VIRAL
Salam Tiga Jari Viral di Indonesia, Berawal dari Film The Hunger Games hingga Jadi Simbol Perlawanan
Salam tiga jari mendadak ramai terlihat di berbagai panggung konser musik Indonesia. Sejumlah penyanyi dan musisi ternama mengangkat tiga jari di hadapan penonton, bahkan mengajak penggemar melakukan gestur serupa. Namun, simbol yang kini menjadi perhatian publik itu ternyata memiliki perjalanan panjang, dari sebuah film fiksi hingga menjadi tanda solidaritas dan perlawanan di dunia nyata.
Fenomena ini kembali mencuat setelah aksi mahasiswa dan masyarakat sipil di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada Rabu, 28 Oktober 2026. Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, massa yang dimotori BEM Universitas Indonesia (UI) bersama Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) mengangkat salam tiga jari sebagai salah satu simbol penyampaian aspirasi.
Gestur tersebut kemudian menyebar melalui media sosial. Tidak hanya mahasiswa dan masyarakat yang turun ke jalan, sejumlah figur publik juga memperlihatkan salam tiga jari ketika tampil di panggung hiburan.
Lantas, dari mana sebenarnya salam tiga jari berasal? Apa maknanya, dan mengapa simbol ini kembali digunakan para artis di Indonesia?
Berawal dari The Hunger Games, Simbol Penghormatan yang Berubah Menjadi Perlawanan

Salam tiga jari dikenal dengan istilah three-finger salute. Gestur ini dilakukan dengan mengangkat jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis, sementara ibu jari menahan jari kelingking.
Simbol tersebut dikenal luas melalui novel dan film The Hunger Games karya Suzanne Collins.
Dalam cerita fiksi tersebut, salam tiga jari berasal dari masyarakat Distrik 12. Gestur itu diperlihatkan ketika Katniss Everdeen mengajukan diri menggantikan adiknya, Primrose, dalam sebuah kompetisi mematikan bernama Hunger Games.
Warga Distrik 12 kemudian memberikan penghormatan dengan menempelkan tiga jari ke bibir, lalu mengangkatnya ke udara.
Awalnya, gestur tersebut merupakan bentuk penghormatan, simpati, rasa terima kasih, dan solidaritas. Namun, seiring berkembangnya cerita, khususnya dalam seri Catching Fire, salam tiga jari berubah menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan Capitol yang otoriter.
Dari situlah simbol tersebut dikenal luas sebagai lambang persatuan masyarakat yang menolak ketidakadilan dan penindasan.
Menariknya, bentuk gestur tiga jari juga memiliki kemiripan dengan salam dalam gerakan kepanduan atau Pramuka yang sudah digunakan sejak awal abad ke-20. Namun, Suzanne Collins tidak secara khusus menyebut salam kepanduan sebagai inspirasi penciptaan simbol dalam novelnya.
Pernah Digunakan di Thailand, Hong Kong hingga Myanmar
Salam tiga jari kemudian keluar dari dunia fiksi dan digunakan dalam berbagai gerakan sosial di sejumlah negara.
Salah satu penggunaan yang paling dikenal terjadi di Thailand pada 2014. Setelah kudeta militer pada Mei tahun tersebut, masyarakat yang menentang pemerintahan junta mulai mengacungkan tiga jari sebagai simbol perlawanan.
Gestur itu menjadi cara menyampaikan ketidaksetujuan tanpa harus mengucapkan kalimat protes secara langsung.
Sebagian demonstran menghubungkan tiga jari dengan nilai kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Ada pula yang memaknainya sebagai kebebasan, pemilihan umum, dan demokrasi.
Simbol serupa kemudian digunakan dalam gerakan pro-demokrasi di Hong Kong, termasuk saat demonstrasi pada 2019 hingga 2020.
Pada 2021, setelah kudeta militer di Myanmar, salam tiga jari kembali terlihat dalam aksi masyarakat yang menolak pengambilalihan kekuasaan oleh militer.
Meski menggunakan gestur yang sama, maknanya tidak selalu identik. Setiap negara memberikan penafsiran sesuai situasi politik, sosial, dan tuntutan masyarakatnya.
Apa Arti Salam Tiga Jari di Indonesia Sekarang?
Di Indonesia, penggunaan salam tiga jari memiliki konteks tersendiri.
Pada 2014, simbol ini pernah digunakan sejumlah musisi dan kelompok masyarakat sipil dalam kampanye persatuan setelah pemilihan presiden yang memunculkan perbedaan politik di tengah masyarakat.
Sejumlah musisi yang tergabung dalam kelompok d’Rumah Harmoni bahkan merilis album berjudul Salam 3 Jari.
Saat itu, penyanyi Oppie Andaresta menjelaskan bahwa salam tiga jari tersebut merujuk pada sila ketiga Pancasila, yakni Persatuan Indonesia. Tujuannya mengajak masyarakat meninggalkan pertengkaran akibat perbedaan pilihan politik.
Namun, penggunaan salam tiga jari yang kembali viral pada Oktober-November 2026 memiliki konteks berbeda.
Dalam aksi #IndonesiaSadar pada 28 Oktober 2026, simbol tersebut digunakan sebagai bentuk solidaritas terhadap aspirasi mahasiswa dan masyarakat sipil.
Gerakan itu membawa pesan kritik sosial yang dirangkum dalam slogan “Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan”.
Selain salam tiga jari, muncul pula penggunaan warna hijau, biru, dan merah yang ditampilkan dalam sejumlah aksi maupun panggung musik.
