Connect with us

GAYA HIDUP

Desember ‘Satset’, Kenapa Waktu Terasa Meluncur Lebih Cepat dari Bulan Lain?

Published

on

Kamu merasa nggak, kalau bulan Desember ini terasa lebih cepat berlalu dibandingkan bulan lain. Terlebih bukan berikutnya sudah berganti tahun. Ada penjelasannya lho!

Bulan terakhir di tahun 2026 sudah berjalan separuh. Sadar atau tidak, kita sedang berada di tikungan terakhir menuju 2026. Di momen menjelang tutup tahun seperti sekarang, perasaan “baru kemarin” kita menyusun resolusi Januari mendadak muncul dengan rasa getir.

Rasanya, baru saja kita menarik napas di awal tahun, tiba-tiba saja kita sudah terpaksa bersiap meniup terompet pergantian tahun lagi.

Fenomena Desember yang terasa “satset” atau super cepat ini bukan sekadar perasaan kolektif. Ada penjelasan psikologis dan sains di balik kenapa waktu seolah-olah “bocor” dan meluncur tanpa rem di bulan ke-12 ini.

1. Fenomena ‘The Holiday Paradox’

Secara psikologis, persepsi waktu kita sangat dipengaruhi oleh jumlah memori dan rangsangan baru yang diproses otak. Pakar neurosains menyebutnya sebagai Holiday Paradox.

Ketika kita sedang sibuk mengejar target akhir tahun, menghadiri berbagai acara sosial, hingga menyiapkan rencana liburan, otak kita memproses informasi dalam jumlah besar secara simultan. Saat perhatian kita terpecah ke banyak hal, kita tidak sempat memproses durasi waktu secara detail. Hasilnya? Saat menjalaninya, waktu terasa meluncur begitu saja tanpa permisi.

2. Tekanan Psikologis “Garis Finish” 1 Januari

Secara budaya dan profesional, kita telah didoktrin bahwa tanggal 1 Januari adalah sebuah batas sakral atau garis finish. Hal ini menciptakan tekanan bawah sandar bahwa semua urusan: mulai dari laporan pekerjaan, resolusi kesehatan, hingga urusan personal yang menumpuk selama 11 bulan, harus tuntas sebelum angka tahun berganti.

Ritme hidup yang dipacu masuk ke mode high-speed ini memaksa otak bekerja secara autopilot. Ketika fokus kita hanya tertuju pada tujuan akhir (tahun baru), kita cenderung kehilangan kepekaan terhadap detak jam di masa sekarang.

3. Hilangnya Rutinitas yang Membosankan

Waktu biasanya terasa sangat lambat ketika kita melakukan hal yang monoton dan repetitif. Sebaliknya, Desember biasanya penuh dengan anomali rutinitas. Perubahan stimuli visual seperti dekorasi di ruang publik, musik yang berbeda, hingga agenda pertemuan yang padat, membuat otak merasa terus “terhibur”. Dalam kondisi otak yang terstimulasi secara intens, persepsi waktu memang cenderung akan berakselerasi.

Sudut Pandang Kritis: Sinyal ‘End-of-Year Burnout’

Jika kita melihatnya dengan kacamata yang lebih tajam, perasaan waktu yang berlalu terlalu cepat juga bisa menjadi indikator kelelahan mental.

Banyak orang memaksakan beban kerja setahun penuh untuk diselesaikan hanya dalam waktu tiga minggu demi bisa “libur dengan tenang”. Kecepatan waktu yang kita rasakan sebenarnya adalah sinyal bahwa kapasitas mental kita sedang ditekan hingga batas maksimal.

Di bulan Desember, sering kali kita tidak benar-benar “menjalani” waktu, kita hanya sedang “bertahan hidup” melewati tumpukan agenda.

Tips Biar Nggak “Ketinggalan Kereta” di Akhir Tahun:

  • Mindfulness Sejenak: Ambil waktu 5 menit tanpa ponsel di tengah hiruk-pikuk untuk sekadar sadar bahwa Anda sedang berada di momen sekarang.
  • Prioritas Kejam: Sadari bahwa dunia tidak akan berakhir jika beberapa agenda Anda bergeser ke bulan depan. Jangan jadikan 31 Desember sebagai beban hidup yang mustahil.
  • Terima Kenyataan: Desember memang didesain secara sosial untuk menjadi bulan yang paling sibuk. Nikmati saja ritmenya tanpa harus merasa bersalah jika ada rencana yang belum sempat tercentang hijau.

Sebetulnya, waktu tidak benar-benar bertambah cepat. Mungkin kitanya saja yang terlalu sibuk berlari sampai lupa menoleh ke arah jam. (ens)

Ikuti Berita lainnya di Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah Logo-Google-News-removebg-preview.png

Bagikan

POPULER

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Hello. Add your message here.