GAYA HIDUP
Bukan Sekadar Manis, Ini Alasan Kurma Jadi Menu Wajib Buka Puasa Sesuai Sunah Nabi
Mengapa kurma sangat dianjurkan untuk berbuka puasa? Simak penjelasan medis mengenai kandungan energi kurma dan nilai spiritualnya dalam Islam di sini.
Memasuki bulan Ramadan, pemandangan kotak-kotak kurma yang tersusun rapi di rak supermarket hingga pasar tradisional menjadi hal yang lazim ditemui. Buah mungil berwarna kecokelatan ini (Phoenix dactylifera) selalu menjadi primadona takjil bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Lebih dari sekadar rasanya yang manis dan legit, tradisi mengonsumsi kurma saat berbuka puasa memiliki akar sejarah yang kuat serta signifikansi religius karena merupakan sunah yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW.
Jejak Sejarah Pohon Peradaban
Kurma merupakan salah satu tanaman budidaya tertua di peradaban manusia. Praktik menanam pohon palem kurma tercatat telah dimulai sejak 6.000 tahun sebelum Masehi di wilayah Teluk Arab.
Tanaman ini dikenal memiliki daya tahan hidup yang luar biasa. Pohonnya mampu tumbuh subur di lingkungan ekstrem, dari terik panas gurun pasir hingga suhu dingin malam hari yang menusuk.
Ketahanan ini membuat kurma dapat tersebar luas. Menurut catatan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), terdapat sekitar 100 juta pohon kurma yang tersebar di 30 negara, menghasilkan 2,5 hingga 4 juta ton buah setiap tahunnya.
Asia memimpin dengan 60 juta pohon, disusul Afrika dengan 32,5 juta pohon. Arab Saudi sendiri diperkirakan memiliki sekitar 44 juta pohon kurma yang menjadi pilar ketahanan pangan nasional.
Uniknya, seluruh bagian pohon kurma bernilai ekonomis. Daunnya dapat dianyam menjadi keranjang atau tikar, batangnya digunakan sebagai pilar bangunan, seratnya diolah menjadi tali, bahkan bijinya bisa diekstrak menjadi bahan pembuat sabun.
Buah kurma yang dikeringkan juga memiliki masa simpan hingga bertahun-tahun, menjadikannya bekal perjalanan ideal bagi para musafir di masa lampau.
Sunah Nabi Muhammad SAW dalam Mengonsumsi Kurma
Dalam tradisi Islam, menjadikan kurma sebagai hidangan pertama saat berbuka puasa bernilai ibadah. Terdapat beberapa anjuran (sunah) terkait tata cara mengonsumsinya:
1. Berbuka Sebelum Menunaikan Salat
Berdasarkan hadis riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Anas bin Malik, Nabi Muhammad SAW terbiasa membatalkan puasanya dengan kurma basah (ruthab) sebelum melaksanakan salat Magrib.
Jika tidak tersedia, beliau memilih kurma kering (tamr), dan jika keduanya tidak ada, beliau mencukupkannya dengan beberapa teguk air putih.
2. Mengonsumsi dalam Jumlah Ganjil
Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk memakan kurma dalam hitungan ganjil, seperti tiga, lima, atau tujuh butir. Meski tidak ada larangan mutlak untuk mengonsumsinya dalam jumlah genap, memakan dalam jumlah ganjil dinilai lebih utama (afdal).
3. Keistimewaan Kurma Ajwa
Kurma Ajwa yang ditanam di Madinah mendapat tempat khusus dalam sejarah Islam. Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Majah dan riwayat dari Sa’ad bin Abi Waqqash, disebutkan bahwa mengonsumsi tujuh butir kurma Ajwa di pagi hari dipercaya dapat menjadi penangkal racun dan sihir.
Manfaat Medis di Balik Rasa Manis
Dari kacamata medis dan ilmu gizi, anjuran berbuka puasa dengan kurma sangat beralasan dan terbukti menyehatkan tubuh. Setelah lambung kosong selama kurang lebih 12 hingga 14 jam, sistem pencernaan membutuhkan makanan yang bertekstur lembut dan mudah dicerna.
Kurma memenuhi kriteria tersebut. Kandungan gula alami di dalamnya, yakni glukosa dan fruktosa, sangat mudah diserap tubuh. Proses penyerapan ini memberikan lonjakan energi instan, menstabilkan kadar gula darah yang turun drastis, serta memulihkan fungsi otak dan mengatasi rasa pusing akibat berpuasa.
Meski rasanya sangat manis, kurma memiliki Indeks Glikemik (IG) yang rendah hingga sedang. Artinya, pelepasan glukosa ke dalam darah terjadi secara bertahap sehingga tidak menyebabkan lonjakan insulin yang mendadak.
Kandungan gizi kurma juga sangat padat. Buah ini kaya akan serat yang melancarkan pencernaan, mencegah sembelit, serta mengandung kalium dan magnesium yang penting untuk menjaga keseimbangan elektrolit tubuh.
Kandungan antioksidan polifenol di dalamnya juga berperan aktif dalam melawan radikal bebas dan meredakan peradangan.
Perpaduan antara nilai ibadah, sejarah panjang, dan khasiat medis inilah yang membuat kurma tetap menjadi primadona yang tak tergantikan di setiap bulan suci Ramadan. (ens)
-
LIPUTAN KHUSUS2 hari agoRumah Lunas, SHM Tak Pernah Terbit: Kisah 35 Tahun Penantian Warga Perumahan Korpri Loa Bakung
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoHari Lahir Pancasila 2026, Kaltim Teguhkan Semangat Persatuan di Tengah Tantangan Zaman
-
SAMARINDA3 hari agoBelajar Pancasila dengan Cara Menyenangkan, Siswa Sekolah Rakyat Samarinda Ikut Lomba Desain hingga Kuis Kebangsaan
-
SEPUTAR KALTIM3 hari agoRameliani Bangga Jadi Pembaca UUD 1945 di Hari Lahir Pancasila, Ajak Pemuda Jaga Persatuan
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoKuasa Hukum Agus Hari Kusuma Nilai Tuntutan Jaksa dalam Kasus DBON Kaltim Tidak Berdasar Fakta Persidangan
-
PARIWARA2 hari agoGEAR ULTIMA Tembus Jalur Ekstrem Gunung Sinabung, Tetap Tangguh Meski Diguyur Hujan
-
SEPUTAR KALTIM2 hari agoKorupsi Dana DBON Kaltim Masuki Babak Akhir, Eks Kadispora Dituntut 3,5 Tahun dan Ketua Pelaksana 6 Tahun Penjara
-
OLAHRAGA21 jam agoMusorprov KONI Kaltim Tetapkan Calon Tunggal Ketua, KONI Pusat Ingatkan Bahaya Konflik Internal