Warna hijau dikaitkan dengan hutan, biru dengan hewan, sedangkan merah mewakili rakyat. Pesan yang menyertainya adalah For the Forest, For the Animals, For the People.
Dengan demikian, salam tiga jari dalam fenomena terbaru ini tidak sekadar menjadi gaya berfoto atau mengikuti tren media sosial. Simbol tersebut digunakan untuk menunjukkan solidaritas terhadap persoalan publik, termasuk isu demokrasi, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.
Ziva Magnolya, Iwan Fals hingga Fiersa Besari Ikut Angkat Tiga Jari
Gelombang salam tiga jari semakin mendapat perhatian setelah sejumlah musisi membawanya ke atas panggung konser.
Salah satunya Ziva Magnolya. Penyanyi tersebut memperlihatkan gestur tiga jari saat menjadi bintang tamu dalam konser grup musik LANY di Indonesia Arena, Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.
Momen itu terjadi ketika Ziva berduet dengan vokalis LANY, Paul Klein, membawakan lagu Stuck. Gesturnya kemudian disambut penonton yang ikut mengangkat tiga jari.
Ziva juga mengunggah kembali potretnya dengan gestur tersebut melalui akun Threads pada 31 Oktober 2026. Ia menuliskan keterangan singkat, “Salam 3 jari!”
Tidak hanya Ziva, sejumlah musisi lain juga melakukan hal serupa.
Iwan Fals mengangkat salam tiga jari bersama penonton saat tampil dalam konser Menembus Awan Hijau. Fiersa Besari memperlihatkan simbol tersebut ketika manggung di Purwokerto, bahkan menampilkannya melalui layar LED panggung.
Mahalini juga mengangkat tiga jari ketika tampil di panggung dengan visual yang mengingatkan publik untuk terus bersuara mengenai karhutla.
Sementara itu, Pamungkas, Winky Wiryawan, Ghea Indrawari, Ghea Youbi, Keisya Levronka, Kunto Aji, Sal Priadi, Raim Laode, serta personel band .feast dan for Revenge turut terlihat menggunakan simbol tersebut dalam penampilan maupun unggahan media sosial.
IDN Times mencatat sedikitnya 15 musisi yang memperlihatkan salam tiga jari dalam berbagai kesempatan hingga awal November 2026.
Kehadiran para musisi tersebut membuat simbol yang sebelumnya banyak terlihat dalam demonstrasi semakin dikenal oleh masyarakat luas, terutama kalangan anak muda.
Bukan Sekadar Gaya, Simbol Ini Menjadi Bahasa Solidaritas
Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Radius Setiyawan, menjelaskan bahwa salam tiga jari dapat menjadi bahasa solidaritas yang melampaui batas negara.
Menurutnya, simbol visual memiliki kemampuan menyampaikan pesan tanpa harus bergantung pada bahasa lisan.
“Orang di negara berbeda bisa menggunakan gestur yang sama untuk menyuarakan kegelisahan dan perlawanan, meskipun konteks serta tuntutannya tidak selalu sama,” kata Radius, dikutip dari detikJatim, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Ia juga menjelaskan bahwa penyebaran simbol tersebut berkaitan dengan konsep Imagined Communities yang diperkenalkan Benedict Anderson.
Konsep ini menggambarkan bagaimana orang-orang yang tidak saling mengenal dapat merasa menjadi bagian dari komunitas yang sama melalui simbol, narasi, dan media.
Media sosial kemudian mempercepat penyebaran salam tiga jari. Foto, video, dan unggahan ulang membuat gestur tersebut mudah ditiru dan digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat.
Meski demikian, Radius mengingatkan bahwa viralnya sebuah simbol tidak otomatis membuktikan adanya koordinasi antarkelompok atau solidaritas yang berkelanjutan.
Makna dan dampaknya tetap perlu dilihat dari konteks penggunaan serta persoalan yang benar-benar diperjuangkan.
Pada akhirnya, salam tiga jari memperlihatkan bagaimana sebuah gestur sederhana dari cerita fiksi bisa berkembang menjadi bahasa sosial di dunia nyata. Di Indonesia, simbol itu kini kembali digunakan untuk menyampaikan pesan bahwa masyarakat memiliki kegelisahan dan aspirasi yang ingin didengar. (Am)
-
OLAHRAGA3 hari agoJelang Lawan PSIM, Mauro Jeronimo Ingatkan Borneo FC Waspadai Perubahan Lawan
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoSetelah Kemarau Panjang, Hujan Kembali Datang di Kaltim, Bagaimana Cuaca Hari Ini?
-
OLAHRAGA3 hari agoBorneo FC Diunggulkan atas PSIM, Tapi Misi Bangkit Tuan Rumah Bisa Jadi Ancaman
-
VIRAL3 hari agoKontroversi Raffi Ahmad dan Willie Salim Meluas, Artis Ikut Call Out hingga RANS Carnival Terdampak
-
OLAHRAGA4 hari agoBukan Sekadar Latihan, Ini yang Dimatangkan Borneo FC Sebelum Hadapi PSIM
-
OLAHRAGA3 hari agoDulu Akhir Pekan Identik Nongkrong, Sekarang Banyak Anak Muda Pilih Olahraga
-
NUSANTARA3 hari agoDari Konten ke Aksi Nyata, Kreator Kaltim Tanam 1.000 Pohon di Tahura Soeharto
-
VIRAL3 hari agoPolda Metro Minta Maaf, Raffi Klarifikasi, Peserta Deklarasi Sumpah Pemuda Akui Bukan Mahasiswa

