuju kondisi waspada.

Direktur Utama Perumda Tirta Kencana Kota Samarinda, Nor Wahid Hasyim, mengatakan pihaknya telah menyiapkan empat tahapan penanganan, yakni normal, waspada, siaga hingga awas.

“Pada prinsipnya saat ini belum terjadi kelangkaan. Kondisinya masih normal, tetapi hari ini sudah menuju titik waspada,” jelasnya.

Untuk wilayah yang mengalami gangguan pelayanan, Perumda menyiapkan pola distribusi melalui terminal tangki. Sumber air mandiri seperti sumur bor juga didorong sebagai salah satu alternatif.

Di sisi lain, Pengamat Lingkungan Universitas Mulawarman, Eko Haryadi, menilai kondisi kemarau saat ini perlu menjadi pembelajaran dalam pengelolaan lingkungan dan sumber daya air di Kaltim.

Menurutnya, tekanan terhadap ketersediaan air tidak hanya berkaitan dengan fenomena El Niño dan kemarau, tetapi juga perubahan lingkungan serta pengelolaan daerah aliran sungai.

“Secara akademis, kondisi ini menjadi pelajaran bagaimana kita menangani persoalan ke depan, sehingga ketika terjadi kasus serupa, kita jauh lebih siap,” ujarnya.

Karena itu, menghadapi ancaman krisis air tidak cukup hanya dilakukan ketika cadangan sudah berada di titik kritis.

Penguatan pengelolaan daerah aliran sungai, pemanfaatan sumber air alternatif, penghematan penggunaan air hingga koordinasi antarlembaga dinilai menjadi bagian penting untuk menjaga ketahanan air Kaltim dalam jangka panjang.

Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak selama periode kemarau. Kolaborasi antara pemerintah, pengelola layanan air dan masyarakat menjadi salah satu langkah penting agar keterbatasan sumber air tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas. (Am)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

POPULER